Pengaruh AIPAC Terhadap Kebijakan Amerika Serikat Pasca Peristiwa 11 September 2001

PENDAHULUAN

 Latar Belakang

Aksi terorisme yang terjadi pada 11 September 2001 banyak mengundang perhatian di seluruh dunia. Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara adidaya dalam hubungan internasional ternyata justru lengah saat menghadapi serangan terorisme ke dalam negerinya sendiri. Dunia pun dipenuhi dengan rasa cemas, hampir seluruh negara di dunia mengecam tindakan tersebut dan mulai memperkuat keamanan dalam negeri.

Terorisme yang selama ini cenderung diabaikan, kini mulai diperhatikan karena gaya serangan yang digunakan sudah menggunakan metode dan gaya baru. Terorisme abad ini sudah bukan lagi sekedar masalah nasional tetapi meningkat menjadi masalah internasional. Amerika Serikat pun mulai mengajak negara lain untuk membantu menyelesaikan masalah terorisme ini.

Amerika Serikat yang merasa tersakiti oleh tindakan terorisme ini mulai mencari teman yang bersedia untuk membantu dalam melakukan serangan pembalasan. Dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian ini, AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) sebuah organisasi lobi Yahudi yang ada di Amerika Serikat datang dan memanfaatkan kondisi tersebut untuk melobi dalam pembuatan kebijakan terkait masalah terorisme.

Lobi yang dilakukan oleh AIPAC ini ternyata membuahkan hasil yang sangat baik. Buktinya, tanpa menunggu waktu yang panjang AS langsung membuat berbagai aturan terkait masalah terorisme. Semua negara ‘dipaksa’ untuk mengikuti dan patuh pada aturan yang dibuat oleh AS.

Goerge W. Bush yang saat itu menjadi presiden AS mengeluarkan sebuah doktrin yang sangat terkenal, “Anda bersama kami atau bersama teroris.” Hanya ada dua pilihan, patuh pada aturan main AS atau ikut dengan terorisme. Siapa saja yang menentang AS langsung akan dicap sebagai negara terorisme.

Lobi yang dilakukan oleh AIPAC juga telah berhasil menciptakan sebuah propaganda baru berupa ‘perang melawan terorisme’. Namun dalam hal ini tidak jelas kategori apa yang digunakan untuk menunjuk suatu terorisme. Akibatnya kebijakan AS melawan terorisme pun menjadi seakan tidak terkendali karena terlalu banyak dipengaruhi oleh lobi AIPAC. Banyak negara yang diserang dengan alasan terorisme namun tanpa bukti yang jelas.

AIPAC yang notabene sebagai organisasi lobi Yahudi-Israel memanfaatkan kemampuan lobinya untuk menggiring kebijakan luar negeri AS sesuai dengan yang mereka inginkan dengan menghancurkan negara yang dianggap berbahaya bagi Israel namun dibungkus dengan kedok terorisme.

Irak dan Afghanistan merupakan dua contoh negara yang menjadi korban lobi AIPAC di Amerika Serikat. Kedua negara tersebut oleh AIPAC dituding sebagai negara yang melindungi dan mensponsori kegiatan terorisme dunia sehingga harus di’jinak’kan dengan kekuatan militer. AS yang masih mengalami ‘demam teror’ langsung mengumpulkan sekutunya dan menggempur habis kedua negara tersebut meski tanpa adanya restu dari PBB.

AIPAC tidak hanya beraktivitas di bidang pemerintahan, tetapi juga beroperasi di bidang media massa. Sebagian besar pemilik media massa yang ada di AS merupakan anggota AIPAC sehingga mereka dengan mudah membentuk opini publik terkait dengan masalah terorisme. Cengkeraman AIPAC didalam AS sudah sedemikian kuat sehingga mampu mengendalikan kebijakan AS terutama mengenai masalah terorisme yang terjadi pada 11 September 2001.

Rumusan Masalah

Berdasarkan pada pemaparan yang ada diatas, kami tertarik untuk membahas masalah terkait pengaruh AIPAC terhadap kebijakan Amerika Serikat pasca terjadinya tragedi 11 September 2001. Seberapa besar pengaruh AIPAC terhadap kebijakan AS pasca tragedi tersebut? Apa yang membuat pengaruh AIPAC sedemikian kuat dalam perpolitikan AS?

PEMBAHASAN

American Israel Public Affairs Committee

Dalam makalah ini, subjek utama yang menjadi pembahasan adalah AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), sebuah komite kerjasama yang dibangun antara Amerika dan Israel. Komite ini berfungsi sebagai pemersatu dan pengerat hubungan antara Amerika dan Israel.

Organisasi yang dibangun pada tahun 1951 ini merupakan perwujudan nyata persahabatan antara Amerika dan Israel. Terlalu panjang untuk menjelaskan mengapa organisasi ini bisa terbentuk dan bagaimana latar belakang yang menunjang berdirinya organisasi ini. Mengingat masalah yang ada dibalik AIPAC ini terlalu kompleks, maka dalam sub bab ini akan dijelaskan secara singkat.

Sebagaimana kita ketahui, sebagian besar ekonom dan pengusaha yang berada di Amerika Serikat berasal dari kalangan Yahudi. Mereka menguasai berbagai sektor mulai dari perbankan, media massa hingga berbagai sektor vital lain yang ada di AS. Hal ini membuat denyut kehidupan perekonomian di AS sangat bergantung pada warga Yahudi. Mereka menyumbang banyak hal untuk pembangunan di AS baik secara finansial maupun politis. Posisi inilah yang membuat warga Yahudi begitu disegani di AS.

Gambar 2.1 Logo AIPAC

Setiap lobi yang dilakukan oleh warga Yahudi biasanya mudah berhasil, selain karena kelihaian lobi mereka yang sedemikian hebat juga karena kemampuan finansial mereka yang sangat mendukung sehingga memudahkan mereka dalam berbagai urusan termasuk politik.

Kiprah yang dilakukan oleh warga Yahudi di AS tentu saja tidak gratis. Ada harga yang harus dibayar oleh pemerintah AS kepada warga Yahudi yakni dengan memberikan perlindungan kepada negara Yahudi, Israel. Keterikatan yang kuat antar sesama warga Yahudi membuat solidaritas mereka sangat tinggi, meskipun mereka tinggal di AS tetapi tidak pernah melupakan kepentingan Yahudi yang ada di Israel.

Israel yang hanyalah negara kecil ini memang rawan mengalami ancaman dari negara sekitarnya mengingat statusnya yang kontroversial. Berdirinya negara Israel ini menimbulkan berbagai macam konflik karena statusnya yang bisa dianggap ilegal yakni dengan merebut tanah Palestina dari rakyat Palestina. Statusnya yang penuh dengan ancaman dan bahaya konflik ini membuat Israel membutuhkan perlindungan dan dukungan dari negara super power.

Disinilah letak keunikan warga Yahudi, kekuatan solidaritas mereka sangat tinggi sehingga mampu membagi peran. Mereka yang ada di Israel bertugas untuk membangun dan memperkuat Israel dari dalam, adapun mereka yang ada di luar negeri bertugas untuk membangun dan memperkuat negeri orang dengan tujuan agar negeri yang telah dibangun tersebut memberikan dukungan kepada Israel dari luar. Aktivitas inilah yang sedang terjadi di AS.

Gambar 2.2 Ilustrasi Kedekatan AS dan Israel

Warga Yahudi di AS bertugas untuk membangun AS dengan tujuan agar AS memberikan perlindungan kepada negara AS. Perlindungan ini diwujudkan melalui organisasi yang disebut AIPAC, komitmen yang ada didalam organisasi ini adalah Amerika Serikat bersedia untuk melindungi Israel dari ancaman apapun sedangkan Israel (melalui Yahudi yang ada di Amerika Serikat) bersedia untuk melakukan pembangunan di AS.

Komitmen tersebut membuat AS dan Israel seperti saudara kandung yang saling membantu dan saling membela. Tidak peduli senakal apapun tindakan yang dilakukan oleh Israel, AS akan selalu membela dan melindunginya dari kecaman dunia internasional, demikian pula sebaliknya.

Tragedi 11 September 2001 dan AIPAC

Aksi terorisme yang dilakukan dengan menabrakkan pesawat ke menara kembar gedung WTC pada tanggal 11 September 2001. Peristiwa ini sedemikian dahsyatnya hingga seluruh dunia ikut bergetar dan merasakan ketakutan yang amat dahsyat. Jika AS yang merupakan negara super power saja bisa diserang, bagaimana dengan negara kecil yang lemah dalam pertahanan?

Disini kami tidak akan membahas mengapa aksi terorisme tersebut bisa terjadi dan siapa yang sebenarnya bersalah. Aksi tersebut sendiri sebenarnya memiliki terlalu banyak kejanggalan dan tidak sedikit yang menduga ada unsur rekayasa dalam peristiwa tersebut. Mulai dari kelengahan militer AS dalam menjaga keamanan udara hingga tidak adanya warga Yahudi yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut karena sengaja meliburkan diri, masih menyimpan banyak misteri. Jika kita bahas kejanggalan tersebut satu per satu, tuduhan kita justru akan mengarah kepada AIPAC.

Namun segala kejanggalan tersebut masih sekedar teori konspirasi dan tidak memiliki landasan keilmiahan yang kuat sehingga tidak perlu diperdalam. Media massa telah berhasil membentuk opini publik bahwa otak pelaku utama dari kejahatan tersebut adalah Al-Qaeda. Terlepas dari dugaan adanya rekayasa dalam peristiwa tersebut, kita harus mengakui bahwa hasil identifikasi menunjuk ke arah Al-Qaeda merupakan aktor utama dari tragedi tersebut.

Kembali ke permasalahan AIPAC. Sejak terjadinya tragedi tersebut, AIPAC menjadi sangat aktif dalam melakukan lobi terhadap pemerintahan Bush. Mereka berusaha membangkitkan kesadaran bahwa terorisme masa kini telah berubah menjadi lebih canggih. Mulai dari canggih peralatan hingga canggih sasaran sehingga pemberantasan terorisme harus dilakukan secanggih mungkin.

AIPAC mengkhawatirkan kondisi Israel yang suatu saat dapat menjadi target serangan terorisme selanjutnya. Apalagi jika melihat motif latar belakang aksi terorisme tersebut dipicu oleh kegeraman sebagian umat Islam yang merasa diperlakukan tidak adil oleh Amerika Serikat, bukan tidak mungkin jika kegeraman selanjutnya ditumpahkan kepada Israel. Posisi ini menjadikan AIPAC semakin mendesak agar AS memerangi terorisme dengan tegas.

Gambar 2.3 Ilustrasi Lobi AIPAC

Masalah selanjutnya adalah terkait target dan bagaimana cara mengatasi terorisme ini? Terorisme bukanlah negara dan masih terlalu abstrak untuk digambarkan. Mula-mula Afghanistan dijadikan sebagai sasaran utama untuk dihajar karena menjadi tempat persembunyian dan perlindungan teroris, lalu Irak pada 19 Maret 2003 juga ikut dihajar karena dituduh menjadi sponsor terhadap kegiatan terorisme dan menyediakan senjata pemusnah massal.

Untuk Afghanistan, kita memang cukup maklum karena negara tersebut memang sudah lama diduga menjadi pusat kegiatan. Namun untuk Irak, serangan yang dilakukan justru terkesan ngelantur dan tidak jelas arahnya. Dugaan keterlibatan Saddam Hussein sebagai sponsor aksi terorisme ternyata tidak terbukti, demikian pula dengan senjata pemusnah massal yang diberitakan ternyata hanya isapan jempol belaka.

Malah banyak yang menduga bahwa serangan ke Irak tidak ditujukan untuk terorisme tetapi hanya sebagai legitimasi untuk menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein yang dianggap mengancam keamanan Israel. Lobi yang dilakukan oleh AIPAC cenderung bersifat politis dan mengorbankan banyak pihak demi kepentingannya dengan menggunakan kedok terorisme.

Tokoh dibelakang AIPAC

Setelah membahas panjang lebar terkait pengaruh AIPAC dalam kebijakan AS pasca tragedi 11 September 2001, kita tentu penasaran dengan siapa saja yang ada dibelakang AIPAC. Mengapa AIPAC dapat sedemikian kuat? Jika kita menyaksikan gambar dibawah kita akan mendapatkan jawabannya.

 Gambar 2.4 Tokoh dibelakang AIPAC

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, warga Yahudi di AS begitu disegani hingga hampir setiap presiden di AS selalu memiliki kedekatan khusus dengan AIPAC. Tokoh yang ada pada gambar diatas merupakan orang top bahkan nomor satu di AS sehingga tidak begitu mengherankan kenapa lobi yang dilakukan oleh AIPAC dapat dengan mudah menjadi kebijakan AS.

Tidak hanya itu, AIPAC juga memiliki 50.000 anggota yang tersebar di seluruh pemerintahan AS baik kongres maupun negara bagian. Hampir semua politikus ternama di AS memiliki kedekatan dengan AIPAC. Bukan sesuatu yang mengejutkan jika akhirnya AS begitu mudah dilobi oleh AIPAC saat mengalami tragedi 11 September 2001.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan yang ada diatas, kesimpulan yang dapat diambil adalah AIPAC memiliki pengaruh yang kuat dalam pembuatan kebijakan di AS terutama pasca terjadinya tragedi 11 September 2001. Dalam tragedi tersebut, AIPAC mengambil peranan penting terutama dalam hal pembentukan opini publik melalui berbagai media internasional yang dikelola.

Selain itu, AIPAC juga memiliki kekuatan dan pengaruh politik yang sangat besar di AS sehingga dapat dengan mudah melakukan lobi politik terhadap pemerintahan AS. Kuatnya peran AIPAC di AS disebabkan karena banyaknya tokoh penting yang berada dibelakangnya.

Saran

Tulisan ini masih memiliki banyak kekurangan terutama dalam hal data. Berbagai masalah yang disampaikan dalam makalah ini tidak ditunjang dengan data yang lengkap sehingga disarankan bagi para pembaca yang berminat untuk memperluas atau memperdalam bahasan mengenai tulisan ini diharapkan untuk lebih banyak mengumpulkan data sehingga informasi yang diberikan dapat menjadi lebih valid.

 

Muh. Miftachun Niam

08430008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: