Posisi Indonesia dalam Putaran Doha

Oleh: Muh. Miftachun Niam

Dunia sedang bergerak selangkah lebih maju menuju ke arah liberalisasi yang nyata. Hal ini dapat kita lihat dari tingginya antusias berbagai negara untuk mengikuti berbagai putaran di bidang ekonomi yang membahas masalah perdagangan internasional. Mulai dari Kennedy Round, Tokyo Round, Uruguay Round hingga Doha Round selalu diikuti oleh banyak negara.

Semua perundingan tersebut selalu berlangsung lama dan diwarnai dengan ketegangan akibat benturan kepentingan. Hampir semua perundingan berlangsung selama 5 tahun lebih, bahkan yang terakhir, Doha Round berlangsung hingga 10 tahun namun belum juga menemukan titik temu.

Lamanya proses perundingan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat internasional sangat serius dan berhati-hati dalam membuat kesepakatan terkait masalah ekonomi. Masalah ini dianggap sebagai masalah yang begitu urgen dan memiliki sensitivitas tinggi terhadap kesejahteraan masyarakat dunia. Lewat perundingan inilah nasib milyaran rakyat dunia ditentukan.

Didalam perundingan ini, semua negara saling beradu argumentasi untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya agar warganya dapat memperoleh tingkat kesejahteraan tertinggi. Tidak mengherankan jika perundingan ini seringkali berlarut-larut dan mengalami kebuntuan.

Kita ambil contoh pada perundingan Doha Round, para peserta terbagi menjadi dua kubu yakni negara maju dan berkembang. Kedua kubu saling beradu argumentasi untuk memperjuangkan kepentingannya dalam  perundingan ini. Pembahasan utama yang masih sulit mencapai konsensus adalah masalah pertanian. Antara negara maju dan negara berkembang masih terdapat perdebatan panjang mengenai tarif dan subsidi di bidang pertanian.

Kesepakatan di bidang pertanian ini tidak pernah mencapai titik temu bahkan justru kian meruncing. Masing-masing negara terus bersengketa dan menunjukkan gelagat ke arah proteksionisme di bidang pertanian. Negara industri tidak ingin melepaskan pertaniannya karena khawatir terhadap kesejahteraan para petaninya, demikian pula dengan negara berkembang. Tidak ada yang berani mengorbankan kesejahteraan para petani.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah mungkinkah perseteruan ini terselesaikan? Lalu dimanakah posisi Indonesia dalam perundingan ini? Jawaban dari pertanyaan pertama tentu saja dikembalikan kepada setiap negara peserta. Selama negara peserta masih keras dan enggan untuk menurunkan tuntutan, kita tidak bisa berharap banyak akan keberhasilan perundingan ini.

Akan tetapi kesepakatan bukanlah sesuatu yang mustahil. Tak ada satu perundingan pun yang bisa dicapai dalam tempo yang cepat apalagi dalam perundingan ini, masalah yang dibahas terlalu kompleks. Meminjam pendapat Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, “Putaran Doha belum gagal.” Masih ada banyak waktu untuk membuat formulasi yang tepat terkait bagaimana seharusnya masalah pertanian ini diselesaikan.

Momentum inilah yang harus segera dimanfaatkan oleh Indonesia untuk dapat tampil dalam kancah perpolitikan internasional. Dalam hal ini saya mengusulkan agar Indonesa mengajukan ide 3F dalam rangka menyelesaikan perselisihan di bidang pertanian tersebut.

3F tersebut mencakup Fair Trade, Fair Tariff, and Fair Protect. Kebijakan yang dihasilkan dari perundingan ini haruslah fair, baik dari segi perdagangan, tarif dan proteksi. Negara di dunia harus diklasifikasikan sesuai dengan tingkat kemampuan pertanian dan ekonominya. Negara yang masih dalam tahap tertinggal haruslah diberi kebijakan yang berbeda dibandingkan dengan negara berkembag apalagi negara maju.

Sikap fair tersebut nantinya akan mempermudah dalam proses perundingan karena tidak akan merugikan salah satu pihak. Sikap tersebut harus didukung oleh berbagai aspek dan dihormati oleh negara lain yang lebih maju. Dengan demikian, maka cita-cita untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dunia dapat terwujud dengan segera. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: