Perang Kongo Kedua

Sekilas Perang Kongo Pertama

Presiden Zaire, Mobutu mulai kehilangan legitimasinya karena sikap dan kebijakannya yang cenderung otoriter sehingga membuat rakyatnya melakukan pemberontakan. Kondisi ini diperparah oleh genosida yang terjadi di Rwanda dan mengakibatkan banyak pengungsi yang bermigrasi ke Zaire.

Genosida yang berlatar belakang konflik etnis ini dengan segera berimbas ke Zaire. Negara ini ikut terseret dalam peperangan yang mengatasnamakan etnis, peta pertempuran pun berubah dari masalah pemberontakan menjadi konflik etnis. Konflik ini berkembang dengan sangat cepat dan menyeret berbagai negara tetangga untuk ikut bertempur di Zaire.

Rwanda, Uganda, Angola dan Burundi bergabung ke pihak pemberontak untuk membantu menggulingkan Mobutu. Bantuan yang diberikan oleh berbagai negara ini dilandasi oleh sikap kesamaan etnis, Mobutu pun tak mau kalah dan ikut menarik etnis lainnya untuk bergabung ke pihaknya.

Pertempuran berlangsung dengan sangat dahsyat dan diwarnai dengan berbagai kekejaman, setelah memakan waktu hampir satu tahun, perang ini akhirnya dimenangi oleh pihak pemberontak. Pihak pemberontak mengangkat Jose Laurent Kabila untuk menjadi Presiden yang baru menggantikan Mobutu yag telah melarikan diri ke Maroko. Negara yang sebelumnya bernama Zaire ini pun diubah menjadi Republik Demokratik Kongo.

Sebagai bentuk terima kasih kepada negara yang telah membantu dalam pemberontakan ini, Kabila mengangkat beberapa pejabat dari negara sekutu tersebut untuk duduk di kursi pemerintahan. Tentara dari negara sekutu pun masih dipertahankan untuk membantu menjaga stabilitas di RDK. Akan tetapi kehadiran pasukan asing ini justru menimbulkan masalah baru.

 

Kabila Kehilangan Sekutu

Setelah Kabila berhasil menduduki kursi nomor satu di Republik Demokratik Kongo (RDK), ia seperti mulai kehilangan arah dalam pembuatan kebijakan. Kabila menjadi sasaran kritikan karena pasukan dari negara asing seperti Rwanda, Uganda dan beberapa negara lainnya masih bebas berkeliaran di RDK. Negara ini pun seperti tidak lagi memiliki kedaulatan.

Kritikan lainnya adalah sikap Kabila yang mudah diintervensi oleh negara-negara sekutu yang pernah membantunya, Kabila dianggap seperti boneka asing. Hal ini dapat terlihat dari adanya beberapa warga asing (Rwanda) yang menduduki pos-pos penting dalam pemerintahan.

Kritikan ini membuat Kabila sedikit panas dan memutuskan untuk mulai mengurangi dominasi asing dengan mengusir pasukan asing dari RDK. Langkah selanjutnya adalah dengan mengurangi jumlah pejabat yang berasal dari luar RDK. Akan tetapi tindakan ini ternyata menimbulkan masalah baru karena banyak negara sekutu yang tersinggung terhadap keputusan ini.

Konflik dengan negara sekutu ini memuncak ketika pada tanggal 14 Juli 1998, Kabila memberhentikan seorang kepala staf yang berasal dari Rwanda, James Kabarebe dan menggantikannya dengan orang asli RDK, Celestin Kifwa. Penggantian ini memunculkan protes dari pihak Rwanda dan mengancam hubungan baik kedua negara. Untuk meredam ketegangan ini, Kabila menempatkan James Kabarebe ke posisi lain, yakni Penasehat Militer.

Keputusan ini membuat kritikan dari dalam negeri semakin menguat, banyak masyarakat RDK yang meminta Kabila menunjukkan keseriusannya dalam mengurangi dominasi asing. Kabila mencoba untuk memenuhi tuntutan rakyatnya melalui jalur diplomatik. Dia mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh Rwanda dan Uganda tetapi ia juga meminta agar Rwanda bersedia untuk memahami kondisi dalam negeri RDK dan menarik mundur semua pasukan Rwanda dan Uganda dari seluruh wilayah RDK.

Dalam waktu 24 jam, semua pasukan asing dan penasehat militer Rwanda yang bertugas di RDK dipulangkan ke negara asalnya. Kondisi ini ternyata justru menimbulkan masalah baru, kekosongan pasukan menimbulkan kekacauan sosial di RDK. Warga Tutsi yang sebelumnya merasa terlindungi oleh kehadiran pasukan asing menjadi cemas akibat kepergian tersebut. Ketegangan antar kelompok etnis kembali mencuat dan berubah menjadi konflik terbuka.

 

Pertempuran 1998-1999

Ketakutan warga Tutsi ternyata menjadi kenyataan, di berbagai daerah RDK mulai muncul pertempuran antara etnis Tutsi melawan Hutu. Tidak jelas siapa yang memulai, yang jelas pertempuran tersebut membuat warga Tutsi di RDK menjadi sangat tersudut. Apalagi di beberapa radio nasional mulai muncul seruan kepada warga sipil untuk melakukan penyerangan kepada Tutsi.

Kondisi tersebut langsung direspon oleh Rwanda untuk kembali ke RDK dan membantu warga Tutsi. Tidak hanya Rwanda, Uganda dan Burundi juga ikut serta membantu warga Tutsi dan membentuk sebuah kelompok bernama Rally for Congolese Democracy (RCD). Rwanda, Uganda dan Burundi yang sebelumnya menjadi sekutu Kabila menjadi berbalik arah.

RCD ini langsung melakukan pertempuran melawan Kabila, pemerintah RDK. Kabila yang sebelumnya bersekutu dengan Tutsi, berbalik untuk bersekutu dengan Hutu. Kabila dan para militan Hutu membuat opini publik yang negatif terhadap etnis Tutsi, mereka juga menyerukan pembantaian terhadap etnis Tutsi. Akibatnya, banyak warga sipil Tutsi yang tidak berdosa dan tidak terlibat dalam pertempuran ini menjadi korban dan digantung di jalanan.

Rwanda, Uganda dan Burundi semakin meningkatkan kekuatannya di RDK. Mereka menuduh Kabila mengorganisir tindakan genosida terhadap saudara-saudara mereka, Tutsi. UNITA juga turut serta bergabung dengan kelompok ini. Bergabungnya UNITA dalam peperangan ini membuat Angola tersinggung dan marah. Angola ikut terseret dalam pertempuran ini dan memihak kepada Kabila, keterlibatan Angola dalam pertempuran ini bukanlah karena alasan Tutsi atau Hutu tetapi lebih kepada wujud perlawanan terhadap UNITA.

Kelompok pemberontak membuat sebuah kelompok baru berupa Gerakan Pembebasan untuk Kongo (Movement for the Liberation of Congo/MLC). RDK kembali jatuh dalam perang sipil yang begitu dahsyat dan melibatkan banyak pihak. Masyarakat internasional sudah berkali-kali menawarkan alternatif negosiasi, namun tawaran tersebut sama sekali tidak dipedulikan.

Konflik juga ikut menyeret negara anggota Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (Southern African Development Country/SADC) karena RDK termasuk komunitas tersebut dan terikat dalam perjanjian pertahanan bersama. Banyak negara anggota SADC yang kemudian ikut dalam peperangan itu diantaranya Namibia, Zimbabwe, Angola, Chad, Libya dan Sudan. Perang Kongo Kedua ini berubah menjadi Perang Dunia Baru di kawasan Afrika.

Kondisi yang sudah sedemikian parah ini berusaha diredam oleh Nelson Mandela dengan mengadakan pertemuan di Windhoek, Namibia untuk membahas masalah perdamaian. Pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 1999 ini berhasil membuat kesepakatan bahwa Rwanda, Uganda, Angola, Namibia dan Zimbabwe sepakat untuk mengadakan gencatan senjata. Kesepakatan ini tidak dapat bertahan lama karena pihak pemberontak, RCD merasa dilangkahi dan tidak diundang dalam perundingan tersebut. RCD melanjutkan pemberontakannya dan perjanjian gencatan senjata pun gagal.

Di luar negara Afrika, banyak negara yang tetap netral dan menyerukan agar peperangan ini segera dihentikan. Akan tetapi tidak sedikit pula yang memanfaatkan perang ini sebagai peluang ekonomi, berbagai perusahaan barat yang bergerak di bidang pertambangan dan berlian (terutama Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Jepang) sengaja meniup api konflik agar usaha ilegal mereka disana tidak diketahui banyak pihak.

Kepentingan ini ternyata juga dimiliki oleh negara Afrika yang terlibat dalam pertempuran tersebut. Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe dan Presiden Namibia, Sam Nujoma dikabarkan sangat aktif dalam peperangan ini karena keluarga mereka memiliki perusahaan pertambangan yang sangat besar di RDK.

 

Perang dalam Perang (1999-2000)

Memasuki tahun 1999, pihak pemberontak mulai mengalami perpecahan dan tidak jarang menimbulkan konfrontasi antar sesama pemberontak. Hal ini disebabkan karena perbedaan orientasi ditubuh pemberontak, ada pemberontak yang sangat dekat dengan Uganda, ada pula yang sangat dekat dengan Rwanda dan berbagai jenis lainnya.

Kelompok pemberontak yang dikenal dengan nama RCD ini terbelah menjadi beberapa bagian meliputi: RCD-Authentique, RCD-Goma, RCD-Congo, RCD-National, RCD-Originel, RCD-Kisangani, RCD-Wamba, RCD-Movement for Liberation dan berbagai faksi lainnya.

Perpecahan ini ternyata tidak hanya terjadi di tingkat pemberontak, negara pendukung seperti Uganda dan Rwanda pun saling bersengketa. Perpecahan ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama akan tetapi baru meletus ketika Uganda diundang oleh Moammar Ghaddafi untuk berunding dengan Kabila di Sirte, Libya terkait masalah gencatan senjata. Kabila dan Uganda menyepakati penandatanganan perjanjian gencatan senjata pada 18 April 1999.

Perundingan ini membuat Rwanda marah karena tidak dilibatkan dan menganggap uganda sudah tidak sejalan, gesekan pun sudah mulai terjadi namun berhasil diredam. Upaya gencatan senjata kembali dilakukan dengan mempertemukan enam negara (Republik Demokratik Kongo, Namibia, Angola, Zimbabwe, Rwanda dan Uganda) di Lusaka pada bulan Juli 1999.

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa semua pihak bersedia untuk bekerjasama melucuti senjata dan emndata semua kelompok bersenjata yang ada di Kongo. Dewan Keamanan PBB menerjunkan 90 personelnya untuk mengawasi jalannya proses gencatan senjata ini.

Selama proses gencatan senjata ini ternyata muncul beberapa insiden kecil dari para prajurit yang tidak setuju dengan adanya perjanjian di Lusaka tersebut. Insiden kecil tersebut terkadang berubah menjadi besar seperti yang terjadi pada Uganda dan Rwanda dimana kedua belah pihak akhirnya saling bertempur karena kecewa dan saling menyalahkan atas keputusan ini.

Pertempuran antar sesama ini dimanfaatkan oleh Kabila dengan mengatakan bahwa Republik Demokratik Kongo sudah berhasil membangun kembali kekuatan dan siap untuk mengusir Uganda dan Rwanda dari tanahnya. Perjanjian gencatan senjata pun tidak berarti apa-apa karena pasukan pemberontak dan pasukan RDK kembali bertempur. Adapun Uganda dan Rwanda justru saling bertempur sendiri dan tidak membatu pasukan pemberontak.

Pada tanggal 24 Februari 2000, PBB menerjunkan 5.537 pasukan yang ditangani oleh Organisasi Misi di Republik Demokratik Kongo (MONUC) untuk mengatasi masalah ini. Sayangnya upaya ini tidak membuahkan hasil apapun, usaha operasi militer dan upaya diplomatik yang dilakukan oleh PBB, Uni Afrika dan SADC tidak dapat membuat kemajuan perdamaian disana.

 

Kematian Kabila (2001)

Di tengah kebuntuan berbagai upaya tersebut, tiba-tiba terdapat sebuah mengejutkan. Pada tanggal 16 Januari 2001, Pengawal Pribadi Kabila melakukan upaya pembunuhan dengan menembak Kabila di Zimbabwe. Kabila sempat selamat dari upaya pembunuhan tersebut dan hanya menderita luka parah tetapi dua hari kemudian Kabila akhirnya tewas akibat luka yang dideritanya.

Berita kematian Kabila ini mengejutkan banyak pihak yang bersengketa, banyak pihak yang masih penasaran terhadap motif pelaku penembakan dan siapa yang memerintahkannya. Namun pembunuhan tersebut ternyata berhasil menyelesaikan sengketa yang berlarut-larut.

Sebagai gantinya, Parlemen Kongo sepakat secara bulat suara menunjuk Joseph Kabila, anak Kabila sebagai pengganti ayahnya. Kepemimpinan J. Kabila ini memberikan harapan baru bagi RDK karena dia dikenal sangat lunak, pernah belajar di Barat dan bisa berbahasa Inggris sehingga memudahkan negosiasi.

Kondisi RDK berangsur-angsur menjadi normal, Pasukan PBB menarik diri dari RDK dan diikuti oleh Rwanda dan Uganda yang juga mulai menarik pasukannya ke perbatasan RDK. Konflik mulai berhenti karena J. Kabila cukup lunak dalam mengambil kebijakan dan cenderung cinta damai.

Perang berakhir. Laporan dari PBB pada bulan April 2001 menyebutka bahwa selama perang di RDK, Rwanda, Uganda dan Zimbabwe banyak memanfaatkan kondis tersebut untuk melakukan penggalian ilegal di RDK dan mengeksploitasi sumber daya mineral seperti berlian, kobalt, hingga emas.

 

Perjanjian Sun City (2002)

Pada tahun 2002, kondisi Rwanda ternyata semakin memburuk. Banyak anggota RCD yang masih bergabung dengan Rwanda akhirnya memilih untuk kembali ke RDK, mereka menyerah tanpa syarat dan bergabung dengan pemerintahan J. Kabila. Pada saat yang sama, RDK menjadi semakin aman dibawah kepemimpinan J. Kabila.

Pada tanggal 19 April 2002 diadakan Perjanjian Sun City, sebuah perjanjian yang bertempat di sebuah Kasino Mewah di Afrika Selatan, Sun City. Perjanjian ini dihadiri oleh kepala negara Botswana, Namibia, Zambia, Afrika Selatan dan Zimbabwe. Perjanjian ini mempertemukan antara J. Kabila selaku Pemerintah RDK dengan pihak pemberontak yang terdiri dari berbagai RCD.

Dalam Perjanjian Sun City disebutkan bahwa: (1) J. Kabila diijinkan untuk menjabat sebagai Presiden selama masa transisi 2 tahun dan dapat diperpanjang hingga 3 tahun. (2) Pemerintah transisi akan menerapkan sistem multi partai dan mengadakan pemilu yang demokratis. (3) Selama menjabat sebagai Presiden, J. Kabila memiliki empat Wakil Presiden dengan rincian satu dari pemerintah, dua dari oposisi pemberontak, dan satu dari oposisi bukan pemberontak. (4) Jabatan Kementerian akan dibagi secara merata. (5) Mantan pejuang pemberontakan akan diintegrasikan kedalam Tentara Nasional dan Kepolisian.

Perjanjian ini ditandatangani oleh pihak pemerintah dan pihak pemberontak faksi RCD-MLC. Sedangkan pemberontak faksi RCD-Goma masih menolak untuk menandatangani perjanjian ini. Perjanjian ini memang masih menimbulkan sedikit konflik bersenjata namun eskalasinya sudah mulai menurun pertanda pihak pemberontak puas dengan perjanjian ini.

Pada tanggal 30 Juli 2002, RDK kembali membuat perjanjian perdamaian. Kali ini dengan pihak Rwanda, negara yang menjadi lawan utama RDK dalam Perang Kongo Kedua ini. Perjanjian diadakan di Pretoria, Afrika Selatan dan diberi nama Pretoria Accord. Dalam perjanjian ini Rwanda berkewajiban untuk menarik mundur 20.000 pasukannya yang masih ada di RDK.

Akan tetapi Rwanda juga menuntut RDK untuk membubarkan pasukan milisi Hutu atau yang biasa dikenal sebagai Interahamwe dan menyerahkannya kepada Rwanda karena mereka dianggap terlibat dalam Genosida Rwanda 1994. Perundingan yang berlangsung selama lima hari ini akhirnya selesai dengan persetujuan kedua isu tersebut. Rwanda menepati janjinya dengan menarik pasukannya dari RDK secara berangsur-angsur hingga selesai tanggal 5 Oktober 2002. MONUC menyebutkan bahwa jumlah pasukan Rwanda yang ditarik mencapai lebih dari 20.000 orang.

Setelah mengadakan perjanjian perdamaian dengan Rwanda, RDK kembali mengadakan perjanjian perdamaian dengan Uganda, negara kedua yang menjadi musuh RDK dalam Perang Kongo Kedua. Perjanjian ini diadakan di Luanda dan berisi tentang kesediaan Uganda untuk menarik pasukannya dari wilayah RDK dan peningkatan kualitas hubungan kedua negara. Sayangnya Perjanjian Luanda ini mengalami kegagalan dalam implementasi sehingga masih berdampak pada lemahnya hubungan kedua negara.

Setelah mengadakan perjanjian perdamaian dengan berbagai pihak, J. Kabila berusaha untuk merangkul kembali masyarakatnya dengan menandatanagani Global and All Inclusive Agreement.  Perjanjian ini berisi tentang rencana pembentukan pemerintahan transisi yang bertugas membuat Pemilu Legislatif dan Presiden. Perjanjian ini ditandatangani oleh semua pihak dalam negeri Republik Demokratik Kongo, mulai dari pemerintah, MLC, RCD, RCD-ML, RCD-N, oposisi biasa, tokoh masyarakat hingga pasukan sipil negara, Mai-Mai. Perjanjian ini secara resmi menandai berakhirnya Perang Kongo.

 

Daftar Pustaka

Berkeley, Bill. The Graves are Not Yet Full: Race, Tribe, and Power in the Heart of Africa. Basic Cooks. 2001.

Clark, John F. The African Stakes in the Congo War. New York: Palgrave McMillan. 2002.

Edgerton, Robert G. The Troubled Heart of Africa: A History of the Congo. St. Martin’s Press. 2002.

Gondola, Ch. Didier. The History of Congo. Greenwood Press. 2002.

Prunier, Gerard. From Genocide to Continental War: The “Congolese” Conflict and the Crisis of Contemporary Africa. Hurst & Company. 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: