Sejarah Nagorno Karabakh

Zaman Pra Sejarah

Para arkeolog mengatakan bahwa pada zaman pra sejarah, kawasan Nagorno-Karabakh dihuni oleh masyarakat Kura-Axes. Namun tidak begitu banyak diketahui bagaimana kehidupan masyarakat Kura-Axes saat itu karena minimnya sumber dan peninggalan sejarah yang ada.

Sejarah tentang Nagorno-Karabakh baru diketahui pada abad 800 SM dengan ditemukannya perhiasan yang bertuliskan Adad-Nirari, Raja Assyria. Ini menandakan bahwa kekuasaan Assyria sudah mencapai hingga kawasan Nagorno-Karabakh pada masa itu. Sayangnya, sekali lagi informasi tentang kekuasaan Assyria di Nagorno-Karabakh pun masih sangat terbatas.

Masyarakat setempat meyakini bahwa pada zaman dahulu Nagorno-Karabakh merupakan tempat tinggal anak cucu Nabi Nuh. Kondisi daerahnya yang diapit oleh dua lembah menjadi pertanda bahwa pada zaman dahulu kawasan tersebut merupakan daerah aliran sungai.[1] Masyarakat setempat juga menyakini bahwa daerah mereka menjadi jalur mencairnya es dari kutub yang menjadi penyebab terjadinya banjir pada zaman Nabi Nuh. Namun kebenaran cerita tersebut masih perlu banyak diteiliti dan dibuktikan secara ilmiah.

Kerajaan Armenia

Pada perkembangan selanjutnya, kawasan tersebut masuk kedalam kekuasaan kerajaan Armenia. Sebuah prasasti bernama Sardur II yang ditemukan di desa Tsovk, Armenia menjelaskan bahwa daerah Nagorno-Karabakh berada dibawah kekuasaan Raja Urartu (763-734 SM) dan dimasukkan kedalam Utrekhini. Tidak jelas kapan Armenia berhasil menaklukannya.

Kawasan ini juga biasa disebut dengan nama Orkhistena (Artsakh) dan menjadi tempat ‘Pangkalan Militer’ Pasukan berkuda Armenia.[2] Penguasaan Armenia atas wilayah ini terhenti pada masa kejayaan Romawi. Kekalahan Armenia atas Romawi membuat sejarah Nagorno-Karabakh masih gelap.

Armenia berhasil melepaskan diri dari Romawi pada tahun 189 SM, namun dari berbagai sumber literasi dan referensi yang ada tidak ditemukan satupun data yang terkait dengan masalah Orkhestina dan Nagorno-Karabakh. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa kawasan tersebut sudah tidak lagi ada dalam genggaman Armenia, kemungkinan lainnya adalah kawasan tersebut masih menjadi milik Armenia namun hanya menjadi daerah satelit.

Barulah pada tahun 1 SM, kawasan ini mendapat perhatian dari kerajaan Armenia. Hal ini terlihat dari penemuan reruntuhan bekas kota Tigranakret yang terletak di pusat kawasan Artsakh. Dilihat dari segi arsitektur bangunan, benteng dan basilika, diperkirakan bangunan tersebut dibangun pada masa Raja Armenia, Tigranes Agung. Penelitian tentang kota itu menunjukkan bahwa kota tersebut ada sejak tahun 1 SM hingga abad ke-13.[3]

Meskipun kawasan ini telah lama menjadi bagian dari Armenia, namun bahasa yang digunakan tidak sama dengan Armenia. Hal ini dapat dilihat dari berbagai referensi kuno dan buku yang ditulis oleh Stepanos Siunetsi, ahli bahasa dan tata kata setempat yang hidup pada tahun 700 Masehi.[4] Secara kebangsaan ternyata antara Armenia dengan Artsakh cukup berbeda.

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 370 Masehi, kerajaan Armenia sempat mengalami perpecahan hingga membuat kawasan Artsakh ini memisahkan diri dan mendirikan negara baru. Sementara wilayah Armenia lain seperti Provinsi Utik jatuh ke tangan Albania. Lepasnya Artsakh sebenarnya membuat kawasan ini menjadi lebih maju, sayangnya kondisi ini tidak berlangsung lama.

Pada tahun 372 Masehi, Kerajaan Armenia dengan dipimpin oleh komandan militer Mushegh Mamikonian menaklukan Artsakh dalam sebuah pertempuran dahsyat. Takluknya Artsakh ditangan Armenia membuat rakyatnya kembali terbebani karena dikenai standar upeti yang lebih tinggi. Kawasan lain pun ditaklukan dan dipersatukan kembali oleh Mushegh kedalam Armenia.[5]

Di dalam struktur kerajaan Armenia, Artsakh menjadi provinsi (nahangs) nomor10 dari 15 provinsi yang ada. Ini menandakan bahwa Artsakh kurang dekat dan tidak begitu dipedulikan oleh kerajaan Armenia dalam hal prioritas pembangunan. Pihak kerajaan kurang begitu memprioritaskan Artsakh karena banyaknya pemberontakan dan perlawanan yang terjadi di provinsi itu.

Rakyat Artsakh sempat beberapa kali melakukan pemberontakan namun berhasil diredam. Artsakh juga dipecah menjadi 12 kabupaten (gavars) yakni; Myus Haband, Vaykunik (Tsar), Berdadzor, Mets Arank, Mets Kvenk, Harjlank, Mukhank, Piank, Parsakank (Parzvank), Kusti, Parnes, dan Koght. Pemecahan ini dilakukan agar kekuatan Artsakh semakin melemah.

Ahli geografi asal Armenia, Anania Shirakatsi menyebutkan bahwa kondisi tersebut ternyata tidak hanya dialami oleh Artsakh tetapi juga provinsi lainnya sehingga kerajaan Armenia rawan terjadi penusukan dari belakang. Kondisi ini terbukti pada tahun 387, Armenia mengalami perpecahan dan menjadi ajang perebutan antara Romawi dan Persia.

Kondisi yang kacau tersebut membuat Artsakh juga dijadikan ajang perebutan yang kemudian dimenangkan oleh kerajaan Albania (berada dibawah kekuasaan Persia). Artsakh bersama dua provinsi (nahangs) lainnya, Utik dan Paytakaran bergabung dengan kerajaan Kaukasia Albania.

Era Revolusi Artsakh

Sejak dibawah kekuasaan Albania, masyarakat Artsakh dipaksa untuk menggunakan bahasa Persia sebagai bahasa nasional. Namun paksaan tersebut ditolak oleh masyarakat Artsakh. Dibawah komando Mashtot Mesrop, mereka mulai menyuarakan kembali bahasa Armenia. Berbagai buku ditulis dengan menggunakan bahasa Armenia, percakapan pun tetap menggunakan bahasa Armenia. Bahasa Armenia yang awalnya kurang disukai oleh masyarakat Artsakh mendadak menjadi populer dan digunakan banyak orang.

Mashtot Mesrop juga membangun sekolah untuk mendidik para pelajar berbahasa Armenia. Tindakan ini mendapat dukungan dari banyak pihak, semangat nasionalisme para rakyat pun semakin tinggi. Pada tahun 451 terjadi pemberontakan besar orang Armenia terhadap kerajaan Albania.

Terjadi pertempuran besar antara orang Armenia dengan tentara Albania, pertempuran ini biasa dikenal dengan nama Perang Vardan. Pertempuran ini ternyata tidak seimbang karena kavaleri yang dimiliki oleh tentara Albania ternyata jauh lebih kuat sehingga pasukan pemberontak dapat dipukul mundur. Mereka melarikan diri ke dalam hutan dan pelosok negeri lainnya untuk menghindari kejaran dari tentara Albania.[6]

Puluhan tahun kemudian perjuangan tersebut dilanjutkan oleh Aranshakhiks, ia mampu menyatukan bangsa Armenia yang sebelumnya terpecah belah menjadi satu kekuatan. Ia mencoba mengembangkan budaya dan bahasa yang berkembang di masyarakat untuk menjadi milik bersama sehingga lebih mudah untuk diterima oleh semua kawasan.

Berbeda dengan sebelumnya, usaha Aranshakhiks ini tidak membutuhkan kekerasan fisik karena di dalam tubuh kerajaan Albania sendiri tengah terjadi perpecahan dan pergolakan sehingga membuat kerajaan menjadi terpecah kedalam beberapa bagian kecil.

Era Kepangeranan

Kondisi kerajaan Albania yang semakin terpecah belah ternyata tidak semakin menguntungkan bagi Artsakh karena wilayah tersebut justru menjadi incaran bagi para penjajah baru. Pada abad ke-11 hingga ke-12, pasukan Turki Seljuk berkali-kali melakukan invasi ke wilayah tersebut. Serangan tersebut berhasil diatasi dengan baik sehingga penjajahan dapat terhindarkan.

Kondisi berlanjut pada abad ke-13 dimana pasukan Tartar dan Mongol berusaha menaklukan seluruh kawasan Transkaukasia termasuk Artsakh. Artsakh berhasil mendapatkan bantuan dari kerajaan Kachen yang dipimpin oleh Raja Hasan Jalal. Bantuan tersebut sangat berarti dan dapat menyelamatkan Artsakh dari invasi bagsa Tartar dan Mongol.

Akan tetapi situasi tersebut tidak berlangsung lama karena tidak lama kemudian, pada tahun 1261 Raja Hasan Jalal meninggal dunia. Kematian raja ini membuat bangsa Kachen dalam keadaan kacau sehingga tidak dapat membantu Artsakh lagi. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya invasi dari bangsa Tartar sehingga Kachen dengan mudah ditaklukan.

Sementara Artsakh sendiri mencoba untuk menjalin kerjasama dengan beberapa bangsa Armenia lain yang ada di sekitarnya seperti Giulistan, Jraberd, Varanda, hingga Dizak namun mereka juga mengalami kekalahan dari bangsa Tartar dan Mongol. Akhirnya Artsakh meminta bantuan kepada dua suku dari bangsa Turki, suku Qara Konyulu dan Aq Qonyulu. Kerjasama dengan kedua suku dari Turki tersebut membuat Artsakh terlindungi dari berbagai invasi negara lain. Warga Turki yang tinggal di Artsakh juga memberikan nama baru untuk daerah tersebut menjadi Karabakh yang berarti Taman Hitam.[7]

Nama tersebut menjadi berkembang, warga Turki kadang menambahinya menjadi Rata Karabakh (Bukit Karabakh), kadang juga menyebutnya Nagorno-Karabakh (Gunung Karabakh) karena letak geografisnya yang berada di perbukitan. Nama Nagorno-Karabakh inilah yang hingga kini masih terus dipakai.

Sikap orang muslim Turki yang sangat baik terhadap penduduk lokal membuat beberapa kawasan Armenia lain yang memutuskan untuk bekerja sama dengan Turki. Diantara keduanya sering terjadi pertukaran budaya mulai dari arsitektur bangunan hingga masalah sosial budaya lainnya.[8]

Era Melik

Pada abad ke-15, lewat bantuan tentara muslim Turki dan tentara muslim Persia Safawi,  hampir semua kawasan Armenia akhirnya dapat dibebaskan dari cengkeraman bangsa Mongol dan Tartar. Bantuan ini membuat bangsa Armenia sangat dekat dengan kerajaan-kerajaan Islam.

Bangsa Armenia yang terdiri dari Kachen, Nagorno-Karabakh, Varanda, Dizak, Giulistan dan Jardberg memutuskan untuk bergabung menjadi bagian dari Persia Safawi. Wilayah mereka mendapat perlakuan khusus dari kerajaan Persia Safawi, mereka mendapat hak dan wewenang khusus untuk mengatur daerah mereka sendiri. Terkait dengan masalah pembagian kekuasaan diantara Kachen, Nagorno-Karabakh, Varanda, Dizak, Giulistan dan Jardberg diserahkan kepada internal mereka sendiri.

Sebagai bekas bangsa Armenia, mereka berusaha untuk menghidupkan kembali kejayaan bangsanya dan mewujudkan Armenia yang baru. Mereka berusaha untuk bersatu dalam mengelola wilayah mereka secara bersama-sama.

Akan tetapi sistem ini tidak berjalan dengan lancar. Pada abad ke-16, Bangsa Armenia mengalami sedikit perpecahan. Banyak pemimpin yang tidak puas denga sistem tersebut dan meminta pembagian wilayah yang lebih jelas. Armenia yang baru ini pun akhirnya terbagi menjadi lima kekuasaan atau yang biasa disebut Khamsa Melik. Kata ‘Khamsa Melik’ tersebut berasal dari bahasa Arab yang artinya lima pemimpin. Kata ini kemudian digunakan sebagai gelar, semua pemimpin menggunakan nama depan ‘Melik’.[9]

Bangsa Giulistan (Talish) menguasai wilayah dari Ganja hingga ke lembah Sungai Tartar dengan dipimpin oleh Melik-Beglaryans. Bangsa Jardberg (Draberd atau Charaberd) menguasai wilayah melintang dari Sungai Tartar hingga Sungai Khachenaget dengan dipimpin oleh Melik-Israelyans.

Bangsa Khachen menguasai wilayah dari Sungai Khachenaget hingga Sungai Karkar dengan dipimpin oleh keturunan Melik-Hasan-Jalalyans. Bangsa Varanda menguasai wilayah dari Sungai Karkar hingga lereng selatan Gunung Kirs Besar dengan dipimpin oleh Melik-Shahnazars. Adapun bangsa Dizak menguasai wilayah dari lereng selatan Gunung Kirs Besar hingga Sungai Arax dan dipimpin oleh Melik-Avanyans. Dari kelima Melik tersebut, Nagorno-Karabakh tidak mendirikan Melik sendiri tetapi masuk kedalam Melik Kachen.

Keputusan pembagian wilayah tersebut tetap dihormati oleh kerajaan Persia Safawi dan mereka tetap mendapatkan otonomi khusus untuk mengatur wilayahnya masing-masing.[10] Namun pada akhir abad 17 dan awal abad 18, kerajaan Persia mengalami pergolakan politik internal. Terjadi sengketa antara Persia Safawi dengan Persia Nadir Syah.

Sengketa tersebut dimenangkan oleh Persia Nadir Syah, sayang kepemimpinan yang baru tersebut cenderung menindas sehingga membuat wilayah di seantero Persia menjadi bergejolak dan melakukan aksi perjuangan kemerdekaan. Bangsa Armenia sendiri turut memperjuangkan kemerdekaan dan menghidupkan semangat nasionalisme Armenia yang baru.

Armenia berusaha menggalang dukungan angkatan bersenjata dari bangsa lain. Mereka mengirimkan diplomatnya ke beberapa kerajaan Eropa namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Usaha mereka baru diterima oleh kerajaan Rusia, pihak Rusia menjanjikan akan memberikan bantuan pasukan dari Georgia untuk membantu perjuangan kemerdekaan mereka.

Persiapan pun dimulai, bangsa Armenia mulai mempersiapkan perang melawan Persia. Pasukan Armenia dipimpin oleh Israel Ori dari suku Minas, Katolikos dari suku Gandsasar Yesai Jalalian, serta Iuzbashis (semacam jabatan komandan) Avan dan Tarkhan.

Mula-mula, pada tahun 1721 pasukan Rusia melakukan penyerangan dan penaklukan di kawasan Derbent dan Baku, sebuah kawasan terluar Persia yag berbatasan dengan Rusia. Penaklukan dua kawasan tersebut ditujukan untuk memudahkan pasukan Rusia dan Georgia dalam membantu Armenia.[11]

Melihat keseriusan Rusia tersebut, pasukan Armenia menjadi termotivasi untuk melakukan perlawanan terhadap pasukan Persia. Apalagi Peter Agung sudah menjanjikan untuk segera mengirimkan pasukan Georgia ke kawasan Karabakh jika pasukan Armenia dalam kondisi terdesak.

Akan tetapi janji Peter Agung tersebut ternyata tidak dipenuhi. Ketika pasukan Armenia hampir mengalami kekalahan, bantuan tidak kunjung datang. Untung saja, pasukan Persia untuk sementara berhasil diusir dari tanah Karabakh. Tentu saja itu semua ditebus dengan pengorbanan yang luar biasa, banyak pasukan Armenia yang akhirnya tewas dalam peperangan tersebut.

Sikap Peter Agung tersebut menimbulkan kekecewaan yang sangat berat dari pihak Armenia. Hal tersebut semakin diperparah dengan klaim sepihak Peter Agung bahwa wilayah Khanat dan Caspia (termasuk Armenia) sudah masuk kedalam wilayah Rusia. Tidak hanya itu, pada tanggal 12 Juli 1724, Rusia juga membuat suatu perjanjian dengan Turki yang isinya menyerahkan kedua wilayah tersebut kepada Turki.

Kontan saja, sikap tersebut membuat Armenia terutama Nagorno-Karabakh menjadi kacau karena kawasan tersebut akan menjadi tempat pertama yang akan diduduki. Dengan kondisi pasukan yang masih terluka dan jumlahnya terbatas, Armenia bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Benar saja, setelah perjanjian tersebut ditandatangani , pasukan Turki langsung datang untuk menduduki dan mengokupasi wilayah Armenia. Kelima Melik bersatu menghadapi kedatangan pasukan Turki, mereka membangun tiga kamp militer atau yang dikenal dengan istilah Shkhnakh.

Shkhnakh pertama bernama Shkhnakh Besar, terletak di Pegunungan Mrav dekat Sungai Tartar. Shkhnakh kedua terletak di lereng Gunung Kirs di Provinsi Varanda, sedangkan Shkhnakh ketiga terletak di Provinsi Kapan. Kamp militer tersebut berisi tentara rakyat dengan dipimpin oleh Iuzbashis (semacam komadan) yang tergabung dalam Dewan Militer dan dipimpin oleh Katolikos.

Peperangan antara Armenia dan Turki pun berlangsung lama hingga memakan waktu 10 tahun. Perang baru selesai ketika pasukan Persia datang untuk membantu Armenia, bantuan tersebut membuat pasukan Turki terdesak hingga dengan mudah digiring ke pusat kota.[12]

Pada tahun 1733, semua pasukan Turki yang sudah disergap tersebut dikumpulkan dan dibantai secara massal oleh pasukan Armenia. Kondisi wilayah Armenia yang sempat hancur karena menghadapi perang pun mulai dipulihkan.[13] Bantuan yang diberikan oleh Persia tersebut membuat Armenia akhirnya memilih utnuk bergabung kembali dengan Persia. Kelima Melik sepakat untuk menyerahkan kekuasaannya kepada Persia. [14] Wilayah tersebut kemudian dipimpin oleh seorang gubernur. Nadir Syah memilih Iuzbashis Avan untuk menjadi gubernur karena dianggap paling berjasa dalam pertempuran itu.[15]

Era Khanat

Pada tahun 1747, kondisi politik internal di tubuh Persia kembali mengalami pergolakan. Seorang petinggi militer Persia yang cukup ternama, Panah Ali Khan Javansir melakukan aksi desersi karena tidak senang dengan sikap Nadir Syah yang menindas. Ia memancing konflik dengan cara membebaskan tahanan politik yang dipenjara oleh Nadir Syah.

Tindakan tersebut membuat Nadir Syah marah dan mengirimkan sejumlah pasukan untuk menangkap Panah Ali. Anehnya, pasukan yang dikirim untuk menangkap Panah Ali tersebut justru tidak kembali dan memilih bergabung dengan Panah Ali. Demikian pula dengan pasukan yang dikirim berikutnya juga memilih untuk desersi dan bergabung dengan Panah Ali.

Desersi tersebut ternyata semakin meluas, puncaknya pada bulan Juni tahun 1747 Nadir Syah tewas secara misterius di Khorasan. Tanpa menunggu waktu lama, kekuasaan Persia akhirnya dipegang oleh Adil Syah, saudara Nadir Syah. Berbeda dengan penguasa sebelumnya, Adil Syah memiliki legitimasi yang cukup kuat dimata para rakyatnya.

Adil Syah juga memiliki pandangan yang sama dengan Panah Ali. Ketika ia menjadi pemimpin, ia langsung mengangkat Panah Ali sebagai pemimpin baru di Karabakh.[16] Nama Panah Ali pun mendapat tambahan gelar menjadi Panah Khan. Namun penunjukkan Panah Khan sebagai pemimpin baru ternyata kurang disetujui oleh Khamsa Melik. Dari kelima Melik disana, hanya Melik dari Varadan yang setuju dengan kepemimpinan Panah Khan.

Melik Varadan, Shahnazar II menyarankan agar menjadikan wilayahnya sebagai Ibu Kota. Panah Khan menyetujui usulan tersebut dan mendirikan sebuah benteng di kotas Shusha dan menjadikan kota tersebut sebagai ibu kota. Sementara melik lainnya bersekongkol untuk menjatuhkan Panah Khan.

Mereka berusaha untuk mencari bantuan ke Rusia dan bertemu dengan Catherine II dan Grigori Potyomkin. Mereka melakukan perencanaan untuk menjatuhkan Panah Khan yang akan dipimpin oleh Katolikos. Upaya ini diendus oleh Ibrahim Khan, anak Panah Khan. Mengetahui ayahnya akan dijatuhkan oleh para melik itu, langsung penjara. Demikian pula dengan Katolikos, ia dipenjara dan dihukum mati pada tahun 1785.[17] Penahanan terhadap para Melik ini membuat sistem pemerintahan Khamsa Melik tidak jalan.[18]

Sistem pemerintahan Khamsa Melik tersebut dihapus dan digantikan oleh sistem Khanat dimana Panah Khan menjadi penguasa tunggal, kekuasaannya semakin membesar dari Sungai Arax hingga Kura. Pada era ini mayoritas penduduk Karabakh beragama Islam. Tahun 1823 tercatat penduduk Karabakh berjumlah 20.095 keluarga (atau sekitar 90.000 penduduk) dengan rincian 15.729 keluarga beragama Islam (78%), sedangkan sisanya 4.366 orang Armenia.[19][20]

Kepemimpinan Panah Khan ini dilanjutkan oleh anaknya, Ibrahim Khan. Pada masa Ibrahim Khan, Karabakh mulai sedikit agak melepaskan diri dari Persia. Kondisi ini dicium oleh kerajaan Persia, pada tahun 1797 tentara Persia dengan dipimpin oleh Agha Mohammad Khan Qajar menyerang Karabakh.

Ibukota Karabakh, Shusha dihajar oleh pasukan Persia. Karabakh berada di ambang kekalahan namun tiba-tiba pimpinan tentara Persia, Agha Mohammad Khan Qajar tewas terbunuh. Kematiannya bukan disebabkan oleh perang tetapi akibat dibunuh oleh budaknya sendiri di dalam tenda. Tragedi ini membuat pasukan Persia terpaksa menghentikan penyerangan dan mundur.

Pada tahun 1805, Karabakh kembali mendapat serangan. Kali ini serangan tersebut berasal dari tentara Rusia yang dipimpin oleh Pavel Tsitianov. Ketidaksiapan Karabakh membuat wilayah tersebut dengan mudah jatuh ke tangan Rusia. Ibrahim Khan dipaksa untuk menandatangani perjanjian Kurekchay dengan Rusia yang isinya menjadikan Karabakh sebagai negara protektorat Rusia.

Beberapa tahun setelah penandatangan itu, Ibrahim Khan langsung dibunuh oleh komandan Rusia dengan alasan Ibrahim dicurigai akan melarikan diri ke Persia. Rusia lalu menunjuk anak Ibrahim Khan, Mukhti Gulu sebagai pemimpin Karabakh yang baru. Pada tahun 1813, Mukhti dipaksa untuk menandatagani perjanjian Gulistan yang isinya menyerahkan semua wilayah Karabakh kepada kekaisaran Rusia.

Melihat sikap Rusia yang semakin melewati batas, Mukhti Khan memutuska utnuk melarikan diri ke Persia pada tahun 1822. Disana ia mencari bantuan pasukan untuk mengusir Rusia dari tanah mereka. Permintaan Mukhti ini disetujui, pada tahun 1826 pasukan Persia bersama Mukhti Khan mendatangi Karabakh untuk menyerang Persia.

Akan tetapi kondisi keamanan Karabakh sudah berubah menjadi sangat ketat. Serangan Mukhti Khan dan pasukan Persia tidak dapat menembus benteng pertahanan Shusha. Apalagi banyak rakyat Armenia yang memilih untuk membantu Rusia daripada Persia sehingga membuat Mukhti tidak memiliki dukungan dari dalam negeri.

Pasukan itu akhirnya dihalau oleh Jenderal Rusia, Matadoff dengan mudah. Serangan gagal dan sistem Khanat dibubarkan oleh Rusia. Karabakh dimasukkan kedalam wilayah Kaspia dengan pemerintahan Eliavetpol. Karabakh pun menjadi bagian dari Rusia pada tahun 1823. Kepemilikan ini semakin dikuatkan oleh perjanjian Turkmenchay pada tahun 1828.

Era Rusia

Hancurnya sistem Khanat di Karabakh membuat status Karabakh diturunkan menjadi kota, bukan lagi provinsi. Karabakh dimasukkan kedalam Provinsi Armenia yang baru dibentuk. Bekas-bekas kerajaan Khamsa Melik memang masih ada, beberapa keluarga kerajaan juga masih tinggal disana namun statusnya hanya sebagai warga biasa. Selain itu Khamsa Melik sudah tidak memiliki wewenang apapun, dapat dikatakan sebatas menjadi cagar budaya.

Masyarakat Karabakh mulai terbelah menjadi dua; Armenia dan Tatar. Masyarakat Tatar merupakan masyarakat yang berasal dari generasi campuran antara Armenia dengan bukan Armenia, bisa dari Turki maupun Persia. Masyarakat Tatar ini menamakan dirinya sebagai Azerbaijan.

Dalam sebuah survei tahun 1823 disebutkan bahwa di kota Karabakh terdapat 56 desa yang terdiri dari 49 desa Armenia dan 7 desa Tatar yang tersebar di lima bekas kerajaan Khamsa Melik. Berikut ini daftar penyebarannya:

Nama

Armenia

Tatar

Kachen

12

0

Jraberd/Jalapert

8

0

Dizak

14

1

Gulistan

2

5

Varanda

23

1

Pada tahun 1840, sekitar 222 keluarga bermigrasi ke salah satu kawasan pegunungan di Karabakh dan mendirikan sebuah desa baru yang bernama Maraga. Nama kota tersebut diambil dari salah satu kota yang ada di Persia.

Diantara seluruh kawasan Karabakh, Shusha merupakan daerah yang paling makmur. Bahkan jika dibandingkan dengan daerah lain yang ada di Provinsi Armenia, Shusha tetap menjadi kota yang paling makmur. Di kawasan tersebut sudah terdapat percetakan, gedung teater, pabrik pembuatan karpet dan sebagainya. Perdagangan berkembang pesat di kawasan tersebut.

Shusha menjadi kota yang paling diunggulkan di kawasan Karabakh bahkan di tingkat provinsi Armenia. Shusha sering dianggap sebagai pusat peradaban Karabakh, dalam rentang periode 1847 hingga 1920 sudah tercipta 21 majalah dan surat kabar. 19 berbahasa Armenia dan 2 berbahasa Rusia.[21]

Sementara itu tingkat pertumbuhan penduduk mengalami perubahan pesat. Sensus yang diadakan pada tahun 1897 menyebutkan bahwa total jumlah penduduk meningkat menjadi 25.656 penduduk dengan pembagian 56,5% penduduk Armenia dan 43,2% penduduk Tatar (Azerbaijan). Angka tersebut menunjukkan masyarakat Armenia mengalami penurunan sedangkan masyarakat Tatar justru mengalami pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi.[22]

Kondisi ini ternyata lebih sering berdampak negatif karena rawan muncul gesekan antar etnis. Seperti yang terjadi pada tahun 1905, saat itu Rusia mengalami gejolak revolusi. Revolusi tersebut menimbulkan peperangan antar etnis, termasuk antara Armenia dengan Tatar (Azerbaijan), kedua belah pihak saling berkonfrontasi hingga menimbulkan pertempuran berdarah. Dapat dikatakan, gesekan antar etnis inilah yang menjadi penyebab renggangnya hubungan antara Azerbaijan dengan Armenia hingga saat ini.

Pada tahun 1917, Rusia kembali mengalami revolusi yang ditandai dengan jatuhnya Kekaisara Rusia. Pemerintah Sementara Rusia mulai berusaha untuk mengatur kembali negaranya dengan membentuk dewan transisi di berbagai wilayahnya. Sistem administrasi negara pun diatur ulang, Provinsi Armeniadan provinsi di sekitarnya dimasukkan kedalam satu negara federal.

Mereka berada dibawah negara bagian yang bernama Republik Federasi Demokratik Transkaukasus. Pemerintah Sementara Rusia menunjuk Grand Duke Nicholas untuk mengoordinasi особый Закавказский Комитет / ОЗАКОМ (baca: Osobyy Zakavkazskiy Komitet / OZAKOM), sebuah Komite Khusus Transkaukasus yang bertugas untuk membentuk Kongres Nasional yang akan membahas masa depan Rusia.

Sengketa Azerbaijan – Armenia

Revolusi tersebut ternyata dimanfaatkan oleh bangsa Armenia untuk memerdekakan diri dari Rusia. Bertempat di Baku, bangsa Armenia membentuk Dewan Nasional Baku yang dipimpin oleh Stepan Shaumyan. Dewan Nasional Armenia ini mulai membahas kemerdekaan secara maraton.

Tak mau ketinggalan dengan Armenia, bangsa Azerbaijan (Tatar) juga membentuk sebuah Dewan Nasional Muslim. Azerbaijan juga mengadakan pembahasan terkait kemerdekaan dan masalah pertahanan serta struktur administratif negara barunya yang dikenal dengan Dewan Nasional Azerbaijan yang juga bertempat di kota Baku.

Dewan Nasional Azerbaijan dan Dewan Nasional Armenia juga mulai merancang peta wilayah kekuasaan negaranya. Masalah besar pun dimulai karena keduanya saling mengklaim bahwa Karabakh, khususnya Nagorno-Karabakh merupakan wilayahnya. Pada bulan Maret 1918, ketegangan etnis pun mencuat dan konflik bersenjata tidak dapat dihindarkan lagi.

Isu awal yang dihembuskan adalah orang Azerbaijan merupakan sekutu Turki, jika Azerbaijan merdeka maka Turki akan datang dan menguasai Armenia. Isu tersebut sebenarnya dihembuskan oleh pasukan Bolshevik dari Rusia yang bertujuan untuk mengadu domba Armenia dan Azerbaijan agar saling bertempur dan kekuatan mereka menjadi lemah. Jika kekuatasn mereka sudah lemah, maka Rusia dapat mudah masuk dan mencegah lepasnya mereka dari Rusia.[23]

Isu tersebut langsung direspon oleh bangsa Armenia, sebagaimana diketahui Armenia memiliki sejarah yang kelam dan hubungan yang tidak baik dengan Turki sehingga segala sesuatu yang terkait dengan Turki akan langsung dimusuhi. Milisi Armenia pun turun ke jalan dan melakukan pengusiran terhadap bangsa Azerbaijan. Tindakan ini langsung disambut oleh milisi Azerbaijan dengan pertempuran bersenjata. Kota Baku, pusat pemerintahan Dewan Nasional Armenia dan Dewan Nasional Azerbaijan menjadi ladang pertempuran.[24]

Pasukan Bolshevik yang seharusnya bertindak netral dan mendamaikan justru ikut bergabung dengan pasukan Armenia. Pertempuran ini dimenangkan oleh pasukan Armenia dan membuat orang Islam Azerbaijan terusir dari kampung halamannya. Pasukan Armenia juga melakukan pembantaian terhadap warga Azerbaijan yang enggan untuk pindah. Sekitar 3.000 hingga 12.000 tewas dalam pembataian yang dikenal dengan Marchday itu.[25][26]

Tidak lama kemudian pasukan Azerbaijan melakukan serangan balik dan menduduki kota itu serta mengeluarkan pernyataan secara sepihak bahwa wilayah kekuasaan Azerbaijan meliputi Baku, Zangezur hingga ke Nagorno Karabakh. Pernyataan tersebut langsung ditentang oleh Armenia, bahkan Nagorno Karabakh dan Zangezur menyatakan penolakan untuk bergabung dengan Azerbaijan.

Dewan Nasional Armenia lalu mengkonsolidasi kekuatan untuk melakukan pemberontakan terhadap Azerbaijan. Dewan juga mengajak Nagorno Karabakh untuk bergabung dengan Armenia. Akan tetapi tawaran tersebut juga tidak disetujui. Pemerintah Karabakh mengadakan Kongres Pertama pada tanggal 22 Juli 1918 yang menyatakan bahwa Nagorno Karabakh tidak akan bergabung dengan negara manapun dan tetap menjadi suatu instansi administrasi politik yang independen, bebas dari Azerbaijan dan Armenia.

Pemerintah Nagorno Karabakh membentuk Dewan Nasional sendiri yang diberi nama Pemerintah Rakyat Karabakhdan dikelola oleh Perdana Menteri, Sekretaris Negara, dan lima Menteri:[27]

– Perdana Menteri                                  : Yenghishe Iskhanian

– Sekretaris Negara                                : Melikset Yesayan

– Menteri Dalam & Luar Negeri               : Yenghishe Iskhanian

– Menteri Pertahanan                            : Harutiun Toumanian

– Menteri Komunikasi                            : Martiros Aivazian

– Menteri Keuangan                             : Mosves Ter-Astvatsatrian

– Menteri Kehakiman & Pertanian            : Arshavir Kemlayan

Pada tanggal 24 Juli, Karabakh mendeklarasikan kemerdekaannya sebagai negara baru dan berkuasa penuh. Bebas dari tekanan asing dan campur tangan negara mana pun. Untuk semakin menguatkan posisinya, Pemerintah Karabakh pada bulan September 1918 mengadakan Kongres Kedua yang isinya mengubah namanya menjadi Dewan Nasional Armenia-Karabakh. Nama Armenia tersebut tidak berarti Karabakh berada dibawah kekuasaan Armenia tetapi menunjukkan mayoritas panduduk Karabakh adalah bangsa Armenia. Kongres juga merombak kabinet agar menjadi lebih kuat dan Berikut adalah daftar perubahannya;

– Menteri Kehakiman    : Komisaris Arso Hovhannisian, Levon Vardapetian

– Menteri Pertahanan    : Harutiun Tumian

– Menteri Pendidikan     : Rouben Shahnazarian

– Menteri Pengungsi       : Moushegh Zakharian

– Menteri Kontrol            : Anoush Ter-Mikaelian

– Menteri Luar Negeri     : Ashot Melik-Hovsepian[28][29]

Akan tetapi kemerdekaan tersebut tidak dapat dinikimati dalam jangka waktu lama karena pada awal tahun 1919 Azerbaijan meminta bantuan Inggris untuk memaksa Karabakh bergabung dengan Azerbaijan. Inggris menyetujui permintaan Azerbaijan dengan syarat Azerbaijan bersedia untuk menjual ekspor minyaknya hanya untuk Inggris. Permintaan tersebut disetujui.

Klaim Azerbaijan

Pada tanggal 15 Januari 1919, pemerintah Azerbajian langsung mengumumkan bahwa kawasan Kharabakh masuk kedalam negara Azerbaijan. Pemerintah Azerbaijan juga menunjuk Khosrovebek Sultanov sebagai gubernur jenderal bagi Nagorno-Kharabakh. Pemerintah Azerbaijan memberikan ultimatum kepada Dewan Nasional Armenia-Karabakh agar tidak bermain dengan kekuatan yang dimiliki oleh Azerbaijan saat ini.

Sikap arogan Azerbaijan ini langsung ditolak oleh Dewan Nasional Armenia-Karabakh. Pada tanggal 19 Febuari 1919, Dewan Nasional mengadakan Kongres ke-4 yang diselenggarakan di Shushi dengan tegas menolak ultimatum Azerbaijan dan menyatakan protes sehubungan dengan penunjukkan Sultanov sebagai gubernur jenderal.

Dewan Nasional Armenia-Karabakh membuat Resolusi: “Rakyat Armenia-Karabakh sangat mendukung hak untuk menentukan nasib sendiri terhadap suatu bangsa. Selama ini rakyat Armenia-Karabakh selalu mendukung penentuan nasib sendiri bagi negara yang ada di sekitar Karabakh. Dengan ini, secara tegas kami melakukan protes terhadap upaya pemerintah Azerbaijan yang telah mengganggu dan melanggar hak ini. Kami tidak akan pernah mengakui kekuasaan Azerbaijan atas Nagorno-Karabakh.”

Penolakan tersebut membuat Inggris harus turun tangan dengan mengirimkan surat kepada Dewan Nasional Armenia-Karabakh yang berisi: “Atas Persetujuan Komandan Inggris. Dengan Ini kami mengangkat Dr. Khosrov Bek Sultanov untuk menjadi gubernur sementara bagi daerah Zangezur, Shusha, Jivanshir dan Jebrail. Daerah yang disebutkan tersebut harus segera diserahkan untuk dikelola demi kepentingan bersama.”

Dewan Nasional Armenia-Karabakh memberikan jawaban sebagai berikut: ”Dewan Nasional Armenia-Karabakh telah mempelajari dengan seksama berbagai fakta terkait dengan penunjukkan gubernur jenderal untuk Nagorno-Kharabah. Dari fakta yang dipelajari, kami sampai pada suatu kesimpulan masyarakat Karabakh tidak dapat menerima keputusan itu. Azerbaijan tidak mungkin dapat diterima oleh masyarakat Karabakh karena memiliki kekerasan dan pelanggaran hak yang pernah mereka lakukan terhadap orang Armenia. Kekerasan dan pelanggaran itu dilakukan secara tersistematis oleh pemerintah Azerbaijan. Dewan Nasional Armenia-Karabakh akan membuat seluruh dunia tahu bahwa mereka tidak menyetujui batas negara yang dibuat oleh Azerbaijan.”

Meskipun rakyat Karabakh sudah menunjukkan sikap tidak suka, Inggris tetap membantu Azerbaijan dalam mendapatkan Karabakh. Komandan Pasukan Inggris, Kolonel Schatelwort memperingatkan orang-orang Karabakh: “Saya peringatkan, segala sesuatu yang menunjukkan sikap berlawanan dengan Azerbaijan dan Gubernur Jenderalnya sama saja dengan menunjukkan sikap berlawanan dengan Inggris. Siapa yang melawan akan ditaklukkan.”

Ancaman Kolonel Schatelwort ternyata sama sekali tidak ditakuti oleh rakyat Nagarno-Karabakh. Dengan pasukan bersenjata lengkap, kolonel Schatelwort mendatangi Shusha pada akhir April 1919. Kolonel juga unjuk gigi terhadap kekuatan yang dimiliki Inggris agar membuat Nagarno-Kharabah gentar. Kolonel memaksa Dewan Nasional Armenia-Karabakh untuk bersedia menerima Gubernur Jenderal Sultanov di Nagarno-Karabakh.

Akan tetapi tuntutan Schatelwort langsung ditolak oleh Kongres dengan mengatakan: “Azerbaijan memiliki kaki tangan yang sangat kejam dan sering membantu Turki dalam membantai rakyat Armenia. Azerbaijan sering melakukan pembunuhan, perampokan terhadap semua orang Armenia. Azerbaijan ingin melakukan penghancuran terhadap budaya Armenia yang unik karena tidak memiliki kecenderungan ke Timur ataupun ke Eropa. Oleh karena itu, setiap resolusi yang berisi penggabungan ke Azerbaijan akan selalu ditolak.”

Penolakan yang dilakukan oleh Nagarno-Karabakh sudah tidak dapat diterima oleh Sultanov. Ia memutuskan untuk datang langsung ke Nagarno-Karabakh dengan membawa angkatan bersenjata dari Inggris beserta pasukan khusus yang dimiliki Azerbaijan. Sementara hampir seluruh tentara Azerbaijan lainnya bersiap untuk mengepung Armenia. Sultanov terlebih dahulu melakukan penyerangan dan perusakan ke berbagai desa-desa yang dihuni oleh orang-orang Armenia. Banyak penghuni desa yang dibantai secara kejam, bahkan penduduk desa Gayballu juga dibantai hingga menyebabkan 580 orang tewas.

Sultanov dan pasukan Azerbaijan mulai merangsek ke pusat kota. Sultanov beserta perwakilan dari Inggris memaksa Dewan Nasional Armenia-Karabakh untuk melibatkan mereka dalam Kongres Keenam. Namun kaena adanya ancaman dan tekanan yang kuat dari Sultanov, Kongres keenam pun tidak dapat menghasilkan apa-apa. Dalam kondisi yang ketakutan, Sultanov memanfaatkan Dewan Nasional untuk melakukan negosiasi.

Keduanya berunding dalam sebuah Konferensi Perdamaian di Paris. Hasilnya, Nagorno Karabakh masuk kedalam wilayah Republik Azerbaijan da harus menerima Gubernur Jenderal Sultanov. Ditambah dengan catatan, tentara Azerbaijan tidak boleh masuk ke Nagarno-Karabakh tanpa adanya ijin dari Dewan Nasional Armenia-Karabakh.

Perjanjian perdamaian tersebut ternyata menjebak Nagarno-Karabakh. Azerbaijan memang tidak mengirimkan tentaranya kedalam Nagarno-Karabakh tetapi mengirimkan intel dan pembunuh bayaran ke daerah itu. Masyarakat Armenia-Karabakh mengatakan bahwa Sultanov telah mengirim pembunuh bayaran dan gengster dari suku Kurdi dan Tatar untuk melakukan pembantaian besar. Dewan Nasional juga mengatakan dalam Kongres Ketujuh, “para pembunuh bayaran dan gengster itu telah membunuh banyak wisatawan yang ada di jalan, mencuri hewan ternak, memperkosa wanita, hingga membuat blokade ekonomi. Sultanov telah menghancurkan perjanjian perdamaian.”

Seketika itu Dewan Nasional Armenia-Karabakh langsung membatalkan perjanjian perdamaian dengan Sultanov. Mereka enggan untuk bergabung bersama Azerbaijan dan menolak kedudukan Sultanov sebagai Gubernur Jenderal untuk Nagorno-Karabakh.

Melihat keputusan Dewan Nasional ini, Sultanov kembali membujuk Dewan Nasional agar bersedia kembali bergabung. Pada tanggal 19 Febuari 1920, Sultanov mendatangi Dewan Nasional Armenia-Karabakh untuk “membahas solusi pemecahan masalah perdamaian antara Karabakh dengan Azerbaijan.

Dewan Nasional kemudian mengadakan Kongres Kedelapan yang berlangsung dari tanggal 23 Februari hingga 4 Maret 1920 dan menghasilkan keputusan untuk tetap tidak bergabung bersama Azerbaijan dan menolak permintaan Sultanov. Sultanov telah melanggar perjanjian perdamaian karena memberikan ijin tentara Azerbajian untuk masuk ke kawasan Nagarno-Karabakh serta melakukan pembunuhan terhadap warga Armenia.

Kasus pembunuhan masih berlangsung hingga tanggal 22 Februari dimana korbannya dibunuh di kawasan Khakendy-Askeran dan jalan yang menghubungkan antara Shusha dengan Evlakh. Keputusan tersebut diterima oleh Sultanov, hanya saja ia mengancam, “Penolakan bergabung dengan Azerbaijan hanya akan membuat sejarah terulang. Nagarno-Karabakh harus bersiap-siap memperkuat barisan pertahanannya.”[30]

Perang Nagarno-Karabakh

Ancaman dari Sultanov membuat banyak warga Armenia menjadi marah dan merencanakan penyerangan terhadap Azerbaijan. Rencananya penyerangan akan dilakukan pada tanggal 22 Maret karena bertepatan dengan Hari Besar Nouruz. Menurut perkiraan, pada hari itu Azerbaijan akan sibuk merayakan hari besar Nouruz dan melupakan pertahanannya.

Warga Armenia akan melakukan pemberontakan dengan merebut kawasan Askeran dan Khankendi dari tangan Azerbaijan. Tepat pada tanggal 22 Maret, warga Armenia melakukan pemberotakan dengan merebut Askeran dan Khankendi dari tangan Azerbaijan. Awalnya pemberontakan ini terbilang cukup berhasil namun mereka tidak mampu mempertahakannya karena koordinasi yang kurang baik. Pasukan Azerbaijan melakukan perlawanan yang lebih hebat dan berhasil merebut kembali kedua wilayah itu pada tanggal 3 April.

Pemberontakan itu membuat Azerbaijan marah dan melakukan penyerangan balik. Mereka menyerbu dari segala arah, mulai dari selatan kota Shusha, Giulistan, Kachen, Keshishkend dan Sigankh. Karabakh berusaha melakukan perlawanan dengan mengerahkan seluruh pasukannya yang berjumlah 30.000 orang. Sayang, jumlah pasukan Azerbaijan terlampau besar, Karabakh hanya mampu melakukan perlawanan terhadap pasukan Azerbaijan yag datang dari Kachen. Sedangkan selebihnya tidak terbendung lagi.

Serangan Azerbaijan semakin kuat dan semuanya mengarah ke kota Shusha yang dianggap sebagai pusat Karabakh-Armenia. Pasukan Karabakh tidak mampu membendung serangan itu lagi. Kota Shusha pun berubah menjadi ladang pembantaian yang sangat mengerikan.[31]

Kekejaman pembantaian itu sempat membuat beberapa pasukan Azerbaijan tidak tega untuk melakukannya. Dalam salah satu surat yag ditujukan kepada saudaranya, seorang tentara Azerbaijan melukiskan kondisi di kota Shusha yang porak poranda,”Kota Shusha Armenia saat ini dalam kondisi hancur dan hanya tersis 5 hingga 10 rumah saja. Lebih dari 1000 orang Armenia ditangkap untuk dijadikan sebagai tawanan. Semua pria yang ada disana dibantai, tanpa peduli kekayaan dan jabatannya. Kekayaan Armenia dirampas tanpa pernah terhitung berapa jumlahnya.”[32]

Tokoh komunis Azerbaijan, Musaev juga menggambarkan kekejaman negaranya sendiri, ”Pasukan Azerbaijan dengan kejam telah membunuh perempuan yang sudah tidak berdaya, anak-anak dan orang tua. Sebagian diantara mereka bahkan disembelih seperti binatang. Gadis-gadis Armenia juga diperkosa, disiksa dan ditembak. Sultanov juga memerintahkan pasukannya untuk menjarah semua rumah di Shusha dan membakarnya hingga menjadi abu. Semua tentara dipersilakan untuk mengambil perempuan Armenia manapun.”

Pemimpin Komunis Soviet, Grigoriy Ordzhonikidze dalam sebuah pidato bela sungkawanya mengatakan,”Kota yang paling indah di Armenia telah dihancurkan. Tidak hanya sekedar dihancurkan tapi juga dibenamkan hingga ke dasar tanah. Mayat perempuan dan anak-anak berserakan dan ditenggelamkan begitu saja didalam sumur.”

Jumlah korban dalam pembantaian tersebut diperkirakan berkisar antara 20 ribu[33] hingga 35 ribu orang.[34] Sedangkan untuk jumlah rumah yang hancur diperkirakan antara 2 ribu[35] hingga 7 ribu rumah.[36] Buku besar Ensiklopedia Soviet menyebutkan bahwa peristiwa tersebut menyebabkan 20% dari penduduk (sekitar 30 ribu orang) Nagorno Karabakh hilang. Dari jumlah tersebut, 94% merupakan penduduk dari bangsa Armenia.[37]

Tragedi tersebut menjadi memori warga Karabakh atas kecerobohan yang pernah mereka lakukan. Kekalahan tersebut menyebabkan kota Shusha kehilangan ribuan penduduknya dan hanya tersisa 5.000 orang saja. Bahkan populasinya hingga tahun 1989 tidak pernah lebih dari 17.000 orang.[38] Kota Shusha pun berubah menjadi kota mati.

Kejadian itu membuat Dewan Nasional Armneia-Karabakh mengadakan Kongres Kesembilan dan mengeluarkan sebuah deklarasi yang isinya menolak Azerbaijan dan lebih memilih untuk menjadi bagian dari Armenia:

“Atas dasar perjanjian perdamaian yang dibuat pada Kongres Ketujuh, maka disimpulkan bahwa Azerbaijan telah melakukan pelanggaran kedua terhadap isi perjanjian perdamaian tersebut. Azerbaijan secara terorganisir melakukan penyerangan terhadap warga Shusha dan warga desa lainnya. Oleh karena itu dalam Kongres ini diputuskan bahwa Nagorno-Karabakh masuk menjadi bagian penting dari Armenia.”[39]

Namun Nagorno-Karabakh belum sempat menjadi bagian dari Armenia karena adanya perubahan suasana politik internasional. Tentara Bolshevik menginvasi seluruh wilayah Transkaukasus dan memasukkannya menjadi bagian dari Uni Soviet. Negara-negara itu tergabung dalam SFSR Transkaukasus.

Era Uni Soviet

Pada tahun 1921, hampir semua negara yang berada di wilayah Transkaukasus (termasuk Azerbaijan dan Armenia) dikuasai oleh tentara Bolshevik dari Rusia. Kawasan Nagorno Karabakh juga turut dikuasai, tentara Bolshevik berjanji akan membantu menyelesaikan masalah Nagorno Karabakh yang masih diperdebatkan oleh Azerbaijan dan Armenia. Nagorno Karabakh pun diberi otonomi khusus menjadi Nagorno Karabakh Autonomous Oblast (NKAO).

Tidak hanya Nagorno Karabakh, pasukan Bolshevik juga berjanji untuk membantu menyelesaikan masalah Nakhchivan dan Zanzegur, dua wilayah yang dihuni oleh bangsa campuran antara Azerbaijan dan Armenia. Kedua wilayah tersebut secara de facto merupakan milik Armenia namun masih dipersengketakan oleh Azerbaijan sehingga sering menimbulkan konflik.

Namun saat itu Rusia sedang mengalami tekanan dari Turki. Pemerintah Turki secara tidak langsung meminta Rusia menyerahkan kawasan sengketa kepada Azerbaijan. Untuk menenangkan Turki, Rusia berjanji untuk memberikan kawasan sengketa kepada Azerbaijan.

Janji tersebut ternyata dipenuhi, pada tahun 1923 Nagorno Karabakh yang berstatus sebagai NKAO diserahkan kepada RSK Azerbaijan. Tidak hanya itu, kawasan Nakhchivan yang sebelumnya secara de facto menjadi milik Armenia juga diserahkan kepada Azerbaijan. Armenia hanya mendapat Zanzegur. Keputusan ini membuat Armenia meradang dan menuntut Pemerintahan Uni Soviet yang telah berlaku sewenang-wenang terhadap negara mereka.

“Uni Soviet telah menyerahkan wilayah Nagorno Karabakh kepada Azerbaijan, padahal ketika itu lebih dari 94 persen penduduk Nagorno Karabakh adalah etnis Armenia. Kini jumlah etnis Azerbaijan sudah menunjukkan pertumbuhan pesat, masyarakat Armenia mulai kesal karena mendapat perlakuan diskriminatif dari pemerintah Azerbaijan. Pada tahun 1960, saat jumlah populasi Armenia dan Azerbaijan seimbang, permusuhan tidak dapat terhindarkan.”[40]

Selama 65 tahun berada dibawah kekuasaan Azerbaijan, orang Armenia yang ada di Karabakh merasa kegiatan mereka dibatasi oleh pemerintah Azerbaijan. Inti ketidakpuasan masyarakat Armenia terletak pada kebijakan pemerintah Azerbaijan yang cenderung de-Armeniasisai atau pemutusan hubungan antara Nagorno-Karabakh dengan Armenia dari segi budaya.

Masyarakat Armenia yag tinggal di Nagorno Karabakh dan seringkali diperlakukan tidak adil. Kondisi ini membuat banyak warga Armneia yang akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Azerbaijan. Berbagai kebijakan yang menyangkut masalah ekonomi pun tidak memihak pada warga Armenia.[41]

Sensus jumlah penduduk yang diadakan pada tahun 1979 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Armenia semakin mengecil sedangkan penduduk Azerbaijan tumbuh dengan pesat. Dari total jumlah penduduk Nagorno Karabakh yang berjumlah 162.200 orang, 123.100 orang diantaranya (75,9%) merupakan etnis Armenia sedangkan 37.300 orang (22,9%) adalah etnis Azerbaijan.[42]

Jika dihitung secara matematis, jumlah penduduk Armenia di Nagorno Karabakh sebenarnya masih sangat mendominasi tetapi jika kita bandingkan dengan data sensus penduduk pada tahun 1929, kondisi ini dapat dikatakan sebagai anjloknya jumlah penduduk Armenia karena saat itu jumlah penduduk Armenia di Nagorno Karabakh mencapai 94%. Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya kebijakan penggusuran terhadap warga Armenia. Hingga tahun 1980, tercatat sudah ada 85 desa (30%) dari etnis Armenia yang digusur oleh pemerintah Azerbaijan. [43] Sedangkan desa Azerbaijan diperlakukan istimewa.

Pada tanggal 20 Februari 1988, masyarakat Nagorno Karabakh melakukan referendum tidak resmi yang hasilnya menuntut agar Nagorno Karabakh diserahkan kepada Armenia. Referendum tersebut diwujudkan dalam sebuah petisi yang ditandatangani oleh 80.000 orang. Surat referendum tersebut diserahkan kepada Dewan Tertinggi Uni Soviet, Armenia, dan Azerbaijan.

Hasil referendum tersebut sempat membuat Nagorno Karabakh sedikit memanas karena masyarakat Azerbaijan yang tinggal di Nagorno Karabakh tidak menyetujui hasil referendum tersebut dan melakukan protes terhadap warga Armenia. Protes tersebut ditanggapi dengan aksi tandingan, pada tanggal 24 Februari 1988 warga Armenia juga ikut turun ke jalan.

Aksi protes dua kubu ini berubah menjadi bentrokan berdarah yang menewaskan hingga 50 orang demonstran Armenia dan seorang polisi lokal. Dalam waktu singkat, bentrokan berkembang luas ke berbagai wilayah. Salah satunya di kota Sumgait yang terletak sekitar 25 km dari kota Baku, Ibukota Azerbaijan. Warga Azerbaijan yang kesal menyerbu pemukiman Armenia dan menewaskan 32 orang., laporan resmi mengatakan bahwa korban terdiri dari 6 orang warga Azerbaijan dan 26 orang warga Armenia.[44] Sedangkan US Library of Congress menyebutkan bahwa jumlah korban mencapai 100 orang Armenia.[45]

Sementara di berbagai wilayah lainnya seperti di kota Gugark dan Spitak[46] juga terjadi penyerbuan, kali ini warga Armenia balas meyerbu pemukiman Azerbaijan dan menewaskan 216 orang termasuk 57 perempuan, 5 bayi dan 18 anak. Bentrokan tersebut menyebabkan banyak orang Azerbaijan dan Armenia yang mengungsi dari negaranya karena menjadi target serangan.

Pada tahun 1989, Moskow memberikan wewenang sepenuhnya kepada Azerbaijan untuk mengatasi perpecahan yang terjadi di Nagorno Karabakh. Namun keputusan Moskow tersebut menjadi bumerang karena pemerintah Azerbaijan dengan mudah melakukan tindakan represif terhadap Armenia.

Dalam sebuah pertemuan antara Dewan Nasonal Nagorno Karabakh dengan Dewan Tertinggi Soviet untuk Armenia memutuskan untuk memindahkan kekuasaan Nagorno Karabakh dari Azerbaijan ke Armenia. Dewan Nasional memproklamirkan penggabungan Nagorno Karabakh dengan Armenia. Keputusan tersebut langsung disambut dengan demontrasi besar-besaran warga Azerbaijan.

Puncaknya, pada bulan Januari 1990 warga Azerbaijan mengamuk dan menyerang warga Armenia yang masih tersisa baik di kota Baku maupun kota lainnya di Azerbaijan. Moskow baru memberikan perlindungan terhadap warga Armenia setelah mereka babak belur dihajar warga Azerbaijan.

Kehadiran pasukan dari Moskow sama sekali tidak membantu dan justru semakin menambah masalah. Kehadiran pasukan Moskow disambut dengan serangan dari Azerbaijan Populer Front (APF). Masalahnya pun semakin rumit karena warga Azerbaijan yang tergabung dalam APF tersebut juga ingin membentuk negara sendiri yang berasaskan Islam. Mereka mengangkat Mutalibov sebagai presidennya, aksi protes berkembang menjadi aksi pemberontakan.

Mereka kecewa dengan keputusan Dewan Tertinggi Soviet untuk Armenia yang telah membantu Nagorno Karabakh pindah ke tangan Armenia. Pemberontakan pun semakin berkembang, berbagai kontak senjata mengakibatkan pasukan APF kehilangan 122 anggotanya dan akhirnya menyatakan kalah.

Banyak ahli yang mengatakan bahwa pengiriman pasukan Moskow waktu itu bukanlah untuk melindungi warga Armenia tetapi lebih ditujukan untuk memerangi APF dan melindungi wilayahnya agar tidak lepas dari kekuasaan Uni Soviet. Bantuan dari Moskow lebih bersifat politis daripada kemanusiaan.

Tuduhan tersebut didasarkan pada fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa sebenarnya saat warga Armenia diserbu oleh Azerbaijan, ada begitu banyak pasukan Garda Nasional yang tidak membantu untuk mencegah penyerbuaan, pembunuhan, penyiksaan terhadap 300.000 warga Armenia yang ada di kota Baku saat itu. Pasukan tersebut juga diam saja ketika pasukan Azerbaijan turut membantu warganya dalam menyerbu warga Armenia.

Sementara itu kondisi Uni Soviet sedang berada diambang kehancuran. Banyak negara yang ramai-ramai memutuskan untuk memerdekakan diri. Kesempatan ini berusaha dimanfaatkan oleh Nagorno Karabakh, warga Armenia kembali menggelar referendum yang memutuskan bahwa kemerdekaan Nagorno Karabakh sebagai negara merdeka. Referendum tersebut langsung ditolak oleh masyarakat Azerbaijan yang menginginkan Nagorno Karabakh untuk tetap bergabung dengan negara Azerbaijan.

Namun setelah menempuh jalur hukum diputuskan bahwa Nagorno Karabakh tidak bisa memerdekakan diri karena ketika menjadi bagian Uni Soviet, status Nagorno Karabakh bukanlah negara tetapi hanay sebagai daerah otonomi khusus. Konstitusi Uni Soviet hanya mengakui adanya 15 negara, mereka berhak untuk memerdekakan diri sedangkan Nagorno Karabakh dianggap sebagai bagian dari Azerbaijan sehingga tetap ikut kepada induknya.

Masyarakat Armenia di Nagorno Karabakh tidak puas, mereka melakukan perlawanan terhadap Azerbaijan untuk menuntut kemerdekaan. Pertempuran antara pasukan Azerbaijan dengan pasukan Nagorno Karabakh langsung menyambar dengan cepat. Dengan bantuan Armenia, Nagorno Karabakh bertempur dengan Azerbaijan. Tanpa menunggu waktu lama, kedua pihak langsung berperang dan sebuah tragedi kemanusiaan baru saja dimulai.

Perang Nagorno Karabakh 1991

Pecahnya Uni Soviet membuat Armenia dan Azerbaijan berubah menjadi negara merdeka dan memiliki kebebasan mutlak dalam menentukan keputusan. Jika sebelumnya keputusan mereka terkait Nagorno Karabakh banyak terganjal oleh halangan dari Uni Soviet, kali ini keduanya pun bebas untuk saling memperebutkan Nagorno Karabakh.

Konflik tersebut semakin berlarut-larut karena adanya dukungan dari berbagai pihak. Azerbaijan secara matematis seharusnya dapat memenangi pertempuran itu dengan mudah karena selama menjadi bagian dari Uni Soviet, Azerbaijan sering menjadi tempat pangkalan militer. Jumlah militer dan persenjataan yang dimiliki oleh Azerbaijan pun lebih banyak jika dibandingkan dengan Armenia. Berikut ini adalah tabel perbandingan kekuatan militer yang dimiliki oleh Armenia, Azerbaijan dan Nagorno Karabakh:[47][48][49]

Namun pada aplikasi di lapangan, ditemukan kejanggalan karena pasukan Armenia dan Nagorno Karabakh begitu tangguh menghadapi serangan dari Azerbaijan. Para analis mengatakan bahwa kekuatan yang dimiliki oleh Armenia tidak terlepas dari peran Rusia yang secara rutin membantu pasokan militer ke Armenia, banyak persenjataan yang dijual ke Armenia selama perang.

Analisa ini semakin dikuatkan oleh ucapan seorang pejabat militer dari Rusia, Jenderal Lev Rokhlin yang mengatakan bahwa Rusia melakukan penjualan amunisi secara ilegal dengan Armenia yang total nilai penjualannya mencapai satu miliar dollar AS. Senjata ilegal tersebut dipasok dari tahun 1992 hingga 1996. Namun pernyataan tersebut dibantah oleh Armenia dan mengatakan bahwa Rokhlin justru lebih sering memasok senjata ke Azerbaijan secara ilegal.[50]

Dalam suatu kesempatan, Menteri Pertahanan Rusia Igor Rodionov juga mengatakan bahwa Departemen Pertahanan Rusia telah memberikan bantua persenjataan kepada Armenia dalam jumlah besar meliputi 84 Tank jenis T-72, 50 kendaraan lapis baja pengangkut personel. Semuanya dikirim secara ilegal dan gratis tanpa adanya otorisasi dari pemerintah Rusia.[51] Pernyataan tersebut langsung ditolak oleh pemerintah Armenia dengan mengatakan bahwa negaranya tidak pernah mendapatkan apa yang dikatakan oleh Rusia.

Para analis barat mengatakan bahwa perang antara Armenia dan Azerbaijan telah banyak dimanfaatkan oleh Rusia sebagai ladang bisnis senjata militernya. Rusia selalu memberikan dukungan kepada Armenia, namun disisi lain juga memberikan dukungan kepada Azerbaijan.[52]

Fakta lain terkait perang Nagorno Karabakh tahun 1991 ini adalah kedua belah pihak, baik Armenia maupun Azerbaijan menggunakan tentara bayaran. Armenia banyak menggunakan tentara bayaran yang berasal dari Rusia dan berbagai negara persemakmuran lainnya. Beberapa diantaranya sempat tertangkap dan dibunuh oleh pasukan Azerbaijan.[53] Panglima perang Cechnya, Shamil Basayev juga turut serta dalam membantu pasukan Armenia.[54]

Demikian pula dengan Azerbaijan, mereka banyak menggunakan tentara bayaran yang berasal dari Afghanistan, Iran dan erbagai negara sekitarnya. Bahkan, The Wall Street Journal menganalisa adanya keterlibatan Turki dalam pengaturan strategi pasukan Azerbaijan. Mereka direkrut langsung oleh Presiden Azerbaijan, Heydər Əliyev.

The Washington Post juga menemukan fakta bahwa Azerbaijan melakukan kerjasama dengan Perdana Menteri Afghanistan, Gulbuddin Hekmatyar dalam pengadaan lebih dari 1.000 orang perjuang. Sementara pasukan lainnya direkrut dari Turki dan Iran yang berfungsi sebagai pengatur strategi dalam pertempuran. Azerbaijan juga merekrut 200 tentara dari Rusia yang bertugas untuk memberi taktik dasar pada prajurit Azerbaijan yang berada di kota Barda, bagian barat laut Azerbaijan.

Menurut Human Rights Watch, sejak pertama kali bertempur melawan Azerbaijan di Nagorno Karabakh, Armenia sudah mendapatkan begitu banyak dukungan dari Rusia. Bantuan tersebut mulai dari persenjataan hingga relawan, bantua dari Rusia mengalami puncaknya ketika Azerbaijan melakukan serangan ke Armenia pada bulan Desember 1993.

Sedangkan untuk persediaan pasukan dari dalam negeri, Armenia melakukan segala cara mulai dari melakukan perekrutan pasukan militer secara besar-besaran hingga mengirimkan pasukan wajib militer ke Nagarno Karabakh. Pemerintah Armenia juga mengeluarkan Surat Keputusan No. 129 tentang mekanisme perekrutan pasukan wajib militer. [55] SK tersebut diimplementasikan dengan melakukan razia terhadap semua laki-laki yang berusia dibawah empat puluh lima tahun untuk ditugaskan di medan pertempuran.

Pada akhir tahun 1993, konflik Nagorno Karabakh telah membuat ribuan hingga ratusan ribuan penduduk di kedua negara terusir dari tempat tinggalnya dan menjadi pengungs ke berbagai negara. dalam pidato nasional bula November 1993, Presiden Azerbaijan Əliyev mengatakan bahwa 16.000 tentara Azerbaijan telah meninggal dunia sementara 22.000 lainnya mengalami luka-luka dalam pertempuran yang menelan waktu hingga bertahun-tahun. PBB memperkirakan ada sekitar 1 juta penduduk Azerbaijan yang berstatus sebagai pengungsi.[56]

Dunia internasonal telah berkali-kali melakukan upaya perdamaian. Para pejabat dari negara tetangga seperti Iran, Kazakhstan, Rusia dan berbagai negara lainnya telah mencoba untuk memediasi keduanya. Organisasi internasional seperti PBB dan Eropa juga telah turun tangan.

Akan tetapi semuanya menemui jalan buntu, kalaupun berhasil mengadakan perjanjian perdamaian biasanya salah satu diantara mereka akan melakukan pelanggaran sehingga perdamaian batal untuk dilaksanakan. Kali ini justru Armenia yang banyak berlaku ofensif dengan melakukan penyerangan ke berbagai wilayah Azerbaijan. Beberapa negara tetangga seperti Turki dan Iran pun mulai cemas karena serangan yang dilakukan oleh Armenia terhadap Azerbaijan tersebut berada di perbatasan dengan Iran dan Turki.

Iran dan Turki memperingatkan Armenia untuk menghentikan operasi ke kawasan yang berbatasan dengan wilayah asing karena dapat mengundang musuh baru. Pada tahun 1993, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan peringatan kepada pasukan Armenia untuk menghentikan penyerangan ke kawasan Azerbaijan.

Pada bulan September 1993, Turki memperkuat pasukannya di sepanjang perbatasan antara Turki dengan Armenia dan mengeluarkan peringatan agar Armenia menarik pasukannya dari Azerbaijan dengan segera dan tanpa syarat apapun. Pada saat yang sama, Iran melakukan manuver militer di atas kawasan Nakhichevan sebagai tanda peringatan kepada Armenia.[57]

Iran mengusulkan untuk membuat sebuah zona keamanan selebar dua puluh kilometer di sepanjang perbatasan Iran dan Azerbaijan. Kawasan itu akan dilindungi oleh Iran. Selain itu Iran juga berkontribusi dengan memberikan bantuan pemeliharaan kamp yang terletak di barat daya Azerbaijan. Bantuan tersebut meliputi pembuatan rumah dan penyediaan pangan untuk 200.000 orang warga Azerbaijan yang tinggal di pengungsian.

Pada awal tahun 1994, pasukan Azerbaijan sempat menunjukkan tanda-tanda kemenangan. Presiden Əliyev juga berjanji akan merebut dengan segera wilayah yang telah direbut oleh Armenia dan membawa pulang warga Azerbaijan yang tinggal di pengungsian. Saya tidak berlangsung lama, kekuatan Armenia justru semakin aktif dan mengalahkan kembali pasukan Azerbaijan.

Satu per satu kawasan Nagorno Karabakh mulai berhasil direbut oleh bangsa Armenia. Pada bulan Mei 1994, pasukan Armenia semakin banyak memperoleh kemanagan dan berhasil menguasai 20 persen wilayah Nagorno Karabakh yang tadinya dikuasai oleh Azerbaijan.

Kemenangan Armenia ini membuat status Nagorno Karabakh menjadi naik. Nagorno Karabakh dianggap sebagai kawasan yang merdeka dan berhak mengadakan perjanjian dengan Azerbaijan. Kondisi Azerbaijan yang semakin lemah membuat mereka hanya bisa pasrah dan bersedia untuk bernegosiasi dengan Nagorno Karabakh denga status yang setara.

Pada tanggal 12 Mei 1994 diperoleh kesepakatan bahwa Azerbaijan harus meninggalkan kawasan Nagorno Karabakh. Sebagai akibat dari perjanjian ini, warga Azerbaijan dan pasukan Azerbaijan yang masih tertinggal di Nagorno Karabakh diusir, mereka yang tinggal di sekitar Nagorno Karabakh juga diusir. Pasukan Rusia juga turut membantu Armenia dengan mengusir warga Azerbaijan yang tinggal di kawasan Shahumyan.

Wilayah ini dijadikan sebagai jalur penghubung antara Nagorno Karabakh dan Armenia, melintang di tengah kawasan Azerbajian. Kawasan tersebut diperbolehkan untuk digunakan sebagai jalur lintas antara Nagorno Karabakh dan Armenia, dan diberi nama koridor Lachin. Namun status kepemilikannya tetap menjadi milik Azerbaijan. Konflik antara keduanya pun akhirnya mereda.

 

 

Azerbaijan dan Armenia menyetujui untuk mengadakan gencatan senjata. Dengan di mediasi oleh Rusia, perjanjian gencatan senjata antar keduanya pun berhasil ditandatangani pada tanggal 12 Mei 1994.

 

Kondisi Terkini

 

Meskipun keduanya sudah mengadakan perjanjian gencatan senjata, namun bukan berarti konflik berhenti begitu saja. Didalam wilayah Nagorno Karabakh konflik senjata antara pasukan Armenia dengan Azerbaijan masih saja berlangsung.[1] Pasukan Armenia banyak melakukan pelanggaran kemanusiaan terhadap warga Azerbaijan, tindakan ini banyak dikecam oleh masyarakat internasional. Pada tanggal 25 Januari 2005, Uni Eropa lewat Parliamentary Assembly of the Council of Europe mengeluarkan Resolusi 1416 yang berisi perintah kepada Armenia untuk menghentikan tindakan ethnic cleansing terhadap warga Azerbaijan[2] dan berhenti mengokupasi wilayah Azerbaijan.[3]

 

Tindakan Uni Eropa ini diikuti pula oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI). Dewan Menteri Luar Negeri OKI dalam pertemuan tahunan pada 15-17 Mei 2007 mengeluarkan resolusi No. 7/34-P yang berisi perintah agar Armenia berhenti mengokupasi wilayah Azerbaijan, berhenti melakukan agresi terhadap Azerbaijan, berhenti melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap warga Azerbaijan, dan berhenti melakukan penghancuran terhadap benda cagar budaya, dan tempat-tempat keagamaan di wilayah yang diokupasi.

 

Pada pertemuan OKI di Dakar tanggal 13-14 Maret 2008, OKI kembali mengeluarkan Resolusi No. 10/11-P (IS) yang isinya hampir sama dengan resolusi sebelumnya.[4] Resolusi OKI ini juga didukung oleh PBB, lewat Sidang Majelis Umum pada tanggal 14 Maret 2008, PBB mengeluarkan Resolusi No.62/243 yang berisi perintah kepada Armenia untuk segera meninggalkan wilayah Azerbaijan yang diokupasi dan mengembalikannya kepada Azerbaijan tanpa syarat dan secara utuh.[5] Pada bulan Agustus 2008, AS, Perancis dan Rusia mengadakan perundingan upaya penyelesaian konflik secara penuh. Ketiganya mengusulkan untuk diadakan referendum di wilayah sengketa.[6]

 

Kuatnya desakan masyarakat interasonal ini membuat Presiden Armenia, Serzh Sarkisian dan Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev untuk mengadakan pertemuan di Moskow. Pertemuan tersebut dilaksanakan pada tanggal 2 November 2008 dengan dimediasi oleh Dmitry Medvedev, pertemuan tersebut menghasilkan sebuah deklarasi bersama tentang komitmen untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut.[7] Keduanya akan mengadakan pertemuan lagi di Rusia tepatnya di kota Saint Petersburg.[8]

 

Pada tanggal 22 November 2009, Presiden Azerbaijan, Presiden Armenia dan beberapa pemimpin negara lainnya berkumpul di Munich untuk melakukan pembicaraan upaya perdamaian di Nagorno Karabakh. Presiden Aliyev sempat mengancam akan menggunakan kekuatan militer untuk merebut kembali Nagorno Karabakh jika pembicaraan tersebut tidak menghasilkan apapun.[9]

 

Pembicaraan yang selalu mengalami jalan buntu membuat perjanjian gencatan senjata pun pecah dan mengakibatkan pertempuran antara kedua belah pihak. Pada tanggal 18 Februari 2010 dilaporkan tiga tentara Azerbaijan dan satu terluka dalam pertempuran.[10] Pertempuran sempat berhenti namun pada bulan November kembali berkobar karena seorang penembak jitu Armenia secara sengaja memancing pertempuran dengan menembak pasukan Azerbaijan.[11] Penembak jitu Azerbaijan membalas dengan menembak pasukan Armenia, pertarungan antar penembak jitu ini menewaskan 12 orang dari kedua pihak.

 

Sekjen PBB, Ban Ki Moon menyerukan agar semua penembak jitu ditarik dari wilayah sengketa agar tidak membuat resah.[12] Masalah tidak juga selesai, Juru Bicara Departemen Pertahanan Azerbaijan, Letnan Kolonel Eldar Sabiroglu melaporkan bahwa pasukan Armenia masih sering menggunakan senapan mesin dan pelontar granat untuk memancing penyerangan.

 

Berbagai usaha telah dilakukan oleh masyarakat Internasional namun hingga tulisan ini dibuat (September 2011) tidak ada satu pun Resolusi dari PBB, OKI hingga Uni Eropa yang berhasil dilaksanakan. Ada solusi?

 


[1] Lihat: http://www.arak29.am/PDF_PPT/origins_2004.pdf

[2] Strabo. “Geography”. 11. 14. 4.

[8] Lihat Stepan Lisitsian dalam buku Armenians of Nagorno-Karabakh; halaman 44.

[23] Lihat buku Tadeusz Swietochowski. Russia and Azerbaijan: A Borderland in Transition.

[24] Lihat buku Firuz Kazemzadeh, Ph. D. The Struggle For Transcaucasia: 1917–1921.

[33] Lihat: Richard G. Hovannisian. The Republic of Armenia, Vol. III: From London to Sèvres, February–August 1920

[34] Lihat: http: // pda.regnum.ru/news/611517.html

[37] Lihat: De Waal, Thomas. Black garden: Armenia and Azerbaijan through Peace and War. New York: New York University Press, 2003. hlm. 130.

[40] Laporan yang berjudul Azerbaijan, a Country Study oleh US Libraryo of Congress Federal Research Divison.

[47] Lihat: Chorbajian, Levon; Patrick Donabedian, Claude Mutafian(1994). The Caucasian Knot: The History and Geopolitics of Nagorno-Karabagh. London: Zed Books. hlm. 13–18.

[48] Lihat juga: International Studies for Strategic Studies (1993). The Military Balance, 1993-1994. London. Hlm. 68-73.

[50] Lihat: Robert H. Hewsen. The Kingdom of Arc’ax. In Medieval Armenian Culture (University of Pennsylvania Armenian Texts and Studies). Thomas J. Samuelian and Michael E. Stone (eds.) Chico, California: Scholars Press, 1984, hlm. 54-55.

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    Nice article. Infonya mendetail & sumber-sumbernya juga lengkap. Kebetulan saya dulu juga pernah bikin artikel soal Nagorno-Karabakh ini, tapi pembahasannya cuma sebatas seputar perangnya

    Oh ya, mungkin bisa dibahas juga soal kebijakan transfer populasi yg dilakukan di era Tsar Rusia sehingga wilayah Nagorno-Karabakh yg sebenarnya ada di tengah2 wilayah Azerbaijan justru penduduk mayoritasnya adalah etnis Armenia, sementara wilayah Nakchivan yg berada di sebelah barat daya Armenia & tidak terhubung dengan Azerbaijan secara geografis juga memiliki penduduk mayoritas dari etnis Azeri. Masalahnya, konon akibat persebaran populasi yg tidak biasa itu & masing2 negara mengklaim punya hak atas wilayah tersebut, Armenia kerap berselisih dengan Azerbaijan hingga sekarang 🙂

    • 2

      kakniam said,

      wah, terima kasih atas tanggapannya..
      saya juga baru saja membuka blog anda dan ternyata sangat menarik..
      mungkin kedepan, bisa menjadi sebuah diskusi yang menarik..


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: