Peran Lobbyist dalam Kemenangan Pemilu Obama

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kemenangan Barack Obama dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2008 sebenarnya bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Bagi sebagian masyarakat, keterpilihan Obama menunjukkan perubahan yang begitu berarti di dalam peta perpolitikan AS mengingat Obama merupakan presiden pertama AS yang berasal dari kulit hitam. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa teori yang mengatakan presiden AS harus berasal dari kulit putih, protestan dan anglikan sudah tidak lagi berlaku.

Namun disadari atau tidak, keterpilihan Obama sebagai Presiden AS sebenarnya disebabkan oleh kuatnya Lobbyist yang bekerja disekitar Obama saat masa kampanye. Para Lobbyist inilah yang berhasil menarik begitu banyak dukungan baik berupa suara maupun dana dari masyarakat AS. Posisi Obama yang cukup netral dan bersih di mata masyarakat AS (tidak begitu radikal seperti pendahulunya George W. Bush atau pesaingnya John Mc Cain) menjadi daya tarik yang terus dipromosikan oleh para Lobbyist.

Kekuatan lobi yang bermain dibelakang Obama menjadi salah satu faktor penentu kemenangannya dalam pemilu 2008. Memang, selama kampanye Obama selalu mencela tindakan lobi dan kekuatan politik tertentu yang sering digunakan oleh calon lainnya untuk meraup suara. Obama bahkan secara terbuka mengecam politik lobi yang digunakan oleh Hillary Clinton dan John Mc Cain. Obama sering menunjukkan sikap destruktif terhadap lobi politik di AS.[1]

Sikap ini kian terlihat saat Obama telah terpilih menjadi Presiden. Dia berencana untuk mengeluarkan aturan yang membatasi peran kelompok lobi. Selama ini kelompok lobi dianggap sering mempengaruhi kebijakan pemerintah federal.[2] Tim lobi ini memihak kelompok kepentingan tertentu dan menciptakan kultur politik korup didalam tubuh pemerintahan AS sehingga Obama merasa perlu untuk mengubah Undang-undang tentang Lobbyist.[3]

Namun apakah Obama sendiri bersih dari tindakan lobi politik? Tidak juga. Pada pemilu yang lalu, Obama terbukti berhasil mengumpulkan dana sebesar US$ 750 juta yang berasal dari para donatur.[4] Dana sebesar itu diklaim berasal dari sumbangan sukarela masyarakat AS, akan tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar dana tersebut sebenarnya berasal dari hasil kerja keras lobi ke berbagai instansi. Standar ganda yang ditunjukkan oleh Obama terhadap peran Lobbyist ini sangat menarik untuk diamati.

Rumusan Masalah

Berdasarkan pada pemaparan diatas, kami tertarik untuk mengangkat masalah Lobbyist dan pengaruhnya terhadap kemenangan Obama pada pemilu 2008. Selain itu, kami juga mencoba untuk menguraikan lobi politik yang digunakan oleh Obama sehingga dapat memenangi pemilihan tanpa harus menurunkan tingkat popularitasnya di mata rakyat.

PEMBAHASAN

 Sekilas Tentang Lobbyist

Sebelum lebih jauh membahas tentang pengaruh lobbyist dalam kemenangan pemilu Obama, kita perlu mengenal lebih dekat dengan istilah lobbyist. Lobbyist berasal dari kata Lobi yang berarti aktivitas komunikasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok secara informal dengan tujuan memengaruhi proses pengambilan keputusan dan keuntungan tertentu.[5]

Lobi merupakan aktivitas interpersonal dan komunikasi yang dilakukan biasanya berdasarkan kedekatan pribadi. Mengingat sifatnya yang informal dan bertujuan untuk memengaruhi proses pengambilan kebijakan, kegiatan lobi biasanya dianggap sebagai kegiatan yang tidak etis. Di sebagian negara, kegiatan lobi yang menyangkut masalah politik dianggap terlarang karena dapat menyebabkan para pejabat menjadi tidak netral dan kurang bersih dalam menghasilkan suatu kebijakan.

2.1 Lobbyist di Amerika Serikat

Namun bagi sebagian negara lainnya, kegiatan lobi dianggap sebagai sebuah seni dalam berkomunikasi dan merupakan wujud dari ekspresi kebebasan untuk berbicara sehingga kegiatan lobi tidak dilarang. Negara yang menganut aliran neoliberalisme biasanya cenderung mendukung aktivitas lobi, seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Eropa.

Di negara tersebut aktivitas lobi dianggap legal, bahkan disana dibentuk pula organisasi khusus untuk Lobbyist (orang yang berprofesi sebagai tukang lobi). Kegiatan lobi di negara neoliberal mencakup berbagai hal dari masalah sosial hingga politik. Bahkan aktivitas lobi tersebut diatur dalam undang-undang, seperti AS yang memiliki Federal Regulation of Lobbying Act of 1946 dan The Lobbying Disclasure Act of 1995. Dua undang-undang ini secara khusus mengatur aktivitas lobi dan para pelobi (lobbyist).

Lobi dan lobbyist masih banyak menjadi perdebatan di berbagai negara mengingat aktivitasnya yang bagi sebagian orang masih dianggap kurang etis. Namun baik buruknya lobi dan lobbyist bagi perkembangan suatu negara masih sangat relatif tergantung tingkat kesadaran dan kedewasaan perpoilitikan suatu negara. Bagi negara yang masih berkembang, kegiatan ini akan menjadi bumerang karena cenderung menciptakan perpolitikan yang korup dan mudah di lobi. Adapun bagi negara yang sudah maju dan dewasa, kegiatan lobi justru akan menjadi penunjang bagi pembangunan karena akan mempermudah jalur aspirasi suara rakyat tanpa harus melalui proses yang berbelit-belit.

Lobi Politik di Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, lobi politik sudah biasa terjadi baik di tingkat kongres federal maupun negara bagian. Lobi politik ini akan semakin ramai terutama saat menjelang pemilihan umum. Berbagai kelompok kepentingan biasanya akan menyewa lobbyist untuk melobi para kandidat. Kelompok kepentingan tersebut menawarkan dukungan baik finansial maupun suara kepada calon kandidat dengan harapan jika kandidat tersebut terpilih, maka kepentingan kelompok tersebut akan dapat dilindungi.

Kita ambil contoh sederhana, di AS penggunaan rokok masih dibatasi hanya untuk orang dewasa. Hal ini menyebabkan perusahaan rokok sangat stagnan karena konsumen mereka terbatas pada orang dewasa. Agar usaha mereka dapat semakin berkembang, mereka menyewa seorang lobbyist yang bertugas untuk melobi para pengambil kebijakan agar pengguna rokok tidak hanya untuk orang dewasa tetapi juga dibawah umur.[6]

Jika tawaran ini disetujui, pengambil kebijakan tersebut akan mendapat keuntungan baik berupa finansial maupun dukungan suara saat pemilu berikutnya. Kasus seperti ini biasa terjadi dan diaggap sebagai simbiosis mutualisme karena menguntungkan kedua belah pihak. Pengguna lobbyist tidak hanya terbatas pada kalangan perusahaan tetapi juga pada masalah sosial budaya.

Gambar 2.2 Diagram Kinerja Lobbyist

Contoh lain adalah masalah Yahudi di AS, sebagian besar orang kaya di AS berasal dari kalangan Yahudi. Mereka banyak menyewa lobbyist untuk melobi para pejabat di AS agar dalam setiap kebijakan luar negeri selalu melindungi kepentingan negara Israel. Komunitas Yahudi di AS ini memiliki kepentingan untuk melindungi Yahudi di Israel. Jika tawaran ini disetujui, maka mereka akan memberikan banyak dukungan terutama untuk pembangunan negara.

Lobbyist dalam Pemilihan Presiden Tahun 2008

Sebagaimana telah disebutkan diatas, kegiatan lobbyist khususnya didalam bidang lobi politik mengalami puncaknya disaat pemilihan presiden. Dalam sejarah perpolitikan modern di AS, nyaris tidak ada seorang presiden pun yang dapat maju tanpa ada dukungan dari lobbyist. Para lobbyist ini menjadi jembatan antara kandidat dengan suara para pemilihnya.

Kondisi ini juga terjadi pada saat pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2008 yang lalu. Pada pemilu tersebut terdapat dua calon kandidat yakni John Mc Cain dari Partai Republik dan Barack Obama dari Partai Demokrat. Keduanya saling berlomba untuk mendapatkan dukungan massa melalui berbagai cara salah satunya melalui pendekatan terhadap lobbyist. Pendekatan ini dianggap cukup efektif karena mampu menarik dukungan dana dan suara.

John McCain cenderung untuk mendekati lobbyist yang memiliki hubungan dengan para pengusaha, politikus dan pemilih yang menyukai politik gaya keras agar memberikan dukungannya pada pemilihan presiden. Pendekatan yang dilakukan oleh John McCain ini didasari pada gaya politiknya yang cukup keras sehingga mencari pendukung yang sealiran. Lain halnya dengan Obama yang cenderung memiliki gaya politik halus dan diplomatis. Pendekatan yang dilakukan oleh Obama pun mengarah kepada pengusaha, politikus dan pemilih yang memiliki gaya politik halus.

Gambar 2.3 Ilustrasi Kegiatan Lobbyists Pada Pemilu di AS

Keduanya saling berlomba untuk mendapatkan dukungan yang besar melalui para lobbyist ini. Secara teori, McCain seharusnya lebih unggul dari Obama dalam hal lobi politik mengingat dia memiliki banyak relasi dan sudah sangat matang jika dibandingkan dengan Obama yang masih seumur jagung. Apalagi McCain pernah mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu sebelumnya sehingga koneksi dan kemampuannya dalam mengakomodasi lobi politik pun dapat lebih besar.[7]

McCain didukung oleh politikus dan konglomerat besar yang mampu mendulang suara dan dana seperti Sheldon Adelson[8], Matt Brooks[9], Mark Broxmeyer[10], dan banyak lagi. Semuanya merupakan orang besar dan sudah lama berkecimpung di dunia politik AS. Sebenarnya Obama juga didukung oleh berbagai konglomerat dan pengusaha, tetapi jumlahnya tidak seberapa kuat jika dibandingkan dengan kekuatan lobi McCain.

Tapi pada kenyataannya, Obama justru menjadi pemenang dalam pemilu tersebut. Obama unggul dalam segala hal, mulai dari dukungan suara, dukungan pendanaan, dan sebagainya. Kemenangan Obama dalam pemilu ini menimbulkan pertanyaan tersendiri terkait strategi lobi apa yang digunakan oleh Obama dan bagaimana cara kerja lobbyist yang ada disekitarnya.

Strategi dan Kinerja Lobbyist Obama

Strategi yang dilakukan oleh Obama dalam menggunakan lobbyist berbeda dengan strategi McCain. Dia lebih condong melakukan lobi secara sosial dan budaya kepada berbagai lembaga dan organisasi. Sedangkan McCain condong melakukan lobi secara politik dan komersial.

Perbedaan itulah yang dijadikan senjata kampanye Obama dengan mengatakan bahwa McCain tidak bersih. Kampanye McCain dituding penuh dengan politik uang karena melibatkan banyak birokrat, konglomerat dan lobbyist perusahaan. Hal ini membuat banyak pemilih yang meragukan McCain dan menganggap politiknya cenderung korup.

Kondisi ini tentu berbeda dengan Obama yang meskipun menggunakan lobbyist tapi berafiliasi untuk kegiatan yang bersifat sosial dan budaya. Kinerja yang dilakukan oleh lobbyist Obama pun cenderung ke arah sosial dan menjauhi simbiosis mutualisme di bidang komersial. Mereka berusaha untuk menampilkan Obama secara bersih sehingga dicintai oleh rakyat dan mengundang banyak pemilih. Mereka mendekati pemilih sesuai dengan kondisi sosial masing-masing.

Bahkan lobi Obama juga menggunakan pendekatan media baik media massa maupun jejaring sosial. Para lobbyist Obama lebih sering terjun mendekati berbagai organisasi masyarakat dan organisasi sosial lainnya terutama yang dikelola oleh wakil distrik agar menarik hati mereka.

Strategi yang digunakan ini terbukti efektif melihat keberhasilan Obama dalam menduduki kursi Presiden AS. Kinerja para lobbyist Obama ini membuahkan hasil dan menggerakkan hati rakyat AS menyumbang dana kampanye kepada Obama. Jumlah sumbangan para pendukung ini bahkan mencapai US$ 750 ribu. Angka tertinggi dalam sejarah perolehan sumbangan kampanye pemilu di Amerika Serikat.

Keberhasilan strategi lobi Obama lainnya adalah dengan mendekati AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), sebuah organisasi lobi yahudi di AS. Organisasi ini begitu penting karena memiliki pengaruh yang sangat besar dalam peta perpolitikan Amerika Serikat. tidak ada satu pun Presiden AS yang mampu bertahan lama tanpa adanya dukungan dari organisasi ini.

AIPAC memiliki sedikitnya 65.000 anggota yang tersebar di 50 negara bagian AS.[11] Kontribusi AIPAC dalam perpolitikan AS sangat besar, mereka tidak segan untuk mengeluarkan dana yang sangat besar dalam setiap pemilu. Pada pemilu tahun 2004, AIPAC mengeluarkan dana hingga 6,1 juta dollar AS untuk para kandidat dan partai. Dana yang dikeluarkan oleh organisasi ini untuk melakukan lobi di AS juga sangat besar setiap tahunnya

Pada tahun 2006, dana yang dikeluarkan untuk melakukan lobi mencapai 1,5 juta dollar. Sedangkan pada tahun 2007, mencapai 1,25 juta dollar. Pendekatan yang dilakukan Obama terhadap AIPAC ini melalui janji untuk melindungi warga yahudi termasuk negara Israel dari berbagai ancaman. Berbagai komitmen yang bersifat sosial dan budaya inilah yang akhirnya berhasil mengalahkan McCain dalam memperebutkan kursi presiden AS.

PENUTUP

Kesimpulan

Lobbyist ternyata sangat berpengaruh besar dalam kemenangan Obama. Strategi lobi yang digunakan bukan bersifat komersial tetapi cenderung ke arah sosial dan budaya. Hal ini digunakan untuk mencegah terjadinya politik uang dan menjaga citra Obama agar tetap bersih. Namun lobi terpenting dan paling menentukan adalah dengan AIPAC. Organisasi lobi tersebut sangat berpengaruh dalam kemenangan Obama karena memiliki dukungan dana dan suara yang sangat besar sehingga mempermudah Obama dalam mengalahkan McCain.

Saran

Tulisan ini masih kurang obyektif dalam mengulas lobbyist pada kemenangan pemilu Obama. Selain itu dalam tulisan ini juga masih terdapat banyak kekurangan data yang valid mengingat data terkait lobbyist memang sangat tertutup. Bagi para pembaca yang ingin mengangkat tema ini untuk diulas lebih lanjut disarankan untuk fokus mengamati standar ganda Obama terhadap lobbyist dan menganalisa kemungkinan adanya politik uang dalam kampanyenya.


[1] Kronika Amerika Serikat, Kamis 23 Agustus 2007.

[2] Suara Karya, Obama akan Batasi Peran Tim Lobi, Kamis 13 Nopember 2008.

[3] Sebagaimana diketahui, Lobbyist atau Pelobi merupakan pekerjaan yang legal dan diatur dalam Federal Regulation of Lobbying Act of 1946 dan The Lobbying Disclasure Act of 1995.

[4] Tempo Interaktif, Obama Terancam Kehilangan Donatur Yahudi, 21 Mei 2011.

[5] Diambil dari Merriam-Webster.com pada tanggal 1 Juni 2011.

[6] Kasus seperti ini banyak terjadi di AS, bahkan difilmkan dalam Thank You For Smoking.

[7] Ed Henry, McCain Lobbyist Connection, CNN, 9 September 2008.

[8] Sheldon Adelson adalah seorang republikan yang memiliki pandangan politik neo konservatif dan menjadi ‘mega donor’ McCain dalam pemilu 2008.

[9] Matt Brooks adalah Direktur Eksekutif Republican Jewish Coalition, sebuah organisasi yahudi yang memiliki banyak anggota dan pendukung McCain.

[10] Mark Broxmeyer adalah pengusaha dan ketua Jewish Institute for National Security Affairs, semacam lembaga pendidikan yahudi.

[11] Nusantara HK Mulkan, Mampukah Obama Menghindari Lobi Yahudi?, 2 Juni 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: