Perang Chechnya Pertama

Republik Chechnya merupakan salah satu negara bagian yang ada di Rusia. Sejak pertama kali bergabung dengan Rusia pada tahun 1870-an, kawasan ini memang tidak pernah sepi dari berbagai konflik. Kondisi ini disebabkan karena sejak awal rakyat Chechnya memang sudah tidak setuju untuk bergabung dengan Rusia. Proses masuknya Chechnya ke dalam Rusia pun diwarnai dengan pertempuran yang panjang dan berdarah.

Pertempuran ini bermula dari keinginan Rusia (saat itu berbentuk kerajaan) untuk memperluas wilayahnya. Kerajaan Rusia melakukan ekspansi ke berbagai wilayah, khususnya ke wilayah yang kini biasa dikenal dengan nama Kaukasia. Hampir semua wilayah yang ada di kawasan Kaukasia dimasukkan kedalam Rusia. Prosesnya pun beragam, ada yang masuk dengan sukarela karena membutuhkan perlindungan seperti Georgia, namun tak sedikit pula yang masuk melalui jalur kekerasan seperti Chechnya.

Proses masuknya Chechnya kedalam bagian kerajaan Rusia diwarnai dengan pertempuran yang sangat panjang dan memakan waktu hampir 50 tahun dari tahun 1817 hingga 1864. Rusia baru berhasil merebut Chechnya pada tahun 1870-an. Pertempuran yang sangat lama ini membuat masyarakat Chechnya memiliki cara pandang yang negatif terhadap Rusia.

Chechnya selalu berusaha untuk melepaskan diri dari Rusia melalui berbagai cara. Salah satunya ketika pada tahun 1922 Kerajaan Rusia mengalami kejatuhan akibat revolusi, Chechnya langsung mengumumkan kemerdekaannya dari Rusia. Sayangnya upaya kemerdekaan tersebut masih gagal karena Chechnya direbut kembali oleh pasukan Bolshevik dari Rusia.

Chechnya pun dimasukkann kedalam bagian Uni Soviet (USSR). Rakyat Chechnya selalu melakukan perlawanan dan ingin melepaskan dari Uni Soviet. Pemerintah Uni Soviet pun berusaha untuk selalu meredam dan menjaga Chechnya agar tidak lepas dari Uni Soviet. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memberinya status sebagai Republik yang otonom.

Pada tahun 1936, pemimpin Uni Soviet, Joseph Stalin menggabungkan Chechnya dengan wilayah yang ada disebelahnya Inguhestia menjadi satu wilayah administratif dengan nama Chechen-Ingush Autonomus Soviet Socialist Republic. Namun mereka tetap merasa tidak puas dan menginginkan kemerdekaan. Mereka berkali-kali mengadakan konflik dengan pemerintah Uni Soviet yang ada di Rusia, konflik yang cukup bersejarah terjadi pada tahun 1944, ketika itu rakyat Chechnya diduga terlibat dalam konspirasi dengan Jerman. Chechnya diduga bekerjasama dengan Nazi Jerman untuk melakukan penyerangan di Uni Soviet.

Upaya tersebut membuat pemerintah Uni Soviet marah, Kepala NKVD Lavrenti Beria saat itu mengeluarkan kebijakan pengusiran terhadap warga Chechnya. Lebih dari 1 juta orang Chechnya dideportasi ke Siberia sebagai hukuman karena telah membantu Nazi Jerman menyerang Uni Soviet.

Nama Republik Chechnya-Ingushetia pun dihapus dan diganti menjadi Republik Vainakh, merujuk pada kerajaan masa lalu yang pernah ada di kawasan Chechnya. Pengusiran warga itu berlangsung selama bertahun-tahun, warga tinggal di tempat pembuangan Siberia. Barulah pada tahun 1957, warga yang dideportasi diijinkan untuk kembali ke tanah airnya. Konflik antara Chechnya memang menjadi reda tapi dendam warga masih membara.

Pembubaran Uni Soviet

Pada bulan Desember 1991, Uni Soviet ternyata mengalami perpecahan. Banyak negara yang akhirnya melepaskan diri. Saat itu Rusia ditunjuk sebagai pengganti dan pewaris Uni Soviet. Namun kekuasaan yang dimiliki oleh Rusia sudah tidak terlalu besar karena kekuatan militer dan ekonomi yang dimiliki pada masa Uni Soviet sudah tersedot ke berbagai negara yang mengalami disintegrasi.

Pada saat itu Chechnya juga menuntut kemerdekaan, upaya tersebut berusaha diredam oleh pemimpin Rusia, Boris Yeltsin dengan cara mengadakan Perjanjian Bilateral Federasi dengan pemimpin Chechnya, Ruslan Khasbulatov. Perjanjian itu ditandatangai pada tanggal 31 Maret 1992 dan berisi tentang pembentukan Republik Chechnya sebagai negara bagian, dengan pemberian otonomi dari Rusia. Republik Chechnya menjadi negara bagian yang ke 86 dari total 88 negara bagian di Rusia.

Akan tetapi Otonomi yang diberikan oleh Rusia dirasakan kurang besar terutama menyangkut keuangan dan fasilitas perpajakan. Republik Chechnya pun menuntut kemerdekaan dari Rusia dan enggan menandatangani kembali perjanjian bilateral dengan Rusia. Sikap Chechnya ini diikuti oleh Tatarstan, negara bagian lainnya yang juga menuntut otonomi yang lebih luas. Rusia berusaha meredam keduanya dengan memberikan perjajian politik khusus.

Tatarstan menyetujui usulan Rusia tersebut, pada musim semi tahun 1994 Presiden Tatarstan, Mintimer Shaeymiev menandatangai perjanjian politik khusus dengan pemberian wewenang otonomi yang lebih luas. Sedangkan Chechnya masih kesulitan melakukan kesepakatan dengan Rusia. Pemerintah Chechnya dan Rusia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bernegosiasi namun tidak juga menemukan titik temu, masalah justru semakin bertambah runyam.

Deklarasi Kemerdekaan Chechnya

Sementara itu, di Chechnya sudah mulai tumbuh militan yang menuntut kemerdekaan dari Rusia. Militan ini terbentuk sejak pertama kali Uni Soviet pecah, mereka tidak peduli dengan hasil perjanjian antara Chechnya dengan Rusia. Tujuan utama mereka adalah lepas dari Rusia. Kelompok militan ini dipimpin oleh Jenderal Dzhokhar Dudayev, seorang mantan Angkatan Udara Uni Soviet. Kelompok ini pernah melakukan penyerangan terhadap Partai Komunis setempat dan menewaskan Kepala Partai, Vitaly Kutsenko.

Serangan tersebut membuat Rusia marah dan mengerahkan pasukannya ke Chechnya tepatnya di kawasan Grozny untuk melakukan pembasmian para militan. Sayang upaya tersebut gagal karena pasukan yang dikirim justru dikepung oleh militan milik Dudayev.

Pada tahun 1993, militan ini sudah tidak sabar melihat hasil perundingan dengan Rusia yang selalu mengalami jalan buntu. Mereka memutuskan untuk mendeklarasikan kemerdekaan Chechnya dengan nama Republik Chechnya Ichkeria (Chri). Dalam kemerdekaan ini, Dudayev diangkat menjadi Presiden.

Deklarasi kemerdekaan ini membuat hubungan Chechnya dengan Rusia menjadi menegang. Apalagi sejak deklarasi kemerdekaan Chechnya, sikap warga Chechnya terhadap non-Chechnya mulai berubah, banyak dilaporkan aksi kekerasan terhadap warga non-Chechnya (terutama yang berasal dari Rusia) sebagai bentuk protes terhadap Rusia. Kekerasan ini ternyata juga menjalar terhadap warga non-Chechnya lainnya seperti dari Ukraina dan Armenia.

Kekerasan ini membuat banyak warga non-Chechnya mengungsi dan meninggalkan Chechnya. Kondisi ini membuat perekonomian dan industri di Chechnya menjadi lumpuh karena para Ilmuwan dan pekerja dari Rusia yang meninggalkan Chechnya. Krisis ekonomi yang saat itu tengah melanda Chechnya menjadi semakin parah dengan mogoknya perindustrian.

Sebagaimana yang biasa terjadi pada negara yang baru merdeka, Chechnya juga dilanda oleh krisis politik. Banyak rakyat Chechnya yang mendukung Dudayev, namun tak sedikit pula yang menuntutnya untuk lengser. Berbagai upaya kudeta dilakukann untuk melengserkan Dudayev dari kursi kepresidenan namun selalu gagal. Di kubu pemerintahan juga banyak diwarnai oleh intrik politik, pada bulan Juni 1993 Dudayev sempat membubarkan Parlemen karena menunjukkan mosi tidak percaya terhadapnya.

Dudayev mulai menunjukkan sikap otoriternya, kondisi krisis politik dan krisis kepercayaan ini dimanfaatkan oleh Rusia untuk menyerang Chechnya. Pasukan Rusia mulai memasuki Chechnya dengan alasan untuk memobilisasi keamanan yang semakin kacau di Chechnya. Kehadiran pasukan Rusia ini ditentang oleh Dudayev karena dianggap sebagai intervensi terhadap negaranya.

Namun pemerintah oposisi Chechnya yang tidak suka dengan Dudayev justru mendukung kehadiran Rusia dan meminta bantuan Rusia dalam melengserkan Dudayev dari kursi kepemimpinan. Perang sipil di Chechnya pun semakin membara karena pasukan pemerintah dibiayai oleh Dudayev sedangkan pasukan oposisi mendapat pasokan dari pemerintah Rusia.

Rusia mulai membiayai pasukan oposisi Chechnya dengan dukungan keuangan, peralatan militer, bahkan tentara bayaran. Rusia juga menghentikan semua penerbangan yang hendak menuju ke Grozny, ibukota Chechnya. Pada bulan Oktober 1994, pasukan Rusia dibantu oleh pasukan oposisi Chechnya mulai menyerbu pasukan Dudayev, namun serangan tersebut gagal. Pada bulan berikutnya, 26-27 November 1994, Rusia dan oposisi Chechnya kembali menyerbu pasukan Dudayev tetapi upaya tersebut lagi-lagi gagal.

Bahkan pada penyerbuan tersebut, pasukan Dudayev berhasil menangkap 20 pasukan Rusia dan 50 intelijen rahasia milik Organisasi Keamanan Rusia (FSK). Kondisi ini membuat pasukan Rusia dan oposisi mundur sementara dari medan pertempuran. Presiden Rusia, Boris Yeltsin memerintahkan baik pasukan Dudayev maupun oposisi untuk melucuti senjata dan maju ke meja perundingan. Perintah ini dengan tegas ditolak oleh Dudayev, pasukan Dudayev tetap memburu pasukan oposisi yang pernah terlibat pada pertempuran bersama Rusia.

Perang Chechnya Pertama

Rusia pun marah dan pada tanggal 1 Desember 1994, meluncurkan pasukannya untuk membombardir Chechnya. Upaya Rusia ini membuat Chechnya menjadi hancur akibat serangan bom namun pemerintah Chechnya yang dipimpin oleh Dudayev belum juga bersedia menyerah.

Rusia kembali melancarkan serangan pada tanggal 11 Desember 1994. Pada penyerangan ini Rusia melakukan penyerangan lewat tiga jalur, akan tetapi penyerangan lewat jalur pertama dibatalkan oleh Wakil Komandan Angkatan Darat Rusia, Jenderal Eduard Vorobyov sebagai aksi protes terhadap pemerintahnya sendiri dan menganggap penyerangan itu sebagai sebuah kejahatan karena Rusia mengirim tentara untuk melawan rakyatnya sendiri.

Serangan ini juga ditentang oleh banyak pejabat militer lainnya seperti Penasihat Presiden, Nyeri Emil dan Wakil Menteri Pertahanan Rusia, Jenderal Boris Gromov. Jenderal Boris Goromov bahkan mengingatkan bahwa serangan ke Chechnya hanya akan berdampak buruk dan berpotensi menjadi pertumpahan darah seperti di Afghanistan dan akan menemui kegagalan.

Sementara itu, 800 perwira lainnya juga menolak untuk diberangkatkan ke Chechnya. Para perwira yang desersi itu mendapatkan berbagai hukuman dari pengadilan militer Rusia. 83 perwira dipernjara sedangkan sisanya dipindah tugas, diturunkan jabatannya, atau juga dibuang.

Serangan udara pada tanggal 11 Desember 1994 itu membuahkan hasil yang sangat baik bagi Rusia. Pasukan Chechnya babak belur dihajar oleh serangan Rusia, sekitar 500 pasukan Chechnya bahkan memilih untuk berpindah haluan menjadi pendukung Rusia. Chechnya tidak menyerah, mereka memilih taktik baru dengan cara bergerilya di kawasan hutan dan rawa. Pasukan Rusia yang belum mengenal medan pertempuran menjadi kebingungan lantaran harus bertempur di medan yang belum pernah mereka jajal.

Moral pasukan Rusia menjadi turun karena sejak awal mereka tidak pernah tahu tujuan dari misi Chechnya ini. beberapa unit pasukan memutuskan untuk mundur dan dalam beberapa kasus banyak pasukan Rusia yang menyabotase peralatan mereka sendiri agar atasan mereka tidak dapat memberi perintah. Tanpa terduga, ternyata banyak pasukan Rusia yang kalah dalam medan pertempuran di darat. Beberapa unit memutuskan untuk menyerahka diri kepada milisi lokal karena posisi mereka sangat tidak strategis.

Komando taktik militer Rusia terpaksa menerapkan strategi baru dengan melakukan pemboman secara acak ke berbagai tempat yang diduga menjadi tempat persembunyian milisi. Strategi ini justru menjadi senjata makan tuan karena bom tersebut sering menyasar ke berbagai pemukiman sipil sehingga menimbulkan korban besar dari pihak sipil. Pihak oposisi yang menjadi pendukung pasukan Rusia pun sering menjadi korban bom acak. Warga Chechnya mulai memprotes Rusia, kejadian ini membuat Chechnya dan Dudayev mendapat banyak simpati dari berbagai pihak.

Serangan Rusia dengan strategi itu berhasil membuat pasukan Chechnya terdesak. Pada tanggal 29 Desember 1994, pasukan Rusia berhasil memasuki kawasan Khankala, hanya beberapa kilometer dari Grozny, ibukota Chechnya. Grozny dalam kondisi mencekam karena berpotensi menjadi ajang pertempuran dahsyat antara pasukan Rusia dengan Chechnya.

Pertempuran Grozny (1994-1995)

Kehadiran pasukan Rusia langsung disambut dengan pertempuran dari pasukan Chechnya. Rusia mengalami kerugian besar karena harus kehilangan 1.000 hingga 2.000 pasukan. Pasukan wajib militer dari Rusia yang kurang terlatih sering membuat kondisi semakin tidak terkendali dan mengakibatkan Rusia justru menderita kekalahan sendiri.

Kekalahan tersebut langsung dibalas oleh Rusia dengan mendatangkan pasukan udara dan artileri. Tahun baru 1995 di Chechnya diwarnai dengan peperangan dahsyat antara pasukan Chechnya melawan pasukan Rusia. Korban sipil yang berjatuhan sudah tidak dapat dihitung lagi. Pihak Chechnya mengatakan bahwa Rusia sengaja menyasar ke pihak sipil untuk menjatuhkan moral pasukan Chechnya sedangkan Rusia mengatakan bahwa pasukan Chechnya selalu berlindung di belakang warga sipil untuk menghindari serangan Rusia sehingga banyak warga sipil yang menjadi korban.

Setelah melalui pertempuran yang panjang, pada tanggal 17 Januari 1995, pasukan Rusia berhasil menguasai Chechnya. Istana Kepresidenan Chechnya yang ada di Grozny berhasil direbut Rusia. Pertempuran terus berlanjut dan baru berakhir secara resmi pada 6 Maret 1995.

Perang Chechnya ini telah menimbulkan jumlah korban jiwa yang tidakterhingga. Penasihat Yeltsin, Sergey Kovalev mengatakan bahwa selama lima hari pertama pertempuran di Chechnya, jumlah korban dari pihak sipil mencapai 27.000 jiwa. Angka itu terus bertambah seiring dengan meningkatnya pertempuran antara Rusia dan Chechnya.

Sejarawan Rusia, Jenderal Dmitri Volokogonov memiliki data yang agak sedikit berbeda. Menurutnya, jumlah warga sipil yang menjadi korban dalam perang Chechnya mencapai 35.000 jiwa, itu termasuk 5.000 anak. Sementara korban dari pihak Rusia tidak pernah diketahui, diperkirakan ada 2.000 tentara lebih yang tewas ataupun hilang dalam pertempuran itu. Menurut perkiraan dalam sebuah laporan analisis Angkatan Darat Amerika Serikat disebutkan bahwa selama peperangan itu, korban dari pihak Rusia mencapai 2.800 pasukan, sedangkan 10.000 tentara mengalami luka dan 500 hilang.

Pertempuran yang terjadi Grozny ini membuat dunia terkejut. Masyarakat internasional ramai-ramai mengritik kebiadaban Rusia. Pemantau internasional dari OSCE menyebut perang ini sebagai “Bencana yang tidak dapat dibayangkan.” Sementara Kaselir Jerman Helmut Kohl menyebutnya sebagai “Aksi Gila” dari Rusia. Mantan pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev juga turut mengkritik kebijakan negaranya itu sebagai “Perang yang memalukan.”

Kritikan itu tidak dipedulikan oleh Rusia, penyerangan ke berbagai tempat juga terus dilakukann. Pasca jatuhnya Grozny, pasukan Rusia mulai melakukan operasi pengendalian ke berbagai desa-desa yang ada di sekitar Grozny. Mereka melakukan penyisiran ke semua kawasan. Dalam penyisiran ini juga sempat terjadi pembantaian kembali yang dilakukann oleh pasukan Rusia, pembantaia ini terjadi di desa Samashki dimana warga enggan untuk bergabung dengan Rusia dan memilih untuk bertempur. Sikap warga ini dibalas dengan pembantaian terhadap 103 warga desa disertai dengan penahanan ratusan warga lainnya. Perlawanan ini juga banyak terjadi di daerah lainnya.

Tindakan Chechnya

Sikap Rusia menimbulkan dendam baru bagi warga Chechnya, mereka mulai membentuk kembali organisasi separatis dan melakukan perlawanan dengan berbagai cara seperti penyanderaan hingga teror terhadap warga Rusia. Pada bulan Juni 1995, sebuah kelompok pimpinan Shamil Basayev melakukan penyaderaan terhadap 1.500 orang di sebuah Rumah Sakit Budyonnovsk yang terletak di Rusia Selatan. Dalam penyanderaan itu, Basayev menuntut agar operasi di Chechnya segera dihentikan. Untuk menegaskan tuntutannya, satu per satu tawanan dibunuh hingga mencapai 120 orang. Tuntutan itu kemudian dituruti oleh pemerintah Rusia, Basayev dan Perdana Menteri Rusia Viktor Chernomyrdin menandatangani sebuah perjanjian gencatan senjata antara Rusia dan Chechnya.

Rusia untuk sementara waktu menghentikan segala kegiatan militernya di Chechnya. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh militan Chechnya untuk membentuk pasukan milisi guna menghadapi kekuatan Rusia, selain itu banyak diantara warga Chechnya yang mulai membentuk milisi lokal sebagai antisipasi jika terjadi penyerangan kembali dari Rusia.

Data resmi dari pemerintah Chechnya menyebutkan bahwa ada sekitar 5.000 hingga 6.000 milisi yang bersenjata di Chechnya. Secara keseluruhan pasukan Chechnya memiliki 10.000 hingga 12.000 pasukan cadangan yang sewaktu-waktu dapat diterjunkan dalam menghadapi berbagai pertempuran. Menurut laporan PBB, sebagian pasukan cadangan itu terdiri dari pasukan anak berusia 11 tahun dan juga perempuan sipil. Chechnya juga mulai membangun kembali berbagai jebakan perang konvensional yang sempat hancur dalam perang yang lalu. Bom rakitan juga semakin dikembangkan.

Pada musim gugur 1995, terjadi sebuah insiden yang kembali menimbulkan konflik antara Chechnya dengan Rusia. Jenderal Anatoliy Romanov, Komandan Rusia yang ditugaskan di Chechnya terkena serangan bom di Grozny hingga membuatnya terluka dan lumpuh. Banyak pihak yang meyakini bahwa bom tersebut berasal dari oknum Rusia bukan dari pejuang Chechnya. Jenderal Anatoliy Romanov sengaja dikorbankan oleh Rusia agar dapat dijadikan sebagai alasan pembenaran Rusia dalam menyerang Chechnya.

Rusia menuduh bahwa pasukan Chechnya adalah pelakuknya. Bom itu menjadi pertanda pecahnya perjanjia gencatan senjata antara keduanya. Pasukan Rusia melakukan penyerangan kembali ke Chechnya. Tragedi yang paling menyedihkan terjadi pada bulan Februari 1996, ketika itu warga Chechnya sedang menggelar aksi demonstrasi damai yang menuntut kemerdekaan dan perdamaian. Demonstrasi damai itu berubah menjadi tempat pembantaian massal karena pasukan Rusia melakukan penembakan secara membabi buta kepada demonstran.

Pelanggaran Hukum Perang Rusia

Organisasi Hak Asasi Manusia menuduh pasukan Rusia telah melakukan penyerangan secara sembarangan dan penggunaan kekuatan secara tidak proporsional dalam menghadapi Chechnya. Perlawanan warga sipil juga sering dibalas dengan artileri berat dan serangan roket. Organisasi HAM mencontohkan kasus di Gudermes yang menewaskan sedikitnya 267 warga sipil karena serangan mereka dibalas dengan hantaman peluru roket Rusia.

Strategi Rusia yang paling dominan adalah dengan melakukan penyerangan ke warga sipil dengan alasan para separatis itu ada disana. Ironisnya, penyerangan warga sipilk itu dilakukann dengan menggunakan alat berat dan berbagai bom yang dilarang seperti bom cluster dan berbagai bom sejenisnya.

Pelanggaran lainnya, Pasukan Rusia terutama MVD sering melakukan berbagai tindakan zachistka (semacam operasi pembersihan) terhadap orang-orang yang dianggap sebagai simpatisan dan pendukung gerangan separatis Chechnya. Kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan sering mencatat berbagai tindakan pelanggaran yang dilakukann oleh pasukan Rusia yang telah melakukan pembunuhan, pemerkosaan dan penjarahan secara acak terhadap semua warga sipil yang ada di Rusia tanpa peduli kewarganegaraan orang tersebut. Tindakan penyanderaan terhadap tawanan ternyata tidak hanya dilakukann oleh pasukan Chechnya. Dalam beberapa kasus, pasukan Rusia juga sering melakukan penyanderaan seperti yang terjadi ketika sekelompok pasukan Rusia menyandera 500 orang Rumah Sakit di kota Grozny. Beberapa diantaranya diculik untuk dimintai tebusan kepada keluarga yang terkait.

Pelanggaran yang dilakukann oleh pasukan Rusia biasanya tidak diberi tanggapan khusus oleh atasannya. Bahkan, berbagai kasus tersebut terkesan diendapkan dan hilang begitu saja. Publik Rusia menjadi tidak percaya dengan sikap pemerintah mereka sendiri, dukungan suara untuk Yeltsin mengalami penurunan, popularitasnya anjlok padahal saat itu dia sedang mencalonkan kembali dirinya sebagai Presiden Rusia

Perang Chechnya sering dipertanyakan oleh para pesaing politik Yeltsin. Selain itu perang yang berlarut-larut telah membuat kebencian dan menumbuhkan sikap ekstrim di berbagai belahan Rusia lainnya. Banyak warga sipil yang khawatir sikap Rusia terhadap etnis Chechnya akan berlanjut ke etnis lainnya.

Jihad Chechnya

Kondisi penindasan yang berlangsung lama di Chechnya membuat Mufti Chechnya, Akhmad Kadyrov menyerukan Jihad melawan Rusia. Seruan ini langsung disambut oleh berbagai warga muslim di seluruh penjuru dunia. Diperkirakan ada sekitar 5.000 pasukan tambahan dari luar Chechnya yang siap bertempur dengan alasan keagamaan.

Pertempuran antara Chechnya dengan Rusia kembali terjadi, namun kali ini lokasinya hanya terbatas di kawasan pinggiran Chechnya tepatnya perbatasan antara Chechnya dengan Ingushetia, salah satu negara bagian Rusia. Pertempuran ini membuat warga Chechnya cemas dan sebanyak 200.000 warga memilih untuk mengungsi ke kawasan Ossetia Utara untuk menghindari pertempuran.

Pertempuran ini ternyata menjalar hingga masuk ke wilayah Ingushetia dan menimbulkan berbagai kerusakan serta menghancurkan perekonomian Ingushetia. Presiden Ingushetia Ruslan Aushev memprotes Rusia karena pasukan Rusia sering menggunakan Ingushetia sebagai basis penyergapan dan banyak merusak infrastruktur. Ruslan juga mengancam akan menggugat Kementerian Pertahanan Rusia atas kerusakan yang dibuat oleh tentara mereka. Warga Ingushetia banyak yang diusir oleh tentara Rusia karena kawasan mereka akan dijadikan sebagai zona strategi pertempuran.

Tentara Rusia juga dilaporkan banyak melakukan tindakan pemerkosaan, penjarahan dan pembunuhan di kawasan Ingushetia. Tindakan tentara Rusia yang sering mabuk-mabukan juga menimbulkan masalah tersendiri, seorang tentara Rusia yang sedang mabuk dilaporkan membunuh sembilan warga sipil dan seorang tentara Ingushetia. Dalam kasus lain, tentara Rusia yang sedang mabuk juga membunuh kawannya sesama anggota tentara Rusia lalu menyerang lima warga Ingushetia dan Menteri Kesehatan Ingushetia.

Kondisi ini ternyata tidak hanya terjadi di Ingushetia tetapi juga di Dagestan, negara bagian Rusia lainnya yang menjadi kamp militer pasukan Rusia dalam menghadapi Chechnya. Cerita bermula pada Januari 1996, pasukan Chechnya melakukan penyanderaan terhadap 2.000 warga Dagestan di Kizlyar. Penyanderaan tersebut kemudian ditangani oleh pasukan Rusia, sayangnya tindakan yang dilakukann oleh pasukan Rusia sangat tidak efektif karena menyelamatkan sandera dengan cara merusak satu desa lainnya.

Tindakan tersebut membuat banyak negara bagian yang tidak puas dengan kinerja Rusia. Sebagai bentuk protes, beberapa negara bagian menghentikan pengiriman wajib militernya ke Rusia seperti yang dilakukann oleh Chuvasia. Negara bagian ini mengeluarkan dekrit yang berisi memberikan perlindungan hukum kepada setiap tentaranya yang menolak bergabung dengan Rusia untuk diikutsertakan dalam Perang Chechnya.

Beberapa negara bagian lainnya mengeluarkan peraturan yang berisi penghentian pengiriman pasukan wajib militer mereka ke Rusia jika hanya akan digunakan untuk meredam konflik di Chechnya. Berbagai sikap negara bagian ini membuat pemerintah Rusia kebingungan karena penyerangan ke Chechnya dapat menemui kegagalan jika tidak mendapat dukungan.

Dugaan ini ternyata mulai terbukti benar, pada tanggal 6 Maret 1996 pasukan Chechnya secara mengejutkan berhasil menduduki kota Grozny selama tiga hari dan merebut berbagai kota yang ada di sekitarnya. Serangan pasukan Chechnya ini mendapat dukungan dari militan dari Arab pimpinan Ibnu Al-Khatthab, para militan ini membantu serangan dengan merebut berbagai kota seperti Vedeno dan Shatoy dengan menewaskan ratusan tentara Rusia.

Kekalahan ini membuat pemerintahan Yeltsin semakin tidak populer di Rusia. Untung saja, pasukan Rusia berhasil membunuh Pemimpin Chechnya Dzhokhar Dudayev pada tanggal 21 April 1996 melalui Rudal kendali jarak jauh sehingga pamor Yeltsin di Rusia dapat kembali naik. Terbunuhnya Dudayev ini sempat membuat peperangan di Chechnya terhenti. Pada tanggal 28 Mei 1996, Yeltsin dan Presiden baru Chechnya, Zelimkhan Yandarbiyev menandatangani perjanjian gencatan senjata. Keputusan ini membuat pamor Yeltsin kembali bersinar dan membuatnya terpilih kembali dalam pemilu di Rusia.

Pertempuran Grozny (Agustus 1996)

Setelah penandatanganan perjanjian gencatan senjata, pasukan Rusia mulai ditempatkan kembali dan disebar ke seluruh kota Grozny untuk menjaga stabilitas di kota tersebut. Jumlah total tentara Rusia yang berada di kota itu hampir mencapai 1.200 orang, suatu jumlah yang cukup besar untuk menjaga sebuah kota seukuran Grozny. Akan tetapi jumlah yang sebesar itu ternyata mampu dikalahkan oleh gerilyawan Chechnya yang jumlahnya hanya 1.500 orang.

Pada bulan Agustus 1996, gerilyawan Chechnya yang tidak puas dengan hasil kesepakatan gencatan senjata melakukan penyerbuan ke kota Grozny. Penyerbuan ini dilakukann oleh gerilyawan pimpinan Maskhadov dan Basayev, keduanya menangkap orang-orang yang dianggap sebagai antek-antek Rusia dan ditahan sebagian diantara mereka dieksekusi mati.

Pada saat yang sama, pasukan Rusia yang ada di kota Gudermes dan Argun juga dikepung oleh gerilyawan Chechnya. Upaya mereka untuk menyelamatkan pasukan Rusia yang ada di Grozny ternyata gagal. Ketika baru sampai di kota Gudermes dan Argun, kendaraan lapis baja yang mereka tumpangi langsung dikepung dan diserang oleh gerilyawan Chechnya. Pasukan Rusia yang berjumlah 900 orang itu menjadi sasaran tembak gerilyawan Chechnya dan menewaskan hingga 276 tentara sedangkan sisanya mengalami luka-luka.

Pejabat militer Rusia mengklaim bahwa jumlah korban dari pihak Rusia hanya berjumlah 200 orang, sementara 800 orang lainnya terluka. Sedangkan gerilyawan Chechnya mengatakan bahwa korban dari pihak Rusia mencapai 1.000 jiwa, ribuan tentara lainnya berhasil dikepung dan senjatanya dilucuti. Senjata berat dan amunisi juga berhasil dikuasai oleh gerilyawan.

Pada tanggal 19 Agustus 1996, giliran pasukan Rusia yang kembali menyerang kota Grozny dengan kekuatan mencapai ribuan tentara. Komandan pasukan Rusia, Konstantin Pulikovsky memberikan ultimatum kepada semua gerilyawan Chechnya untuk segera meninggalkan kota Grozny dalam waktu 48 jam. Ultimatum itu dibuktikan dengan bombardir ke seluruh wilayah Grozny, Rusia meluluhlantakkan Chechnya hingga rata dengan tanah.

Bom-bom itu membuat warga sipil di kota Grozny panik dan melarikan diri. Suasana semakin kacau karena pesawat pembom itu mengarah ke tempat pengungsian. Pasukan Rusia di Grozny juga semakin tidak terkendali dalam melakukan penyerangan. Sebelum kondisi semakin memburuk, Jenderal Alexander Lebed, penasihat masalah Keamanan Nasional Yeltsin memerintahkan untuk segera menghentikan serangan bom ke kota Grozny.

Perjanjian Khasav-Yurt Accord

Jenderal Alexander Lebed mengadakan pertemuan dengan Maskhadov, pemimpin gerilyawan Chechnya untuk membahas masalah perdamaian dan gencatan senjata di bumi Chechnya. Perjanjian perdamaian dengan nama Khasav-Yurt Accord ini ditandatangani pada tanggal 31 Desember 1996 dan isinya memuat tentang penarikan bersama pasukan kedua belah pihak dari kota Grozny, menciptakan kawasan demiliterisasi untuk warga sipil, dan tidak perlu ada penandatanganan apapun terkait status Chechnya terhadap Rusia hingga 2001.

Dalam perjanjian Khasav-Yurt Accord ini juga terdapat istilah “all for all” dimana kedua pihak yang bersengketa berjanji untuk saling melepaskan semua tawanan. Namun pasal ini cukup sulit untuk dilaksanakan karena belum adanya rasa saling percaya antara kedua belah pihak sehingga pelepasan tawanan dilakukann secara bertahap dalam jumlah yang saat sedikit. Rusia juga menyetujui untuk memberikan amnesti kepada semua gerilyawan Chechnya yang ditahan dan pasukan Rusia yang membelot ke pihak Chechnya.

Korban Perang Chechnya Pertama

Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia merilis tentang korban pasukan Rusia dalam Perang Chechnya Pertama; 3.826 tentara tewas, 17.829 terluka, 1.906 lainnya hilang dalam pertempuran. Data lain dari NVO, majalah mingguan Rusia khusus masalah militer merilis data korban dari pihak Rusia yang terdiri dari; 5.362 tewas, 52.000 terluka dan 3.000 lebih hilang dalam pertempuran.

Untuk jumlah korban dari gerilyawan Chechnya tidak banyak diketahui. Untuk jumlah warga sipil yang tewas dalam pertempuran tersebut jumlahnya mencapai 100.000 jiwa, untuk pasukan gerilyawan yang tewas jumlahnya sekitar 300.000 hingga 400.000 jiwa. Data untuk menentukan jumlah gerilyawan yang tewas sulit untuk dilakukann karena banyak diantara para gerilyawan yang masih berusia dibawah umur sehingga sulit dideteksi.

Banyak yang berharap agar perjanjian perdamaian Khasav-Yurt Accord dapat mengakhiri segala konflik yang ada di Chechnya. Namun harapan itu semakin mengecil karena pada pertengahan November 1996, Maskhadov kembali mengadakan perjanjian dengan pihak Rusia tentang masalah ekonomi dan perbaikan hubungan antara Rusia dan Chechnya.

Pada tanggal 12 Mei 1997, Maskhadov juga menandatangani perjanjian perdamaian dan “masalah prinsip-prinsip hubungan Rusia-Chechnya.”. Perjanjian itu oleh beberapa gerilyawan dinilai sangat merugikan posisi Chechnya. Protes pun tidak dapat dihindarkan, aksi ini berlanjut dengan tindakan penyerangan kepada pasukan Rusia. Pada pertengahan musim panas 1999, pasukan gerilyawan pimpinan Basayev dan Ibn al-Khatthab menyerang kawasan Dagestan dan dibalas oleh Rusia dengan menyerbu Chechnya lagi pertanda Perang telah dimulai lagi.

 

Daftar Pustaka

Buku

Conquest, Robert. 1970. The Nation Killers. New York: Macmillan.

Fischer, Ruth, Leggett, John C. 2006. Stalin and German Communism: A Study in the Origin of the State Party. Edison N. J: Transaction Publishers.

Gall, Carlotta, Thomas de Wall. 1998. Chechnya: Calamity in the Caucasus. New York University Press.

Jamioukha, Amjad, M. 2005. The Chechens: A Handbook. Florence, Ky: Routledge.

Kleveman, Lutz. 2003. The New Great Game: Blood and Oil in Central Asia. Jackson Tenn: Atlantic Monthly Press.

Knezys, Stasys, Romaras Sedlickas. 1999. The War in Chechnya. College Station: Texas A&M University Press.

Mawdsley, Evan. 2003. The Stalin Years: The Soviet Union 1929-1953. Manchester, England: Manchester University Press.

Naimark, Norman M. 2001. Fires of Hatred: Ethnic Cleansing in Twentieth Century Europe. Cambridge, Mass: Harvard University Press.

Jurnal

Armstrong, Patrick. November 1999. Conflict in Chechnya: A Background Perspective. Journal of Conflict Studies.

Faurby Ib, Marta-Lisa Magnusson. 1999. The Battle(s) of Grozny. Baltic Defence Review.

Matthew, Evangelista. 2002. The Chechen Wars: Will Rusia Go the Way of the Soviet Union?. Brookings Institution Press.

Williams, Bryan Glyn. 2001. The Russo-Chechen War: A Treat to Stability in the Middle East and Eurasia?. Middle East Policy.

Surat Kabar

Nurbiyev, Aslan. 4 Juni 2008. Relocation of Chechen ‘Genocide’ Memorial Opens Wounds. Agence France Press.

Internet

http://www.bdcol.ee/fileadmin/docs/bdreview/07bdr299.pdf

http://www.hartford-hwp.com/archives/63/080.html

http://www.hrw.org/reports/1996/WR96/Helsinki-16.htm

http://www.inetres.com/gp/military/FM3-06_11H.html

http://www.jamestown.org/publications_details.php?volume_id=14&&issue_id=740

http://leav-www.army.mil/fmso/documents/stress.htm

http://mcc.org/clusterbombs/resources/research/death/chapter3.html#4B1A

http://www.massviolence.org/The-Massive-Deportation-of-the-Chechen-People-How-and-why?artpage=8#outil_sommaire_5

http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/europe/545672.stm

http://smallwarsjournal.com/documents/alikhadzhievinterview.pdf

http://smallwarsjournal.com/documents/iskhanovinterview.pdf

http://www.sptimes.ru/index.php?action_id=2&story_id=11071

http://www1.umn.edu/humanrts/commission/country52/1996_13.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: