Masalah Perbankan Australia

BAB I

PENDAHULUAN

Sebelum tahun 1980, Australia tergolong negara yang memiliki aturan sangat ketat dalam hal perbankan. Tidak ada satu pun bank asing yang dapat berdiri di Australia karena regulasi terkait perbankan saat itu sangat tertutup. Akibatnya jumlah bank di Australia sangat sedikit dibandingkan dengan negara-negara lain termasuk Indonesia. Saat itu, Australia hanya memiliki dua jenis bank yaitu Bank Tabungan (saving banks) dan Bank Perdagangan (trading banks).

Bank Tabungan yang ada di Australia berbeda dengan Bank yang ada di tempat lain karena Bank tersebut tidak memberikan bunga bagi para penabungnya. Sistem pinjam meminjam di bank juga masih sangat terbatas karena jaminan yang diberikan harus berupa sertifikat tanah dan sertifikat bangunan. Bank tidak akan memberikan pinjaman kepada nasabah yang tidak memiliki sertifikat tanah dan sertifikat bangunan. Sedangkan Bank Perdagangan tidak dibuka untuk umum. Bank ini hanya diperuntukkan bagi nasabah kategori merchant bank[1], nasabah jenis lainnya tidak diperbolehkan untuk bertransaksi di bank ini. Bank Perdagangan ini umumnya diisi oleh para nasabah yang berasal dari kalangan pedagang dan pengusaha.

Kondisi ini membuat masyarakat Australia kesulitan dalam mengatur keuangan karena regulasi perbankan masih sangat terbatas dan kaku bagi masyarakat umum. Hal ini mendorong munculnya berbagai organisasi dan lembaga keuangan non-bank seperti serikat kredit (the credit union) dan usaha masyarakat (building society). Di Indonesia lembaga keuangan ini semacam Koperasi Usaha Rakyat (KUR) dan Koperasi Simpan Pinjam (Kospin).

Organisasi dan lembaga keuangan non bank ini bermunculan di berbagai penjuru Australia. Mereka memberikan pinjaman kredit kepada rakyat Australia yang sedang membutuhkan modal untuk membangun usaha. Sayangnya, keberadaan mereka tidak diatur dengan baik oleh undang-undang perbankan di Australia sehingga mereka bebas untuk menentukan besar kecilnya bunga suatu pinjaman. Seringkali rakyat kecil di Australia merasa semakin terbebani akibat tingginya suku bunga yang ditentukan oleh lembaga tersebut.

Sementara itu, peran bank sentral dipegang oleh Bank Commonwealth (Commonwealth Bank of Australia). Secara kontekstual, Bank Commonwealth sebenarnya berada ditangan pemerintah. Namun pada operasionalnya, Bank Commonwealth justru memiliki sistem kerja yang mengedepankan aspek komersial sehingga menyebabkan Australia mengalami kemunduran dalam bidang perekonomian. Bank-bank lain pun tidak dapat bekembang, pertumbuhannya terhambat oleh regulasi Bank Commonwealth yang tidak jelas.

Kondisi tersebut membuat Bank Commonwealth tidak lagi dipercaya oleh publik. Peran bank sentral kemudian dipindahkan kepada sebuah bank baru bernama Bank Reserve (Reserve Bank of Australia). Berbeda dengan sebelumnya, Bank Reserve yang dibentuk pada 14 Januari 1960 ini membuat regulasi yang lebih terbuka. Bank Reserve memberikan peraturan baru terkait dengan sistem pinjam di Bank Tabungan. Pinjaman tidak lagi hanya terbatas kepada para pemilik sertifikat tanah tetapi mulai mencakup banyak kelas masyarakat. Masyarakat juga mulai dikenalkan dengan sistem kredit dan proses angsuran. Kondisi perekonomian Australia pun mulai bergairah dan meningkat secara perlahan.

Sayangnya sistem yang diperkenalkan oleh Bank Reserve ini lambat laun mulai mengalami kesalahan pengalokasian (misallocated) sistem kredit. Kucuran dana diberikan kepada setiap nasabah tanpa memperhitungkan resiko yang diperoleh. Akibatnya banyak kredit justru diberikan kepada ratusan ribu imigran asing yang berstatus sebagai pekerja pendatang[2]. Para pekerja migran yang membutuhkan modal untuk membangun usaha segera diberi kucuran kredit. Terjadi persaingan antar sesama bank tabungan untuk mendapatkan para nasabah, mereka menawarkan berbagai fasilitas dan kemudahan dalam kredit.

Kredit tersebut ternyata justru menambah deretan masalah bagi sistem perbankan di Australia. Banyak tejadi gagal bayar karena misalokasi dana kredit sehingga mengakibatkan lonjakan inflasi yang sangat tinggi. Pemerintah Australia mencoba untuk mengatasinya dengan menyuntikkan dana ke berbagai lembaga pembiayaan di Australia agar dapat menolong kasus tersebut.[3] Namun hal tersebut tidak banyak membantu, kasus gagal bayar ini semakin membesar hingga menyebabkan sektor riil di Australia pun menjadi lumpuh.


BAB II

SEJARAH PERBANKAN AUSTRALIA

Sejarah Perbankan Australia terbagi menjadi empat era, yaitu: Bank-bank Swasta, Bank Commonwealth, Bank Reserve, dan Deregulasi.

Era Bank Swasta (1817-1911)

Pada tahun 1817 di Australia berdiri bank yang bernama Bank of New South Wales. Bank tersebut menjadi tonggak sejarah dimulainya dunia perbankan di Australia dan menjadi bank yang pertama kali ada di benua tersebut. Bank ini didirikan atas prakarsa seorang Gubernur bernama Macquarie.

Tujuan awal didirikannya bank ini adalah untuk menciptakan sebuah mata uang baru berupa mata uang kertas. Bank ini bisa mengeluarkan mata uang kertas sendiri tanpa memerlukan adanya bank sentral. Nilai mata uang yang dikeluarkan berdasarkan pada tingkat kepercayaan para nasabah. Bank ini hidup dari sistem simpan pinjam dan wesel yang dimiliki.

Dalam tempo yang cepat, keberadaan Bank of New South Wales ini segera menginspirasi keberadaan berbagai bank yang lainnya. Banyak bank swasta yang mulai bermunculan dan mengeluarkan mata uang kertas sendiri. Kehidupan berbagai bank tersebut disandarkan pada aktiva dan pembukuan yang diperoleh dari bank tersebut. Tingkat kepercayaan nasabah menjadi kunci utama hidup matinya sebuah bank, sehingga pada saat itu tak jarang banyak bank yang tumbuh tetapi banyak pula bank yang mati akibat kepercayaan masyarakat menurun.

Terbit tenggelamnya bank-bank swasta tersebut terus berlanjut sebagai akibat tidak adanya bank sentral yang mampu mengatur regulasi terkait perbankan di Australia. Lama kelamaan jumlah bank yang kolaps semakin banyak, karena tidak adanya aturan yang jelas terkait aturan main perbankan. Puncaknya adalah pada tahun 1893 di Victoria terjadi kasus perbankan yang menyebabkan banyak bank menjadi bagkrut. Bahkan dalam waktu enam minggu ada 12 bank yang bangkrut, padahal keduabelas bank tersebut memegang dua pertiga aset yang ada di Australia. Kasus Victoria inilah yang kemudian menyebabkan berakhirnya era bank-bank swasta di Australia.

Era Bank Sentral (1880-1901)

Bank-bank swasta yang ada di Australia cenderung untuk saling berkompetisi secara liar. Setiap bank memiliki wesel yang berbeda dengan wewenang yang berbeda pula, tidak adanya bank sentral yang mengatur stabilisasi perbankan di Australia membuat mereka bermain dengan gaya masing-masing.

Pada tahun 1880-an, pemerintah Australia berusaha untuk mengontrol perbankan namun kurang efektif karena bank swasta masih berlomba untuk memperoleh aktiva sehingga mengabaikan aturan dari pemerintah. Kerapuhan tanpa adanya bank sentral mulai terasa ketika pada tahun 1890-an terjadi penurunan harga tanah dan bangunan. Sektor properti yang selama ini menjadi lahan bermain para perbankan swata tersebut ternyata anjlok.

Kepercayaan terhadap bank swasta menurun drastis. Para nasabah mulai menarik diri dari dunia perbankan, mereka berlomba-lomba untuk menarik emas dari bank. Satu per satu bank mengalami kejatuhan, dari sinilah keberadaan bank sentral mulai dianggap penting agar dapat menjadi penyeimbang saat terjadi masalah pada dunia perbakan.

Era Bank Commonwealth (1911-1957)

Kegagalan bank swasta yang terjadi pada era sebelumnya membuat masyarakat Australia mendesak pemerintahnya untuk segera membentuk sebuah bank sentral. Pada tahun 1911 pemerintah federal mendirikan sebuah bank bernama Bank Commonwealth. Bank ini mengeluarkan wesel setingkat nasional, serta membuat mata uang kertas yang berlaku pada tataran nasional.

Kinerja Bank Commonwealth ternyata terbukti sangat efektif dalam menyembuhkan kondisi dunia perbankan Australia saat itu. Masalah-masalah kredit yang dialami oleh berbagai bank swasta yang sedang sakit mulai dapat teratasi. Jumlah bank yang bangkrut tidak sedahsyat dulu lagi, dari tahun 1894 hingga 1979 hanya ada tiga bank di Australia yang mengalami kebangkrutan. Ketiga bank tersebut bangkrut pada tahun 1931.

Pada tahun 1920, sebuah bank dari Inggris bernama Bank of England menawarkan konsep kerja sebuah bank sentral kepada Bank Commonwealth. Ada empat konsep utama yang diberikan oleh Bank of England meliputi:

  1. Semua bank swasta yang ada di Australia harus mematuhi peraturan yang dibuat oleh Bank Commonwealth;
  2. Setiap uang yang masuk kedalam pasar uang harus bersifat jangka panjang, uang yang bersifat jangka pendek (hot money) tidak diperbolehkan masuk kedalam pasar uang;
  3. Bank Commonwealth berhak untuk menaikkan atau menurunkan ‘rate bank’;
  4. Bank swasta yang tidak mematuhi peraturan Bank Commonwealth tidak diperbolehkan untuk beroperasi.

Konsep dari Bank of England ini kemudian mulai diterapkan pada tahun 1937. Pada tahun itu diadakan sosialisasi kepada seluruh masyarakat yang terkait dengan dunia perbankan. Barulah 2 tahun kemudian, aturan ini secara tegas dilaksanakan kepada semua perbankan. Pemerintah federal juga menyiapkan seperangkat peraturan yang terkait dengan pergerakan uang dalam dan luar negeri.

Pada tahun 1941, Bank Commonwealth mengatur hampir setiap aspek bisnis bank. Selajutnya pada saat Perang Dunia II berlangsung, Bank Commonwealth menjadi berperan penuh dan mengontrol secara ketat semua keuangan di bank, mulai dari rasio cadangan simpanan wajib hingga rasio aset cair yang dimiliki oleh setiap bank di Australia.

Era Bank Reserve (1957-1983)

Pada tahun 1959, bank sentral yang pada awalnya berada pada Bank Commonwealth dipindahkan kepada Bank Reserve. Ada banyak alasan terkait perpindahan bank sentral tersebut, salah satunya adalah Bank Commonwealth terlalu kaku dalam membuat regulasi perbankan sehingga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Australia berjalan dengan lamban.

Di bawah Bank Reserve, sistem regulasi perbankan di Australia menjadi lebih terbuka. Bank-bank mulai tumbuh dengan cepat, keuangan setiap bank pun tumbuh dengan pesat, tak terhalang oleh kontrol bank sentral. Bank bebas menerima jaminan dalam bentuk apapun, tidak lagi terbatas pada jaminan tanah dan rumah. Hal ini diikuti dengan pembangunan perusahaan pembiayaan.

Setiap bank memiliki perusahaan pembiayaan tersendiri. Perusahaan pembiayaan tersebut mulai menggencarkan aksi kredit kepada masyarakat Australia. Banyak warga yang tertarik dan mencoba untuk berspekulasi menggunakan kredit bank, mengingat pada masa itu keberadaan bank masih booming pasca terjadinya Perang Dunia II.

Para spekulan pun bermunculan, pemberian jaminan kredit kepada semua orang yang tertarik terhadap kredit tanpa memperhatikan resiko yang akan diperoleh. Akibatnya banyak terjadi misalokasi terhadap kucuran dana kredit. Para spekulan dan dunia perbankan Australia hanya mengejar target keuntungan sehingga bertindak keluar dari kendali bank sentral.

Banyak bank swasta yang mulai mengabaikan peraturan dari Bank Reserve karena kurang begitu mengikat seperti Bank Commonwealth. Bank-bank berlisensi masih dikendalikan tetapi keuangan perusahaan, merchant bank, bank asng dan bank besar sudah tidak menghiraukan Bank Reserve. Aksi para spekulan dan korporasi yang tidak sehat dalam menjalankan usaha membuat dunia perbankan Australia kembali liar seperti sebelum adanya bank sentral.

Kompetisi untuk mendapatkan pasar secara tidak sehat membuat dunia perbankan kembali terjebak pada masa lalu yakni kredit macet. Pada tahun 1970-an kredit macet mulai menggema di seluruh Australia. Tahun 1971 terjadi Efek Mineral yang mengakibatkan banyak bank berjatuhan termasuk perusahaan kredit terkemuka, Mainline and Cambridge Credit ikut hancur.

Pada tahun 1974, perekonomian Australia menjadi panik dan melanda hingga Australia Selatan dan Queensland. Dua perusahaan pembiayaan di kedua wilayah tersebut hampir saja bangkrut sebelum akhirnya diselamatkan oleh perusahaan induknya. Pada tahun 1979, giliran Bank of Adelaide milik Aland Bond yang sebelumnya terkenal sangat kuat akhirnya ikut bermasalah. Hingga terpaksa harus dilimpahkan ke ANZ.

Deregulasi Industri Perbankan

Pemerintah Federal Australia memutuskan untuk membuat deregulasi terkait peraturan industri perbankan. Peraturan perbankan semakin diperlonggar sedangkan peraturan kredit semakin dipersempit. Perbedaan antara Bank Tabungan dan Bank Perdagangan dihapuskan menjadi satu, Bank asing bisa membuka cabang di Australia dengan mudah, Lembaga Keuangan Non Bank diizinkan memberikan pelayanan lebih luas, dan persyaratan untuk kredit kian diperketat. Aturan ini mulai diterapkan sejak tahun 1983.

Sejak deregulasi industri perbankan ini diterapkan, kondisi perbankan di Australia menjadi lebih sehat karena adanya persaingan yang sportif antara bank lokal dan bank asing. Selain itu, misalokasi pendanaan kredit yang dilakukan oleh para spekulan pun dapat diminimalisir sedini mungkin sehingga mencegah terjadinya inflasi perbankan.

Kondisi Perbankan Australia Saat Ini

Persaingan yang sehat antara bank lokal dan bank asing di Australia ternyata membawa dampak positif. Bank lokal Australia ternyata mampu bersaing dengan bank-bank asing tidak hanya di tingkat Australia tapi juga tingkat internasional. Saat ini banyak bank Australia yang telah berhasil merambah ke berbagai negara dan masuk jajaran bank tingkat internasional.

Bank asal Australia tersebut diantaranya adalah Australia and New Zealand Banking Group, Commonwealth Bank of Australia, National Australia Bank, dan Westpac Banking Corporation. Keempat bank tersebut bahkan masuk Top 12 Bank di seluruh dunia. Hal ini membuktikan bahwa dengan deregulasi yang tepat dan pengalaman yang panjang, siapa pun pasti akan mampu bermain hingga tingkat internasional.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Sistem perbankan Australia tergolong unik karena bank swasta hadir lebih awal dibandingkan dengan bank sentral. Bank swasta terlebih dahulu menguasai perekonomian Australia, namun karena tidak adanya regulasi yang jelas dan persaingan usaha yang liar, bank tersebut menjadi berjatuhan. Peristiwa tersebut membuat pemerintah federal Australia memutuskan untuk membuat bank sentral pertama berupa Bank Commonwealth, sayangnya bank tersebut membuat kebijakan yang terlalu tertutup sehingga menghambat pertumbuhan perbankan.

Bank sentral pun dipindahkan ke Bank Reserve yang dianggap lebih terbuka. Namun ternyata bank ini membuat regulasi perbankan yang terlalu terbuka dalam hal kredit sehingga justru menimbulkan masalah baru, kasus kredit macet kembali terulang.

Masalah utama yang sering terjadi di dunia perbankan Australia adalah manajemen pengelolaan sistem kredit yang kurang handal sehingga menyebabkan banyak terjadinya kredit macet. Masalah ini terjadi dari tahun ke tahun, mengakibatkan banyak bank yang bangkrut dan hancur serta menimbulkan kepanikan di dunia perbankan australia. Masalah ini dapat teratasi setelah pemerintah federal Australia membuat deregulasi terkait keterbukaan perbankan dan pembatasan sistem kredit pada tahun 1983.

Proses pendewasaan perbankan di Australia memerlukan waktu yang sangat panjang. Australia baru bisa menerima keberadaan bank asing setelah tahun 1983, setelah sebelumnya selalu menutup diri dan membuat aturan yang rumit sehingga menghambat keberadaan bank asing di negeri itu. Keberadaan bank asing di Australia ternyata membawa dampak positif karena menciptakan persaingan usaha perbankan yang lebih sehat. Dampak nyata yang dapat dilihat adalah banyak bank Australia yang tumbuh menjadi internasional.


[1] Merchant adalah Orang Perorangan, Badan Usaha atau Badan Hukum yang melakukan transaksi jual/beli barang dengan menggunakan fasilitas perbankan.

[2] Myers, Margaret G. (September 1961). The Control of Consumer Credit in Australia. Journal of Finance. Hal: 409-422.

[3] Ibid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: