Hubungan Bilateral Indonesia dan Filipina

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

“Filipina itu kawan atau lawan?” itulah pertanyaan yang seringkali dilontarkan oleh masyarakat Indonesia yang belum begitu mengenal Filipina. Pada umumnya, masyarakat Indonesia lebih mengenal Malaysia dan Singapura sebagai negara jiran, banyak yang tidak tahu bahwa Filipina merupakan salah satu negeri jiran kita. Maklum saja, pemberitaan media di Indonesia lebih banyak mengarah ke Singapura dan Malaysia. Singapura terkenal dengan negara kecil dengan kemajuan negerinya yang begitu fantastis, sedangkan Malaysia terkenal dengan militernya yang bandel dan memiliki banyak masalah dengan Indonesia.

Lantas kenapa Filipina tidak begitu dikenal oleh masyarakat Indonesia? Apakah hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia jarang berhubungan dengan Filipina? Tidak juga. Sebenarnya, jika dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia, Hubungan antara Filipina dengan Indonesia jauh lebih erat dan romantis. Indonesia dan Filipina ibarat anak sebaya yang memiliki banyak kesamaan baik secara geografis maupun politik. Indonesia dan Filipina sama-sama negara kepulauan, sama-sama negara demokrasi, sama-sama berkembang dan berbagai kesamaan lainnya. hal tersebut membuat Indonesia dan Filipina memiliki kesamaan gaya pula sehingga masalah yang terjadi diantara keduanya dapat diselesaikan dengan mudah. Tidak serumit jika Indonesia bermasalah dengan Malaysia ataupun Singapura.

Namun hal tersebut tidak berarti hubungan antara Indonesia dan Filipina tanpa cela. Keduanya sebenarnya memiliki masalah pelik yang harus dihadapi terutama masalah perbatasan. Sebagaimana diketahui, Indonesia memiliki 3 pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Filipina yaitu Pulau Miangas, Pulau Marore dan Pulau Marampit. Ketiga pulau tersebut seringkali menjadi tempat penyelundupan barang, narkotika, senjata hingga manusia. Pencurian ikan oleh nelayan Filipina pun biasa terjadi di sekitar wilayah tersebut.

Masalah lainnya adalah ketiga pulau tersebut berbatasan dengan Davau dan Mindanao, dua wilayah di Filipina yang rawan dengan berbagai konflik. Disana terdapat kelompok Moro Islamic Liberation Front/MILF yang melakukan pemberontakan dan menuntut kemerdekaan dari Filipina. Disana juga terdapat kelompok Abu Sayyaf, sebuah kelompok yang oleh PBB digolongkan kedalam jaringan terorisme dan banyak melakukan aksi terorisme di Filipina.

Masalah kedua kelompok tersebut seringkali merembet ke negara tetangga termasuk Indonesia. Akibatnya, Indonesia yang tadinya merupakan negara aman menjadi sedikit membara. Berbagai konflik yang terjadi di wilayah Indonesia dan berbagai aksi terorisme di Indonesia ditengarai berasal dari Filipina. Kuat dugaan bahwa munculnya berbagai kejahatan yang menggunakan senjata api sebenarnya berasal dari kedua kelompok tersebut. Penyelundupan senjata dari MILF atau Abu Sayyaf ke Indonesia melalui perbatasan sudah menjadi rahasia umum.

Di satu sisi, Pemerintah Filipina sebenarnya merupakan pemerintah yang bersahabat dan bekerjasama baik dengan Pemerintah Indonesia. Namun di sisi lain, banyak warga Filipina yang membuat masalah dalam negeri tapi berimbas buruk kepada Indonesia. Dari sini, kita kembali bertanya,”Filipina itu kawan atau lawan?”.

Perumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian diatas, penulis tertarik untuk memecahkan pertanyaan, “Adakah masalah dalam negeri Filipina yang berpotensi Mengganggu stabilitas Indonesia?” dan “Apa saja Solusi yang sudah ditempuh oleh kedua pemerintahan tersebut?”

BAB II

PEMBAHASAN

Duta Besar RI untuk Filipina Y Kristiarto S Legowo dalam sebuah Kuliah Umum di Universitas Slamet Riyadi Surakarta menyebutkan bahwa saat ini Indonesia menerapkan Politik Luar Negeri Thousand Friends and Zero Enemy, hal ini diberlakukan oleh Indonesia kepada semua negara dan aktor internasional lainnya. Meski sebenarnya Indonesia memiliki beragam masalah dengan Filipina tetapi Indonesia akan tetap melakukan Filipina sebagai sebuah sahabat dan mitra penting.

Berbagai masalah tersebut diantaranya adalah masalah terorisme (melibatkan MILF dan Abu Sayyaf), pencurian ikan, dan lalu lintas penduduk. Sebenarnya,masih ada 3 kasus lagi yang tergolong cukup vital yakni Penyelundupan Barang, Narkotika dan Penyelundupan Manusia (Trafficking), hanya saja mengingat kedua hal tersebut tidak dibahas secara spesifik oleh Dubes tersebut maka dalam makalah ini, kedua kasus tersebut tidak akan diulas. Agar lebih jelas, pada bagian pembahasan ini setiap kasus akan dibahas dalam satu sub bab.

Kasus Terorisme

Di Kawasan Filipina Selatan terdapat 2 organisasi yang melakukan pemberontakan dan menuntut kemerdekaan tersendiri yaitu MILF dan Abu Sayyaf. Kedua organisasi ini terkenal dengan kekuatan militernya dan seringkali melakukan kontak senjata dengan tentara pemerintah Filipina. Militer Filipina seringkali kewalahan dalam menghadapi aksi kedua organisasi ini, bahkan ada beberapa kawasan yang berhasil dikuasai secara penuh oleh kedua organisasi tersebut.

MILF (Moro Islamic Liberation Front) dan Abu Sayyaf awalnya berasal dari MNLF (Moro National Liberation Front). Mereka tidak menyukai pemerintah Filipina yang dinilai terlalu korup dan gagal dalam mensejahterakan rakyatnya. Tuntutan utama mereka adalah merdeka dari penjajahan Filipina, mendirikan sebuah negara baru yang terdiri dari Bangsa Moro (Meliputi Mindanao, Sulu, Palawan, Basilan, dan sekitarnya).

Dalam perkembangannya, dalam tubuh MNLF terjadi perpecahan menjadi beberapa faksi. Perpecahan tersebut disebabkan oleh perbedaan konsep terkait kemerdekaan. Beberapa faksi menuntut agar Bangsa Moro nantinya menjadi sebuah negara yang berasas Islam mengingat mayoritas Bangsa Moro merupakan Muslim, sedangka beberapa faksi lainnya menuntut agar Bangsa Moro menjadi sebuah negara nasional karena didalamnya selain Islam, juga terdapat pemeluk agama lainnya. Perbedaan semakin kuat setelah MNLF memutuskan untuk menerima konsep dari pemerintah Filipina terkait dengan wilayah semi otonom. Kawasan yang menjadi basis MNLF mendapat beberapa hak dan wewenang tersendiri untuk mengatur wilayahnya.

Faksi yang berasaskan nasionalis memutuskan untuk menerima konsep dari pemerintah Filipina tersebut, sedangkan faksi yang berasaskan Islamis memutuskan untuk keluar dari MNLF dan membentuk kelompok tersendiri yaitu MILF dan Abu Sayyaf. Kedua organisasi tersebut sebenarnya memiliki perbedaan cara pandang mengenai bagaimana negara Islam yang dimaksud, MILF sendiri sebenarnya terpecah menjadi banyak faksi dari yang moderat hingga paling radikal. Masalah didalamnya terlalu kompleks namun dapat disatukan oleh kepentingan bersama.

Masalahnya, eskalasi konflik yang diciptakan oleh kedua kelompok tersebut tidak hanya bersifat regional tetapi juga menyebar hingga ke Indonesia. Dalam beberapa aksi terorisme yang terjadi di Indonesia, sebagian besar pelaku pernah belajar di Filipina selatan. Kedua kelompok tersebut memberikan pendidikan terkait dengan pendirian Negara Islam melalui cara apapun termasuk dengan kekerasan. Kedua kelompok tersebut juga memberikan keterampilan militeristik.

Hal ini tentu saja meresahkan kondisi Indonesia karena mengganggu stabilitas dan kedamaian di negara Indonesia. Dampak MILF dan Abu Sayyaf masuk ke Indonesia sehingga diperlukan sebuah langkah untuk menanggulangi dampak tersebut, langkah yang ditempuh oleh Indonesia adalah menawarkan diri dengan menjadi mediator antara MILF dengan pemerintah Filipina dan berkomitmen untuk membantu dan memfasilitasi tercapainya perdamaian di Filipina Selatan. Indonesia berhasil diterima oleh kedua belah karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Selain itu, Indonesia juga dinilai netral dalam menyelesaikan masalah di Filipina Selatan.

Meskipun saat ini Abu Sayyaf belum bersedia untuk di mediasi, namun MILF merupakan langkah awal dalam menciptakan perdamaian di kawasan Filipina Selatan. Jika kawasan Filipina Selatan berdamai, maka kasus terorisme di Indonesia dapat diminimalisir. “Jika tetangga kita selalu bertengkar, kita tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Pertengkaran harus diredam sedini mungkin, karena bukan tidak mungkin dampaknya akan masuk ke rumah kita.”

Lalu Lintas Penduduk

Masalah lain yang terdapat di wilayah perbatasan antara Indonesa dengan Filipina adalah lalu lintas penduduk yang jumlahnya sangat besar dan tidak terdata. Banyak masyarakat Indonesia di wilayah perbatasan yang sering berkunjung ke Filipina baik untuk berdagang, bertemu keluarga dan berbagai kepentingan lainnya. kondisi perbatasan yang terdiri dari banyak pulau membuat masyarakat lebih memilih untuk pergi dengan mengambil jalur perairan tikus, selain perairan relatif lebih tenang juga tidak memerlukan visa sehingga lebih efisien.

Saat ini jumlah penduduk Indonesia yang berada di Filipina mencapai 10.000, sebagian besar diantara tidak terdokumentasi oleh badan migrasi. Mereka menetap di Filipina namun belum menjadi warga negara Filipina (status abu-abu). Permasalahannya apabila warga tersebut terlibat aksi kriminal maupun menjadi korban kriminal di negara Filipina, maka sudah menjadi kewajiban bagi Pemerintah Indonesia untuk memberikan perlindungan bagi warganya. Jika menjadi korban, maka pemerintah Indonesia turut membantu untuk menuntut keadilan.

Sedangkan jika menjadi pelaku, maka pemerintah Indonesia turut membantu memperjuangkan hak-hak warga tersebut sebagai seorang kriminal. Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar RI di Filipina memfasilitasi keluarga pelaku yang ingin menjenguk ke Filipina. Fasilitas tersebut mencakup akomodasi dan berbagai pembiayaan lainnya selama berada di Filipina.

Strategi lain yang ditempuh oleh pemerintah Indonesia adalah mengadakan kerjasama dengan calo yang sering mengantar warga Indonesia yang hendak menuju ke Filipina melalui jalur tikus. Para calo tersebut diberi insentif untuk mendata warga Indonesia yang hendak ke Filipina. Data tersebut diserahkan kepada bagian keimigrasian sehingga jika terjadi sesuatu terhadap warga tersebut, maka penanganan dapat dilakukan secara cepat.

Pencurian Ikan

Kondisi perbatasan antara Indonesia dengan Filipina yang berpulau-pulau membuat laut di sekitarnya memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Hal tersebut membuat banyak nelayan dan perusahaan perikanan di Filipina yang tergiur untuk mencari ikan di wilayah perbatasan, tak jarang mereka juga melakukan pencurian ikan di wilayah Indonesia. Pada umumnya setelah ditangkap, pelaku akan ditahan dan ikan hasil curian akan dirampas.

Namun modus operasi yang dilakukan oleh pencuri ikan tersebut semakin kreatif. Mereka memanfaatkan warga Indonesia yang berada di Filipina untuk mencuri ikan di Indonesia. Caranya, saat berada di perairan Filipina, mereka mengibarkan bendera Filipina. Begitu memasuki wilayah perairan di Indonesia, mereka mengibarkan bendera Indonesia dan menangkap ikan di perairan Indonesia. Apabila tertangkap oleh petugas Indonesia, mereka akan sulit untuk ditangkap. Di satu sisi mereka adalah warga negara Indonesa sedangkan di sisi lain mereka bekerja untuk perusahaan perikanan yang berada di Filipina.

Langkah yang ditempuh untuk mengatasi masalah ini adalah melihat data yang diterima dari para calo. Jika di data tersebut terbukti bahwa warga tersebut menetap di Filipina, maka hasil ikan curian akan dirampas lalu pelakunya dilepas. Langkah lain yang saat ini tengah digagas adalah menjalin kerjasama antara kedua negara terkait masalah perikanan. Jika pengambilan ikan dilakukan di wilayah perairan Indonesia, maka pengolahan ikan harus dilakukan di Indonesia. Begitu pula sebaliknya, jika pengambilan Ikan dilakukan di wilayah perairan Filipina, maka pengolahan ikan harus dilakukan di Filipina.

BAB III

PENUTUP

Kembali ke pertanyaan, “Filipina itu kawan atau lawan?” jika melihat dari hasil pembahasan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Filipina merupakan kawan Indonesia. Hanya saja, Filipina memiliki beberapa masalah dalam negeri yang berpotensi mengganggu stabilitas di Indonesia diantaranya adalah kasus terorisme, lalu lintas penduduk dan Pencurian Ikan. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan baik berkat kerja keras Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar RI di Filipina dan sikap terbuka dari pemerintah Filipina terhadap pemerintah Indonesia.

Hubungan bilateral ini patut dipertahankan karena keharmonisan antara Indonesia dengan Filipina secara tidak langsung menunjukkan keharmonisan kawasan Asia Tenggara. Dengan menjadikan Filipina sebagai seorang kawan maka kita telah meletakkan kawan di depan rumah kita yang akan turut membantu menjaga rumah kita dari ancaman luar atau setidaknya akan memudahkan kita menyelesaikan masalah jika suatu saat mengalami sengketa.

4 Tanggapan so far »

  1. 1

    ary santoso said,

    Terlalu subjektif pembahasannya tentang kasus moro, dan menyederhanakan masalah, serta tidak disertai data yang lengkap. Tidak ada sumber pokok dari kedua pihak yang bertikai. Bahkan TV one lebih bisa mengungkap konflik itu dengan lengkap. Tidak layak dibaca.

  2. 4

    joe said,

    dalam kasus di atas, Pemerintah Indonesia tidak NETRAL dalam menyelesaikan maslh di Filipina, anda belum mengetahui bnyk hal ttg peran serta pemerintah RI dalam hal ini.

    tapi secara keseluruhan, cukup menarik membaca artikel saudara, tapi msh bnayk bbrp hal yang masih kurang sempurna data2 nya (misal ttg kependudukan, kasus terorisme).

    maraming-maraming salamat pare😉


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: