Efektivitas IJEPA dalam Meningkatkan Ekonomi Indonesia

Oleh: Muh. Miftachun Niam (08430008)

Tepat pada tanggal 1 Juli 2008, perjanjian EPA antara Indonesia dengan Jepang resmi mulai berlaku. Perjanjian yang telah ditandatangani dan diratifikasi pada 20 Agustus 2007 ini sebenarnya sudah dirundingkan sejak tahun 2005. Perjanjian EPA ini sebenarnya konsep yang masih baru dalam dunia perdagangan internasional, EPA berbeda dengan FTA karena cakupan EPA tidak hanya pada sektor perdagangan tetapi meliputi sektor jasa, investasi, migrasi, pariwisata, standarisasi peraturan dan hak kekayaan intelektual.[i]

Kerjasama IJEPA dilandasi atas tiga hal, yaitu Liberalization (Pembukaan Akses Pasar), Facilitacion (Akses Pasar yang mudah) dan Cooperation (Kerjasama untuk Peningkatan Kapasitas). Ketiga landasan tersebutlah yang membuat sistem EPA lebih unggul dari FTA karena menempatkan Indonesia pada posisi yang sejajar (kemitraan) sehingga dalam implementasinya akan menguntungkan kedua belah pihak. Perjanjian ini begitu menarik bagi Indonesia karena berpotensi untuk menghasilkan keuntungan yang sangat besar dan peningkatan di bidang ekspor.

Tabel 1. Perdagangan Indonesia dengan Jepang (dalam juta Yen)[ii]

2000

2005

2007

2008

Ekspor

1.766.187

2.298.076

3.116.644

3.377.989

Impor

817.745

1.016.850

1.064.505

1.303.573

Total Perdagangan

2.583.932

3.314.926

4.181.149

4.681.562

Balance

948.442

1.281.226

2.052.139

2.074.416

Perdagangan Indonesia dengan Jepang selalu mengalami peningkatan di setiap tahun. Hal ini diikuti pula dengan jumlah ekspor Indonesia ke Jepang yang selalu meningkat. Namun hal yang paling penting adalah keseimbangan perdagangan yang dimiliki oleh Indonesia sangat besar. Diperkirakan jumlah tersebut akan meningkat sebesar 20 persen setelah pelaksanaan IJEPA.[iii]

Demikian pula dalam hal investasi Jepang di Indonesia. Investasi dari Jepang sebagian besar masuk ke sektor otomotif, perdagangan, mesin dan elektronik. Memang saat ini jumlah investasi Jepang di Indonesia belumlah sebanyak di negara ASEAN lainnya seperti Thailand, Vietnam dan Filipina yang menjadi sasaran investasi sektor manufaktur dan juga Singapura yang dijadikan basis investasi sektor manufaktur khususnya bidang jasa keuangan dan asuransi.

Tabel 2. Investasi Jepang ke Indonesia tahun 2008 (dalam juta Yen)[iv]

No.

Sektor

Jumlah

1

Manufaktur

19.528

2

Non Manufaktur

54.329

Total

73.857

Indonesia masih menjadi sasaran utama investasi dari Jepang, diperkirakan saat ini terdapat sekitar 1000 perusahaan multinasional dari Jepang di Indonesia yang menyerap lebih dari 280 ribu pekerja. Indonesia sempat menjadi tujuan utama para investor dari Jepang, sayangnya krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 membuat banyak perusahaan Jepang mengalihkan investasinya ke negara ASEAN lainnya yang cenderung stabil. Dengan adanya IJEPA ini diharapkan agar dapat memulihkan kembali minat investasi ke Indonesia.[v]

Kehadiran IJEPA memberikan keuntungan yang sangat besar bagi Indonesa dalam segala hal, mulai dari perdagangan hingga investasi. Namun bukan berarti IJEPA tidak memiliki cela, tanpa bermaksud untuk skeptis, kita perlu menyadari adanya ancaman dari program kerjasama ini. Pemerintah kita harus mewaspadai terjadinya kesenjangan sosial yang potensial meledak.

Program ini hendaknya bisa mencakup berbagai kalangan masyarakat agar manfaatnya dapat terasa hingga kelas bawah. Jangan sampai pemerintah kita terlalu memanjakan para investor Jepang dan kalangan eksportir namun melupakan bahkan justru merugikan rakyat kecil. Alangkah baiknya jika pemerintah kita mampu mengail tiga ikan hanya dengan satu umpan.

Sambil menikmati keuntungan ekonomi dari IJEPA, kita juga ikut mendorong kemampuan ekonomi rakyat kita agar dapat bersaing dan memanfaatkan segala peluang yang ada didalam IJEPA. Percuma saja jika ekspor kita ke Jepang sangat besar tetapi impor dari Jepang tak kalah besarnya. Tanpa adanya kekuatan ekonomi rakyat yang kuat dan kompetitif, kita justru akan semakin tergerus oleh produk impor dari Jepang.

Semoga kehadiran IJEPA dapat menjadi pemantik semangat kita dari ketertinggalan dalam segala hal dan mengubah rakyat kita menjadi bangsa yang lebih produktif, bukan bangsa yang justru merasa dimanjakan oleh produk Jepang dan menjadi semakin konsumtif.


[i]  Rahadhian T. Akbar, Ekonomi Politik Kemitraan ASEAN: Sebuah Potret Kerjasama, 2011, Pustaka Pelajar, hlm. 58.

[ii] Ringkasan Laporan Perdagangan Jepang bula Desember 2002, 2007, 2008, Japan Tariff Association

[iii] Novia D. Rulistia, RI, Japan ready to implement EPA deals, Jakarta Post, 1 Juli 2008.

[iv] Website Kementrian Keuangan Jepang, Website Bank of Japan

[v] Achdiat Atmawinata, Kedalaman Industri yang Mempunyai Daya Saing di Pasar Global, 2008, Kementrian Perdagangan, hlm 2-14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: