Retaknya Jembatan Canberra – Beijing

Retaknya Jembatan Canberra – Beijing

Oleh: Muh. Miftachun Niam / 08430008

Tidak banyak yang tahu bahwa diantara Canberra, Australia dengan Beijing, China ada sebuah jembatan panjang yang melintang melintasi Indonesia, Filipina dan Laut China Selatan. Jembatan yang menghubungkan kedua kota ini memiliki jarak ribuan bahkan puluhan ribuan kilometer dan memiliki usia yang sudah cukup tua. Jembatan ini telah dibangun sejak tahun 1788 – 1848, pada masa itu banyak orang China yang pergi ke Australia, baik untuk berdagang, menggali sumber daya alam hingga mencari tempat tinggal baru.

Dalam perkembangannya, semakin banyak orang China yang berlalu lalang menuju Australia. Pada tahun 1840-an Australia sempat mengalami kekurangan tenaga kerja dan banyak mengambil tenaga kerja dari luar negeri. Kondisi ini membuat banyak orang China yang pergi berbondong-bondong menuju ke Australia untuk ikut mengais rejeki.

Mereka bekerja sebagai gembala, tukang kebun, petani di Australia. Kebutuhan akan tenaga kerja dari China semakin meningkat karena pengembangan produksi sumber daya alam yang sedang digalakkan secara besar-besaran oleh Australia, penggunanya tidak terbatas oleh pihak swasta tetapi juga pemerintah Australia. Antara tahun 1848 – 1853, sekitar 3.000 orang China kembali didatangkan melalui jembatan Canberra – Beijing.

 

Suka Duka Jembatan Canberra – Beijing

Pada masa tersebut banyak terjadi kasus penyelundupan manusia, warga China korban perdagangan manusia dikirim ke Australia untuk bekerja secara ilegal. Pekerja ilegal ini banyak menghadapi masalah dan sering menjadi korban eksploitasi, tak jarang diantara mereka menjadi gila dan bermasalah hingga harus dikembalikan ke China. Jembatan Canberra – Beijing pula mulai melukis tentang kisah suka dan duka dari orang China.

Jembatan Canberra – Beijing kembali ramai ketika tahun 1853 – 1877 ditemukan ladang emas di Australia, tepatnya di New South Wales (NSW).[i] Namun jumlah orang China yang terlampau banyak di Australia mulai menimbulkan sejumlah masalah, beberapa negara bagian mulai menerapkan Undang-undang Anti China. UU ini mengundang banyak kericuhan di beberapa tempat, orang China yang tidak puas dengan kebijakan baru tersebut bentrok dengan buruh berkulit putih. Masalah baru terselesaikan ketika Australia membuat aturan yang membatasi jumlah warga China di sektor pertambangan, aturan ini dianggap memuaskan buruh China dan buruh kulit putih.

Warga China yang sudah terlajur tinggal di Australia dan tidak bisa pulang ke China akibat pembatasan itu mulai mencari akal dengan membangun usaha kecil seperti menjajakan makanan, berdagang skala kecil, bertani bahkan memancing ikan di sungai untuk memenuhi kecukupan hidup di Australia.

Keuletan dan kesabaran warga China dalam menekuni usaha banyak membuahkan hasil, ini dapat dilihat dari banyaknya usaha yang berawal dari toko kelontong berubah menjadi perusahaan ekspor impor. Warga China yang tinggal di Australia berperan besar dalam perekonomian disana.[ii]

Jembatan Canberra – Beijing mulai ramai kembali ketika meletusnya Perang Dunia Kedua dimana banyak pengungsi China yang melarikan diri ke Australia untuk menghindari penindasan Jepang. Para pengungsi inilah yang ikut mengobarkan semangat warga Australia agar berupaya sekuat mungkin membentengi diri dari kedatangan Jepang.

 

Kebijakan Australia Putih

Kekacauan akibat perang Dunia Kedua membuat jumlah pengungsi ke Australia meningkat dan berdampak pada kepadatan penduduk. Kondisi ini membuat Australia bersama dengan China dan beberapa negara Asia lainnya menandatangani kesepakatan Colombo Plan tentang pembatasan jumlah imigran ke Australia, Colombo Plan ini menjadi cikal bakal lahirnya kebijakan Australia Putih. Dampaknya adalah Jembatan Canberra – Beijing ditutup sementara.

Penutupan ini berlangsung antara tahun 1949 hingga 1972, setelah itu Kebiajakan Australia Putih pun dihapuskan dan Jembatan Canberra – Beijing kembali terbuka. Saat itu Jembatan Canberra – Beijing terlihat sangat kokoh karena pada tanggal 21 Desember 1972 kedua negara, Australia dan China resmi menjalin hubungan diplomatik .

Hubungan diplomatik tersebut dapat terjalin setelah Australia dibawah Pemerintah Withlam bersedia untuk menurunkan hubungan diplomatiknya dengan Taiwan. Penurunan hubungan diplomatik dengan Taiwan dilakukan atas dasar Kebijakan Satu China. Jembatan Canberra – Beijing sempat mengalami keretakan ketika pada tahun 1989 terjadi Tragedi Tianamen di China.[iii]

 

Perekonomian China

Jembatan Canberra – Beijing kembali terlihat kuat ketika China dipimpin oleh Deng Xiaoping yang banyak membawa perubahan terutama di bidang ekonomi. Reformasi ekonomi China yang dilakukan oleh Deng Xiaoping membuat Jembatan Canberra – Beijing semakin ramai. Modernisasi ekonomi, infrastruktur dan energi di China membuat negara itu seperti naga yang sedang kelaparan. Jembatan Canberra – Beijing menjadi padat oleh lalu lalang arus barang dan perdagangan antara Australia dengan China.[iv]

Australia termasuk negara yang beruntung karena disaat negara lain mengalami krisis global tahun 2008 dan 2011, Australia tetap tegak berdiri karena menjalin hubungan baik dengan China. Hubungan dagang yang terjalin antara China daratan dengan China keturunan Australia telah menguatkan fondasi perekonomian diantara keduanya. Permintaan yang besar dan stimulus fiskal jangka panjang dari China membuat Australia tetap berdiri tegak.[v]

China menjadi mitra dagang terbesar Australia, tingginya permintaan bijih besi, batu bara dan gas alam cair dari China membuat nilai perdagangannya selalu mengalami peningkatan.[vi] Ekspor ke China membuat Australia terhindar dari dampak buruk krisis global yang telah berlangsung dua tahun terakhir. Banyak perusahaan pertambangan Australia sangat tergantung pada China, sebut saja Fortescue Metals Group, Rio Tinto, BHP Biliton dan Xstrata.[vii]

Perdagangan bilateral antara kedua negara mencapai $A 105 Miliar pada tahun 2010/2011. Ekspor Australia ke China mencapai $A 64,8 miliar, sebaliknya ekspor China ke Australia mencapai $A 41,1 miliar pada periode yang sama. Australia mengalami surplus besar dalam perdagangan ini. Kuatnya hubungan ini membuat Jembatan Canberra – Beijing terlihat sangat megah.[viii]

 

Jembatan Canberra – Beijing Goyah

Namun dengan ukuran yang sangat besar, Jembatan Canberra – Beijing membutuhkan perawatan yang sangat rutin. Jembatan ini sempat mengalami beberapa kali guncangan dahsyat saat Australia tengah dipimpin oleh John Howard, PM Australia ini sempat menimbulkan kontroversi dengan menunjukkan sikap enggan untuk menjalin hubungan politik dan militer yang lebih erat.

Guncangan semakin dahsyat ketika G. W. Bush, Presiden Amesika Serikat menjuluki Australia sebagai “Wakil Amerika”. Kondisi ini membuat China sedikit meradang dan membuat Jembatan Canberra – Beijing goyah. Goncangan paling dahsyat terjadi ketika pada tanggal 15 Juni 2007, PM John Howard menerima kunjungan dari Dalai Lama. Kunjungan itu membuat China langsung mengajukan nota protes dan mengancam kestabilan Jembatan Canberra – Beijing.[ix]

Untunglah, kondisi yang sedemikian parah itu dapat diperbaiki oleh PM baru Australia, Kevin Rudd.[x] Ia menjadi PM australia pertama yang bisa berbahasa mandarin sehingga dapat menjadi pengerat hubungan antara China dan Australia, selain itu Kevin Rudd juga terkenal dengan konsep “tiga pilar” yang semakin menguatkan kerangka Jembatan Canberra – Beijing.[xi]

Selama kepemimpinan Kevin Rudd, gesekan antara Australia dengan China sempat beberapa kali terjadi diantaranya kasus penangkapan Stern Hu, eksekutif pertambangan Australia di China, kasus spionase Rio Tinto, dan kasus pemberian visa masuk Australia kepada Rebiya Kadeer. Semuanya dapat diselesaikan secara dingin, Kevin Rudd selalu berinisiatif mengingatkan China akan kerjasama ekonomi yang telah dijalin dengan baik hingga saat ini. Kevin Rudd juga mengingatkan bahwa Australia dan China memiliki suatu kepentingan ekonomi yang signifikan dan merupakan mitra komersial.

Hubungan semakin membaik ketika pada tanggal 19 Agustus 2009, Perusahaan minyak China, PetroChina menandatangani perjanjian dengan Exxon Mobil untuk pembelian gas alam cair dari lapangan Gorgon di Australia Barat. Perjanjian tersebut memiliki nilai sebesar $A 50 miliar, sebuah kontrak paling besar yang pernah ditandatangani oleh Australia dan China. [xii]

Jembatan Canberra – Beijing semakin menguat ketika Australia dipimpin oleh Julia Gillard. Gillard tetap mempertahankan hubungan baik dengan China di bidang ekonomi melalui perjanjian eksplorasi energi bersih dan memastikan Australia sebagai pemasok utamanya. Selain itu, Australia dibawah Gillard juga aktif terlibat dalam kerjasama positif dan konstruktif di China. [xiii]

 

China – Amerika Serikat

Akan tetapi pada saat yang bersamaan, pemerintah Gillard juga menjalin kerjasama yang sangat baik dengan Amerika Serikat, bahkan Gillard juga bersedia menjadikan Australia sebagai pangkalan militer Amerika Serikat. keadaan ini mengguncang Jembatan Canberra – Beijing yang sudah sedikit rapuh karena usianya yang tua dan penuh dengan guncangan serta badai. China menjadi ragu dengan Australia akan hubungannya selama ini.[xiv]

China curiga bahwa pangkalan militer AS di Australia akan menjadi sebuah pengejawantahan kekuatan AS di Asia dan bukan tidak mungkin pangkalan militer itu akan digunakan untuk mengganggu posisi China di Asia selama ini. Australia beralasan bahwa pembangunan pangkalan militer AS itu hanyalah suatu bentuk kerjasama militer antara Australia, Amerika Serikat dan Selandia Baru (ANZUS) yang telah dibangun sejak tahun 1951.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa selama ini China dan Amerika Serikat sedang memendam benih konfrontasi, China yang keras kepala tidak pernah bisa akur dengan Amerika Serikat yang sok tahu dan selalu ingin ikut campur rumah tangga orang. Amerika Serikat sering ikut campur dalam urusan Taiwan, Laut China Selatan dan masalah Korea, dimana semua kasus tersebut melibatkan China. China selama ini berharap Australia akan menjadi pihak netral dalam setiap sengketa antara China dan Amerika Serikat.[xv]

Harapan itu sempat terwujud ketika pada tahun 2004, Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer melakukan kunjungan ke Beijing dan menegaskan kenetralannya. Saat itu dikatakan bahwa perjanjian ANZUS hanya berlaku ketika Australia dan Amerika Serikat diserang secara langsung. Namun jika peristiwa itu terjadi di tempat lain, tidak ada kewajiban untuk membantu.

Saat itu pernyataan ditujukan untuk mempertegas alasan mundurnya Australia dari Perang Irak, secara eksplisit pernyataan tersebut juga digunakan untuk mempertegas posisi Australia yang tidak akan ambil bagian dalam konflik antara Amerika Serikat dengan China dalam kasus Taiwan. [xvi]

Pada tahun 2005, Australia juga menegaskan bahwa stabilitas regional dapat terganggu jika Australia dipaksa untuk ikut terseret dalam konflik antara Amerika Serikat dengan China. Australia seolah menjadi gadis cantik yang diperebutkan oleh dua lelaki, China banyak membantu dengan ekonomi, sedangkan Amerika Serikat membantu masalah politik dan militer.

Akhirnya Australia memang tidak bisa untuk tetap netral dan tidak memilih diantara keduanya. Australia menerima kerjasama ekonomi dari China dengan tangan terbuka, namun juga menerima kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat dengan senyum hangat.[xvii] Lantas dimana posisi Australia? Entahlah, pastinya China sedang meradang, kondisinya panas dingin dan cemburu melihat kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat disana.

 

Kemungkinan Terburuk

Kemungkinan pertama adalah China meningkatkan kerjasama ekonominya dengan Australia dan membuat ketergantungan ekspor Australia terhadap China semakin tinggi. Strategi ini sangat efektif jika melihat kondisi Amerika Serikat yang sudah mulai jatuh miskin dan banyak hutang, Amerika Serikat sudah tidak segagah dan setampan yang dulu.

Akan tetapi kemungkinan terburuknya adalah China marah dan terjadi konfrontasi di Asia Pasifik yang ikut menyeret Australia. Pertempuran antara China dengan Amerika Serikat akan menjadi sangat dahsyat dan kita tidak akan pernah tahu apa dampaknya pada Australia.[xviii] Satu hal yang pasti, Jembatan Canberra – Beijing yang telah berusia ratusan itu akan runtuh akibat konfrontasi itu. Runtuhnya Jembatan Canberra – Beijing jauh lebih dahsyat dibanding dengan Jembatan Kutai Kertanegara, jumlah korbannya juga tidak dapat diprediksi. Bisa ribuan, puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu jiwa.

Negara sekitar seperti Indonesiadapat ikut terkena imbasnya, runtuhan puing-puing jembatan itu akan menimpa Jakarta, Manila, Kuala Lumpur dan kota besar lainnya. Apa yang akan terjadi? Masih susah untuk diprediksi tapi retaknya Jembatan Canberra – Beijing sudah dimulai dari sekarang.

Referensi:


[i] Wu, C. Let Us Work to Bolster Sino – Australian Ties. 13 April 2006. China Daily. Hlm. 4-4

[ii] Fawcett, dkk. Pasific Bridges: The New Immigration From Asia and The Pasific Islands. 1987. New York: Centre for Migration Studies. Hlm. 176.

[iii] Gao, J. Organized International Asylum Seeker Networks: Formation and Utilization by Chinese Students. 2006. The International Migration Review. Hlm. 294.

[iv] Jurnal Engineering and Mining. Sino – Australian Relations. 2011. Engineering and Mining Journal. Hlm. 64.

[v] Rick Wallace. Japanese Investment in Australia Slips Under the Radar. 8 April 2010. The Australian.

[vi] Damon Kitney. Foreign Investment Must Be Win-Win: Gary Gray. 26 Oktober 2011. The Australian.

[vii] John Brumby. Chinese Investment an Opportunity, Not a Threat. 16 Agustus 2009. The Australian.

[viii] Andrew Burrell. Barnetts Mixed Signals on Chinese Investment. 30 September 2011. The Australian.

[ix] Hong Kong Paper. China – US Rivalry Raising Tensions in Region. 30 September 2010. BBC Monitoring Asia Pasific.

[x] China, Australia Hold Strategic Meeting. 5 Februari 2008. The Age.

[xi] Kevin Rudd. Australia and China: A Stong and Stable Partnership for the 21st Century. 6 Juli 2004. Kedutaan Besar China.

[xii] Babs Machugh. Massive Sale From Gorgon Gas Project. 19 Agustus 2009. ABC.

[xiii] David Mc Lennan. Australia to be a Global Supplier of Clean Energy. 20 Agustus 2009. The Canberra Times.

[xiv] Ben Packham. China Reproaches Australia Over Strengthened US Defences Ties. 17 November 2011. The Australian.

[xv] What it Bluff and Bluster Turn to Biff?. 10 Maret 2000. The Australian.

[xvi]Downer Assures China on Taiwan. 18 Agustus 2004. The Australian.

[xvii] Between Giants. 19 Maret 2005. The Australian.

[xviii] Flashpoint for a War. 14 Juli 2004. The Sydney Morning Herald.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: