Uni Eropa versus Free Trade

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Uni Eropa dengan konsep pasar tunggal yang dimiliki ternyata tidak membuat perdagangan menjadi lebih bebas dari yang dilakukan oleh pasar bebas. Perdagangan yang dilakukan oleh Uni Eropa dengan konsep pasar tunggalnya ternyata justru menimbulkan masalah sendiri karena disini banyak terjadi interensi dari pemerintah Uni Eropa itu sendiri.

Pemerintah Uni Eropa terlalu banyak mengintervensi secara politik atas perdagangan yang terjadi di kawasan itu. Kita ambil contoh sederhana terkait dengan masalah pelarangan impor minyak sawit yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Pelarangan ini didasarkan pada isu degradasi hutan yang terjadi di kedua negara akibat perluasan perkebunan minyak sawit.

Implementasi dari kebijakan tersebut adalah pelarangan impor segala jenis minyak sawit yang berasal dari Indonesia dan Malaysia, tanpa pandang bulu terkait perusahaan mana saja yang melakukan pelanggaran tersebut. Intinya semua produk minyak sawit dari kedua negara tidak dapat masuk ke Uni Eropa.

Peristiwa serupa tidak hanya dialami oleh Indonesia dan Malaysia, sudah banyak negara yang menjadi korban dari kebijakan Uni Eropa tersebut.  Banyak pihak yang mencurigai bahwa konsep pasar tunggal yang ada saat ini cenderung menciptakan merkantilisme gaya baru karena mendorong kawasan regional untuk saling menutup diri dengan kawasan regional lain.

Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang diatas, kami tertarik untuk membahas permasalahan yang terjadi antara konsep pasar tunggal Uni Eropa dengan konsep pasar bebas yang ada saat ini. Pertanyaan utama yang kami ajukan dalam makalah ini adalah benarkah Uni Eropa cenderung untuk membentuk merkantilisme gaya baru? Konsep mana yang lebih baik antara pasar bebas dengan pasar tunggal jika ditinjau dari sudut pandang liberalisme?

BAB II
PEMBAHASAN

Konsep Uni Eropa

Pada dasarnya konsep ekonomi dan perdagangan yang digunakan oleh Uni Eropa adalah menggunakan konsep pasa tunggal. Secara teori, konsep pasar tunggal merupakan kombinasi antara free trade area, regulasi hukum bersama, dan kebebasan pergerakan terkait dengan faktor pendukung produksi (seperti masalah keuangan dan pasar tenaga kerja).

Tujuan utama dari pasar tunggal ini untuk memudahkan pergerakan barang, jasa, tenaga kerja dan keuangan dalam suatu kawasan bersama. Dari sini diharapkan liberalisasi perdagangan dapat berjalan dengan sangat lancar sehingga mendukung perekonomian di kawasan tersebut.

konsep pasar tunggal tersebut semakin dengan adanya dukungan secara fisik (berupa penghilangan batas-batas negara), teknik (standar perdagangan), dan fiskal (peniadaan pajak) antar sesama anggota pasar tunggal. Secara teori, konsep tersebutlah yang sedang diterapkan oleh Uni Eropa.

Dalam hal ini, anggota Uni Eropa secara bersama-sama membentuk sebuah kawasan regional yang sedemikian bebas sehingga antar sesama negara anggota saling membuka diri dengan mengabaikan batas-batas negara, membuat standar perdagangan bersama, dan meniadakan pajak antar sesama anggota.

Kinerja konsep tersebut didasarkan pada keinginan antar anggota untuk memperluas kinerja ekonomi dan perdagangannya dengan cara saling membuka diri antar sesama anggota. Secara sekilas, konsep ini terkesan meganut konsep neo liberalise karena perekonomian yang ada dibuka dengan sangat lebar sehingga membebaskan berbagai halangan dalam ekonomi.

Namun dalam prakteknya, konsep ini justru menimbulkan sebuah masalah baru karena adanya semangat regionalisme yang terlalu tinggi sehingga membuat sesama pandangan sempit terhadap regionalisme lain. Pemahaman ini dicurigai justru akan menjadi sebuah ne merkantilisme baru, dimana aktornya bukan lagi sekedar negara tetapi meluas sebagai kawasan regional.

Konsep Free Trade

Konsep free trade sebenarnya juga memiliki konsep yang hampir sama dengan konsep pasar tunggal. Keduanya sama-sama memiliki tujuan untuk membentuk kemudahan ekonomi dan meliberalisasikan perdagangan sehingga arus barang dan uang dapat berjalan dengan cepat.

Free trade sendiri merupakan sebuah kebijakan perdagangan yang dilakukan secara lintas negara tanpa adanya intervensi dari negara secara berlebihan. Intervensi negara hanya akan menimbulkan sikap proteksonis yang justru akan menghambat pertumbuhan perdagangan suatu negara.

Intervensi yang dimaksud tersebut meliputi subsidi, pajak, tarif, quota dan regulasi sejenis yang bertujuan untuk memproteksi produk dalam negeri. Dalam jangka panjang, free trade ini bertujuan untuk; (1) Menciptakan arus barang  dan jasa tanpa ada hambatan berupa pajak, tarif dan hambatan lainnya, (2) Bebas akses untuk pasar dan informasi pasar, (3) Menghindarkan pasar dari kekuatan monopoli dan oligopoli, (4) Kemudahan arus barang dan finansial.

Konsep free trade yang bebas dari intervensi pemerintah membuat perdagangan menjadi lebih seimbang dan bebas antar sesama anggota. konsep inilah yang ingin kami benturkan dengan konsep Uni Eropa yang cenderung ke arah merkantilisme gaya baru.

Uni Eropa versus Free Trade

Kembali ke masalah konsep. Sebenarnya jika ditinjau secara teoretis, tidak ada perbedaan yang berarti antara konsep pasar tunggal yang dimiliki oleh Uni Eropa dengan free trade. Keduanya memiliki kesamaan tujuan untuk menciptakan perdagangan yang liberal dan seimbang terhadap semua negara anggota. apalagi konsep pasar tunggal sendiri sebenarnya juga berasal dari pasar bebas.

Masalah yang seringkali terjadi saat ini adalah pada tahap praktik, Uni Eropa dengan segala kelebihan yang ada dalam pasar tunggalnya membuat organisasi regional ini cenderung mengabaikan organisasi regional lain. Kebijakan yang diberikan terhadap organisasi regional lain terkesan berat sebelah dan diwarnai dengan intrik politik berupa intervensi yang dilakukan oleh pemerintah Uni Eropa.

Konsep yang sudah bagus secara teori ini menjadi mentah dalam tahap praktik. Uni Eropa dengan konsep pasar tunggalnya seringkali melindungi pasar ‘dalam negeri’ mereka melalui berbagai cara. Salah satu contoh kasus sederhana yang saat ini banyak digunakan adalah masalah lingkungan.

Pasar Uni Eropa seringkali menolak perdagangan dengan beberapa negara atau kawasan regional tertentu dengan menggunakan alasan lingkungan, baik karena mencemari lingkungan atau merusak lingkungan. Alasan ini digunakan sebagai alasan pembenaran untuk menolak produk dari luar dan memproteksi produk di dalam negeri. Dalam waktu yang bersamaan, mereka juga menawarkan produk ramah lingkungan yang wajib digunakan di seluruh dunia.

Dalam kasus ini, Indonesia sudah berkali-kali menjadi korban dari perdagangan Uni Eropa. Kita masih ingat benar bagaimana produk kayu olahan dari Indonesia ditolak oleh Uni Eropa dengan alasan lingkungan padahal beberapa perusahaan Indonesia sudah melampirkan berbagai persyaratan yang mereka inginkan. Tindakan Uni Eropa waktu itu menimbulkan tanda tanya besar dan dicurigai sebagai bentuk aksi proteksi terhadap produk meubel mereka.

Demikian pula dengan produk minyak sawit Indonesia yang juga dilarang oleh Uni Eropa dan dicurigai sebagai aksi proteksi terhadap minyak bunga matahari mereka. Contoh kasus lain adalah terkait masalah penerbangan Indonesa yang dilarang untuk melintas di kawasan Uni Eropa. Larangan ini menimbulkan protes karena dicurigai sebagai aksi monopoli terhadap industri penerbangan.

Konsep pasar tunggal yang digadang-gadang menjadi konsep terbaik ternyata lemah dalam implementasi dan justru kalah dengan konsep pasar bebas yang saat ini sedang marak digalakkan oleh berbagai negara berkembang. Sebaian besar pasar bebas yang ada saat ini justru lebih jujur dalam implementasi dan lebih bebas serta membantu menopang perekonomian negara berkembang.

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Secara teori, konsep pasar tunggal dan pasar bebas memiliki persamaan dalam hal liberalisasi perdagangan dan aspek lainnya.
  2. Konsep pasar tunggal sebenarnya berasal dari pasar bebas.
  3. Pada tahap implementasi, konsep pasar tunggal yang ada di Uni Eropa justru dipenuhi dengan intervensi pemerintah.
  4. Pasar tunggal justru bertentangan dengan konsep pasar bebas itu sendiri.
  5. Pasar tunggal di Uni Eropa cenderung membentuk sebuah pemahaman merkantilisme gaya baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: