Dampak Krisis Libya Terhadap Perekonomian Israel

Oleh: Muh. Miftachun Niam

Konflik yang terjadi di Libya memang membawa dampak sangat luar biasa terhadap perekonomian dunia. Konflik ini secara langsung menjadi salah satu penyebab naiknya harga minyak di pasar dunia. Berbagai negara pun terkena imbasnya, tanpa peduli apakah negara tersebut pro atau kontra dengan kepemimpinan Khadaffi.

Semua saluran minyak yang berasal dari Libya langsung dihentikan seketika itu juga. Hal ini mengejutkan negara-negara yang berlokasi di sekitar Libya karena banyak diantara mereka yang selama ini terlalu menggantukan diri pada minyak Libya. Salah satu negara yang cukup terimbas adalah Israel.

Israel memang telah lama menggantungkan diri pada pasokan minyak dari Libya. Meski secara diplomatis, keduanya sering berselisih pendapat dan saling kecam. Namun untuk urusan ekonomi khususnya minyak, keduanya cenderung untuk bersahabat. Sesuai dengan adagium yang mengatakan bahwa, “Urusan politik boleh berbeda tapi urusan perut tetap sama.”

Ketergantungan terhadap minyak Libya

Saat Libya mengalami goncangan dalam negeri, banyak perusahaan minyak yang menutup diri dan menghentikan pasokan minyaknya ke luar negeri. Kondisi ini membuat Israel cukup terguncang karena mengalami kelangkaan minyak. Banyak SPBU Israel yang tutup karena mengalami kelangkaan minyak. Keadaan tersebut diperparah saat pasukan sekutu menyerang Libya atas nama intervensi kemanusiaan.

Israel mengalami krisis minyak dan tak dapat berbuat apapun. Langkah yang dapat mereka lakukan hanyalah mengimpor minyak dari negara lain dengan harga yang jauh lebih mahal karena faktor biaya transportasi dan kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah Israel terpaksa harus menaikkan harga minyak dalam negeri agar tidak terlalu membebani kondisi anggaran belanja negara.

Konflik yang terjadi di Libya ini memiliki dampak yang cukup parah bagi perekonomian Israel. Berbeda dengan waktu terjadi konflik di Mesir dan Tunisia, Israel tidak begitu merasa terguncang karena tingkat ketergantungan terhadap kedua negara tersebut sangat rendah. Adapun dengan Libya, Israel memiliki ketergantungan yang tinggi dalam bidang suplai minyak.

Mengapa bukan Arab Saudi?

Hal ini tentu saja cukup mengejutkan bagi kita semua karena jika melihat kondisi Israel secara geografis, negara tersebut dikelilingi oleh ladang-ladang minyak nomor satu di dunia, ambil contoh negara Arab Saudi. Negara eksportir minyak terbesar di dunia itu memiliki letak geografis yang begitu dekat dengan Israel. Bahkan lebih dekat jika dibandingkan dengan jarak antara Libya dengan Israel. Jumlah produksi minyak di Arab Saudi juga sangat tinggi mencapai 3 juta barel per hari.

Bandingkan dengan Libya yang hanya mampu memproduksi 1,6 juta barel per hari. Kontribusi Libya terhadap pasokan minyak dunia pun hanya sebesar 2%. Jika dibandingkan dengan Arab Saudi, Libya masih terlalu jauh. Produksi minyak Libya hanya mampu berada diperingkat 12 di dunia.

Tapi meski produksi minyak Libya cukup terbatas dibanding Arab Saudi, posisi Libya ternyata sangat penting bagi Israel, termasuk juga negara-negara eropa lainnya. Secara politik, Libya dengan Moammar Khaddafi-nya memang tergolong keras terhadap Israel. Dia tidak segan untuk mencerca dan menghujat Israel di podiun PBB dengan disaksikan oleh jutaan pasang mata di dunia.

Namun secara ekonomi, Libya memiliki peraturan yang sangat longgar dalam mengekspor minyaknya. Tanpa peduli dengan ideologi dan aliran apapun, siapa saja yang berani memberikan tawaran harga secara menggiurkan maka dialah yang akan mendapat pasokan. Kondisi inilah yang membuat Libya cukup disegani meski telah berkali-kali bermain api dengan para koleganya.

Berbeda dengan beberapa negara timur tengah lainnya yang cenderung moderat dalam bidang politik namun ‘ketat’ dalam bidang ekonomi. Negara-negara seperti Israel yang menganut paham neoliberalisme di bidang ekonomi cenderung enggan untuk berhubungan dengan negara-negara tersebut. Oleh karena itu, serangan pasukan sekutu atas Libya membuat banyak negara termasuk Israel mengalami guncangan dahsyat.

Guncangan di Israel

Israel merasa kehilangan salah satu kolega penyangganya di bidang perdagangan. Sikap angkuh yang sering ditunjukkan oleh Israel membuatnya limbung. Tak banyak negara Timur Tengah yang bersedia untuk membantu, apalagi hubungannya dengan dunia arab lebih sering kontradiksi daripada korelasi.

Euforia tentang “People Power” yang selama ini didengungkan oleh rakyat Israel tak dapat berbuat banyak dalam menghadapi masalah ini. Kekuatan rakyat Israel dipaksa untuk takluk akibat melambungnya harga minyak. Inflasi pun turut melambung tak terhingga dan membuat Bank Israel terpaksa harus menaikkan suku bunga bank.

Kondisi ini diperparah dengan banyaknya aksi para spekulan yang mencabut investasinya karena kondisi Israel yang tidak memungkinkan. Banyak perusahaan yang terancam bangkrut dan menimbulkan banyak PHK.

Ketidakpastian di Libya menimbulkan ketidakpastian di Israel apalagi jika melihat perhitungan para analis yang memperkirakan bahwa harga minyak akan terus melambung hingga 140 dollar AS per barrel. Dalam waktu dekat, bukan hanya minyak yang akan menjadi masalah di Israel. Berbagai bahan baku lainnya pun terancam mengalami kelangkaan mengingat saat ini tidak hanya Libya yang dalam kondisi konflik tetapi mencakup wilayah arab lainnya.

Hentikan Pembangunan Pemukiman Yahudi

Sudah saatnya bagi Israel untuk membuka mata dan hatinya agar meninggalkan sikap angkuh mereka di dalam pergaulan internasional. Kondisi globalisasi yang telah mengakar sedemikian tajam telah menimbulkan sikap saling ketergantungan antar negara. Israel tidak dapat selamanya hidup dengan sikap egoisme dan penuh penindasan terhadap bangsa lain. Sudah saatnya pula bagi Israel untuk menghentikan pembangunan perumahan dan pemukiman yahudi.

Pembangunan pemukiman yahudi, selain menimbulkan kecaman dari banyak negara juga dapat menimbulkan pemborosan anggaran negara. Dengan menghentikan pembangunan pemukiman yahudi, Israel berpotensi untuk memperoleh simpati dan dukungan banyak negara. Jika saja Israel bersedia untuk berbagi dengan Palestina, kondisi seperti ini tidak akan terjadi. Krisis tidak akan melanda sedemikian parahnya.

Penghentian pembangunan pemukiman yahudi menjadi salah satu solusi krisis yang terjadi saat ini. Jika Israel masih tetap mempertahankan sikap keegoisan yang penuh dengan penindasan, maka kehancuran Israel akan menjadi sebuah keniscayaan. Dia akan hancur seperti Yunani, bukan karena serangan dari negara lain ataupun serangan dari roket Hamas. Tetapi hancur secara perlahan dari dalam karena mempertahankan keserakahan.

Muh. Miftachun Niam

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional

Universitas Slamet Riyadi Surakarta

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: