Perang Kongo Pertama

Awal Kejatuhan Zaire

Banyak pihak yang menyebut Perang Kongo ini termasuk Perang Dunia Ketiga yang terjadi di kawasan Afrika. Perang yang berawal dari sebuah negara bernama Zaire tanpa sengaja telah menyeret berbagai negara Afrika lainnya untuk ikut terlibat dalam peperangan ini.

Perang ini sebenarnya bermula dari negara yang bernama Zaire. Pada tahun 1996, Zaire mengalami goncangan politik yang sangat dahsyat karena kepala negaranya yang bernama Mobutu mulai kehilangan legitimasi di mata rakyatnya. Mobutu yang berstatus sebagai Perdana Menteri ini telah memimpin Zaire sejak tahun 1965.

Pada awal kepemimpinannya, Mobutu memiliki kiprah politik yang sangat baik, ia dikenal sebagai sosok pemuda yang sangat cerdas, memiliki semangat yang tinggi dan berpotensi menjadi pemimpin besar Zaire. Kepemimpinannya di Zaire saat itu didukung oleh berbagai negara barat, termasuk Amerika Serikat.

Sayang, pada perkembangannya Mobutu mulai menunjukkan sikap yang otoriter dan banyak membuat kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Zaire yang pernah maju saat awal kepemimpinannya berubah menjadi stagnan dan cenderung mengalami kemunduran. Angka PDB Zaire semakin mengalami kemerosotan dan banyak meresahkan masyarakat.

Amerika Serikat yang pernah menjadi sekutunya pun mulai menyerukan perlu adanya “generasi baru pemimpin Afrika”. Pendapat ini juga didukung oleh pemimpin Rwanda, Kagame dan pemimpin Uganda, Museveni. Desakan ini membuat Mobutu berjanji untuk melakuka reformasi di Zaire, sistem partai tunggal yang ada di Zaire pun dihapuskan dan rakyat diijinkan untuk mendirikan partai sendiri, Zaire mulai menganut sistem multipartai.

Akan tetapi kondisi ekonomi tidak juga semakin membaik, negara Zaire seolah tidak ada dan tidak dapat memberikan pertolongan bagi rakyatnya. Hampir semua rakyat Zaire bekerja di sektor informal karena sektor formal tidak dapat memberikan jaminan apapun kepada mereka. Parahnya lagi, Tentara Nasional Zaire, Forces Armees Zairoises sering melakukan penyerangan ke rumah warga dan melakukan perampokan. Kondisi ini terjadi karena para tentara sering tidak menerima gaji dar pemerintah, Mobutu sendiri pernah mengatakan bahwa Tentara Zaire sudah diberi senjata oleh Pemerintah jadi untuk apa mereka harus digaji? Seharusnya mereka dapat mempertahankan hidup sendiri.

Tentara yang seharusnya menjadi pelindung negara berubah menjadi pagar makan tanaman. Zaire mengalami perpecahan dari dalam negeri, rakyat mulai membenci Mobutu yang dianggap sudah tidak mampu lagi untuk mengurus Zaire, pemberontakan pun mulai terjadi dimana-mana. Lemahnya kekuatan pusat membuat Zaire tidak mampu berbuat apapun menghadapi pemberontakan.

 

Konflik Hutu – Tutsi

Lemahnya kekuatan pusat juga membuat Zaire tidak mampu untuk mengontrol wilayah perbatasan, padahal saat itu sedang terjadi konflik di Rwanda yang terletak di sebelah timur Zaire. Konflik Rwanda ini ternyata berimbas hingga ke Zaire dan menambah parah gejolak di Zaire.

Konflik bermula ketika Rwanda didominasi oleh etnis Hutu, sebagaimana kita ketahui di Afrika telah terjadi konflik antara Hutu dengan Tutsi selama berabad-abad. Jika ada negara yang dikuasai oleh suku Hutu biasanya akan menindas suku Tutsi, begitu pula dengan sebaliknya.

Pertarungan antara Hutu Tutsi ini juga terjadi di Rwanda. Pada tahun 1994, Patriot Bersenjata Rwanda (RPA) yang didominasi oleh suku Hutu menyerang Angkatan Bersenjata Rwanda (RAF) yang didominasi oleh suku Tutsi. Serangan tersebut membuat RAF terdesak dan mundur hingga ke Zaire, melihat RAF terdesak, RPA semakin melancarkan serangannya ke warga sipil Rwanda yang berasal dari suku Tutsi.

Genosida terhadap warga Tutsi ini membuat banyak warga Tutsi-Rwanda yang melarikan diri ke Zaire dan membuat pengungsian disana. Pada perkembangan selanjutnya, RAF berhasil membalas RPA dan kembali menguasai Rwanda. Dengan berkuasanya RAF di Rwanda ini, sebenarnya warga Tutsi sudah aman untuk tinggal di Rwanda namun mereka masih enggan karena trauma akan genosida yang pernah dialami dan takut adanya serangan balik atau aksi balas dendam dari suku Hutu yang masih ada disana. Para warga Tutsi-Rwanda dan sebagian pasukan RAF ini memilih untuk tinggal di perbatasan Zaire.

Pemerintah Zaire yang saat itu masih dipimpin oleh Mobutu tidak dapat menindak warga Rwanda yang masih tinggal di kawasan Zaire karena minimnya kekuatan yang dimiliki. Masalahnya adalah warga Tutsi-Rwanda dan pasukan ARF ini ternyata menjalin hubungan baik dengan para pemberontak Zaire.

Mereka merasa berhutang budi terhadap para pemberontak Zaire yang telah melindungi dari serangan Hutu. Kedua kelompok ini akhirnya bekerjasama untuk menggalang kekuatan dengan nama Aliansi Pasukan Demokratik untuk Pembebasan Kongo (AFDL) yang dipimpin oleh Laurent-Desire Kabila.

Tujuan utama dari AFDL ini adalah menggulingkan pemerintahan Mobutu yang dianggap sudah tidak efektif dan cenderung menindas rakyat Zaire. Aliansi ini menarik banyak pihak untuk bergabung, banyak Tentara Nasional Zaire yang memilih untuk desersi dan bergabung dengan AFDL.

Melihat AFDL sudah mulai merekrut suku Tutsi-Rwanda dan AFR, Mobutu tak mau kalah dan merekrut Interahamwe, suku Hutu-Rwanda yang juga mengungsi akibat pertempuran antara Hutu-Tutsi di Rwanda yang lalu. Pertempuran yang awalnya hanya antara pemerintah dan pemberontak berubah menjadi antar etnis karena keduanya memanfaatkan isu kesukuan.

 

Pihak yang Terlibat dalam Perang Kongo

Perang antar suku ini secara otomatis langsung menyeret negara sekitarnya yang juga mengalami masalah konflik Hutu-Tutsi seperti Rwanda, Uganda, Burundi, dan Angola. Presiden Rwanda, Paul Kagame yang berasal dari suku Tutsi langsung memberikan bantuan kepada AFDL untuk menggulingka Mobutu.

Rwanda begitu aktif terlibat dalam perang ini, tidak pernah ada alasan yang jelas mengapa Rwanda begitu aktif terlibat dalam penggulingan Mobutu. Menurut versi resmi Pemerintah Rwanda, keterlibatan dalam konflik tersebut disebabkan karena masalah keamanan. Mereka memandang konflik di Zaire sebagai ancaman bagi kestabilan bagi Rwanda itus sendiri.

Paul Kagame juga mengatakan bahwa hasil intelijen Rwanda menyebutkan bahwa Mobutu memiliki rencana untuk melakuka penyerangan ke Rwanda. Namun apapun alasannya, tindakan Kagame untuk mendukung AFDL menggulingkan Mobutu didukung oleh banyak negara karena Mobutu memang sudah tidak disukai oleh negara tetangganya.intervensi Rwanda di Zaire yang sudah terlalu jauh ini juga didukung secara diam-diam oleh pihak Internasional.

Negara lain yang juga terlibat dalam perang ini adalah Uganda. Keterlibatan Uganda dalam perang ini lebih banyak disebabkan oleh hubungan baik antara Rwanda dengan Uganda. Hubungan baik ini terjalin karena Rwanda pernah bekerjasama dengan Presiden Uganda, Musevini ketika menggulingkan Pemimpin Uganda sebelumnya, Idi Amin Dada. Intelijen Belgia dan Perancis melaporkan adanya sekitar 15.000 pasukan Tutsi-Uganda yang dikirim ke Zaire untuk ikut membantu AFDL dan Rwanda dalam menggulingkan Mubata.

Negara selanjutnya yang membela AFDL adalah Angola. Negara ini memiliki sejarah kelam dengan Mobutu karena dia pernah membantu UNITA, sebuah kelompok yang ingin memerdekakan diri dari Angola. Dalam perang ini Angola tidak terlibat langsung dalam pertempuran tetapi hanya membantu melatih para tentara Zaire yang desersi dari kesatuannya. Angola melatih dan mempersenjatai mereka dan mengirimkan mereka kembali ke Zaire untuk membantu menggulingkan Mobutu.

Luanda juga membantu dengan mengerahkan pasukan reguler ke Zaire. Pihak lain yang ikut berperan dalam membantu pemberontakan ini adalah Burundi yang kebetulan dipimpin oleh pemerintahan yang pro-Tutsi, Zambia dan Zimbabwe juga memberikan dukungan militer kepada pemberontak. Demikian pula dengan Eritrea, Ethiopia dan Sudan Selatan yang mendukung pemberontakan melalui bantuan moral dan sumbangan dana.

Sementara itu pihak Mobutu dalam kondisi yang terjepit, Mobutu hanya mendapat bantuan dari UNITA. Pasukan UNITA banyak membantu Tentara Nasional Zaire dalam melakukan perlawanan terhadap pemberontak. Selain dari UNITA, Mobutu juga mendapat bantuan dari Sudan yang sejak awal memang sudah memiliki hubungan baik dengan Mobutu. Dia dikabarkan banyak menyewa tentara bayaran dari Afrika dan Eropa, akan tetapi jumlahnya terlalu sedikit sehingga tidak mampu untuk melakukan perlawanan terhadap pasukan AFDL yang didukung oleh berbagai negara.

 

Kondisi Pasca Perang

Perang yang terjadi memakan jumlah korban yang tak terhingga dengan tingkat kekejaman yang sangat luar biasa. Selama perang berlangsung, masyarakat internasional sudah berkali-kali mencoba untuk menawarkan upaya negosiasi penyelesaian, namun tidak pernah ada tanggapan serius dari AFDL. AFDL sudah berjanji akan menempuh jalur negosiasi, tapi hingga perang berakhir janji tersebut tidak pernah terwujud.

Pasukan Mobutu yang telah lemah sejak awal menjadi tidak berdaya ketika bertempur dengan AFDL. Mereka tidak mampu menghadapi perlawanan serius dari AFDL yang dibantu oleh kekuatan asing. Mobutu sendiri langsung melarikan diri ke Maroko, perang pun dimenangi oleh AFDL.

Pada taggal 7 Desember 1997, Laurent Desire Kabila langsung memplokamirkan dirinya sebagai Presiden baru dan mengubah nama Zaire menjadi Republik Demokratik Kongo dan langsung melakukan penertiban di negaranya. Perang pun berhenti, pada hari yang sama Mobutu dilaporka meninggal dunia di tempat pengasingannya di Maroko.

 

Dibawah Kepemimpinan Kabila

Kabila menjadi pemimpin baru di sebuah negara yang kini bernama Republik Demokratik Kongo (RDK). Sayangnya kepemimpinan Kabila tidak terlalu jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, ia gagal mengatasi kondisi negara yang terus melemah dan korup. Ia justru mengubah Kongo menjadi lebih tersentralisasi, jauh lebih parah dari sebelumnya.

Minoritas semakin tidak mendapat tempat di negara tersebut. Parahnya lagi, Kabila justru membuat masalah dengan negara-negara yang pernah menjadi sekutunya saat menggulingkan Mobutu. Negara-negara sekutu menjadi marah dan semakin memuncak ketika Kabila menerapkan kebijakan pengusiran terhadap semua tentara asing dari Kongo pada tanggal 26 Juli 1998.

Negara-negara sekutu tersebut menjadi berbalik arah dan mulai merencanakan penggulingan terhadap Kabila. Pada awal bulan Agustus 1998, dua brigade Kongo melakukan pemberontakan terhadap Kabila. Tindakan ini didukung oleh Rwanda dan Uganda, mereka mulai melatih kembali pasukan pemberontak yang ingin menggulingkan Kabila. Perang Kongo Kedua dimulai..

 

Daftar Pustaka

Gondila, Ch. Didier. The History of Congo. Westport: Greenwood Press. 2002.

Gribin, Robert E. In The Aftermath of Genocide: The U.S. Role in Rwanda. New York: Iuniverse. 2005

Kennes, Erik. The Democratix Republic of the Congo: Structures of Greed, Networks of Need. Rethinking th Economics of War. Ed. Cynthia J. Arnson and I. William Zartman. Washington D.C: Woodrow Wilson Center. 2005.

Michela Wrong. In the Footsteps of Mr Kurtz: Living on the Brink of Disasters in Mobutu’s Congo.

Reyntjens, Filip. The Great African War: Congo and Regional Geopolitics, 1996-2006. Cambridge: Cambridge UP. 2009.

Vlassenroot, Koen. Conflict & Malitia Formation in Eastern Congo. Ed. Preben Kaarsholm. Violence, Culture & Development in Africa. Athens: Ohio UP. 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: