Waroeng HIK Maknyuss

Standarisasi Kebersihan Pedagang Kaki Lima di Indonesia

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 telah mengakibatkan sebagian besar masyarakat kelas pekerja di Indonesia mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). PHK ini terus berlajut dari tahun 1998 – 2001, studi ILO tahun 2002 memperkirakan jumlah korban PHK antara tahun 1998 hingga tahun 2001 mencapai 5,4 juta pekerja. (ILO: 2002)

Jutaan orang yang mengalami PHK tersebut tersebar di seluruh Indonesia, mereka terus berusaha untuk mempertahankan hidup dengan berbagai cara. Solusi yang paling banyak ditempuh adalah dengan memasuki dunia kerja informal, sektor informal dapat dianggap sebagai sabuk penyelamat yang menampung kelebihan tenaga kerja yang tidak tertampung di sektor formal (Sunyoto: 2006).

Pilihan umum yang diambil oleh sebagian besar masyarakat adalah dengan menjadi Pedagang Kaki Lima (PKL), pilihan ini diambil karena modal yang diperlukan untuk menjadi PKL relatif kecil, selain itu usaha ini juga tidak menuntut pendidikan dan keterampilan yang tinggi cukup bermodalkan ketekunan saja. (Alisjahbana: 2005)

Di berbagai kota besar PKL tumbuh dengan sangat pesat, setiap sudut kota selalu dipenuhi oleh berbagai macam PKL terutama yang bergerak di bidang makanan dan minuman. Para korban PHK tersebut memilih untuk bertahan di berbagai kota besar dan mendirikan usaha informal di kota tersebut. Kota Surakarta merupakan salah satu kota yang menjadi tujuan usaha informal. Para korban PHK yang berasal dari kawasan eks-karesidenan Surakarta berurbanisasi untuk mendirikan usaha PKL di kota Surakarta.

Tingginya minat warga untuk melakukan urbanisasi dan mendirikan usaha informal di kota Surakarta disebabkan karena kota ini memiliki banyak perguruan tinggi dan sentra wisata yang berpotensi menjadi pasar bagi para PKL. Selain itu, kestabilan ekonomi di kota Surakarta memang tidak perlu diragukan lagi. Meskipun pada bulan Mei 1998, kota ini sempat dilanda peristiwa kerusuhan yang begitu dahsyat, namun hanya dalam waktu 3 bulan sudah mulai tumbuh geliat pertumbuhan ekonomi. Hal ini ditandai dengan dibangunnya kembali kawasan pertokoan yang sempat rusak menjadi korban kerusuhan (Noor Yudanto: 1998).

PKL yang paling banyak tumbuh di kota Surakarta adalah PKL dengan kategori makanan dan minuman, tidak ada angka yang pasti dan data akurat terkait jumlahnya. Pada tahun 2003 jumlah PKL kategori makanan dan minuman berjumlah 1.442 warung. Jumlah PKL ini terus menanjak hingga pada tahun 2010 jumlahnya mencapai 2.416 warung. Dari jumlah tersebut, 51% (1.238 warung) diantaranya berupa warung makan tradisional khas Solo yang biasa disebut dengan HIK (Hidangan Istimewa Kampung). Adapun sisanya berupa warung makan Bakso dan Mie Ayam (11%), Bakmi, Susu Segar, dan berbagai jenis warung lainnya. (Data Primer: 2010)

Jika diurutkan dari segi jumlah PKL, warung makan tradisional khas Solo yang bernama HIK menempati urutan pertama dengan jumlah 1.238 warung. Besarnya jumlah warung HIK yang terdapat di kota Surakarta ini dipengaruhi oleh beberapa faktor meliputi: (1) Usaha ini mudah untuk didirikan, (2) Modal yang diperlukan relatif kecil, (3) Tidak membutuhkan keterampilan dan pendidikan yang tinggi, (4) Bahan baku sebagian berasal dari sesama penjual yang melakukan penitipan dengan asas kekeluargaan, (5) Pasar bersifat kompetitif tetapi tidak disertai dengan regulasi yang jelas.

Berbagai faktor tersebut yang kemudian mendorong masyarakat sekitar kota Surakarta membuka warung HIK. Secara umum, warung HIK menyediakan berbagai jenis makanan rakyat berupa nasi bungkus, lauk pauk dan minuman. Sesuai dengan namanya, HIK (Hidangan Istimewa Kampung) ini mengejar segmen pasar yang berasal dari kalangan menengah kebawah dan para perantauan yang memiliki dana terbatas. Produk makanan dan minuman yang terdapat di warung HIK ini memiliki harga yang murah dan terjangkau.

Dalam perkembangannya HIK tidak hanya dikunjungi oleh masyarakat kalangan menengah kebawah tetapi juga beberapa masyarakat kalangan menengah keatas. Warung HIK telah menjadi bagian dari kehidupan sosial budaya masyarakat Surakarta, HIK tidak lagi hanya sekedar tempat konsumsi tetapi juga menjadi pengikat dan pemersatu warga kota Surakarta.

Keberadaan warung HIK meskipun tergolong kedalam sektor informal, sebenarnya telah banyak membantu bagi perekonomian kota Surakarta dan beberapa wilayah yang ada disekitarnya. Warung ini menjadi salah satu solusi alternatif dalam mengatasi permasalahan kemiskinan dan pengangguran yang saat ini banyak terjadi dan belum dapat teratasi dengan baik. Selain itu, warung HIK juga telah membentuk sebuah identitas budaya bagi kota Surakarta sehingga sangat potensial apabila dilestarikan.

Sayangnya, berdasarkan observasi tahap awal yang kami lakukan terhadap warung HIK di seluruh kota Surakarta, ada 64,3 persen warung HIK yang masih belum memperhatikan kondisi yang ada di sekitarnya. Hal utama yang paling mencolok adalah masalah kebersihan, baik kebersihan makanan maupun kebersihan kondisi lingkungan. (Data Primer: 2010)

Masalah tersebut sangat beragam, mulai dari makanan yang kurang higienis hingga sanitasi yang kurang teratur. Para pedagang di warung HIK pun tidak dapat berbuat banyak, minimnya pengetahuan akan kesehatan dan keterbatasan modal untuk mengelola kebersihan menjadikan mereka kurang mempedulikan kualitas lingkungan dan makanan yang disediakan. Kepentingan konsumen masih sering diabaikan, kondisi kesehatan pun ikut dikorbankan.

Kondisi warung HIK yang kurang memperhatikan kebersihan tersebut akan menimbulkan dampak yang kurang baik bagi kesehatan para konsumen. Jika masalah tersebut tidak teratasi sejak dini, maka dapat menimbulkan masalah tersendiri yang berdampak pada penurunan penjualan di warung HIK. Dampak lebih luas adalah munculnya gejolak perekonomian di kota Surakarta, penurunan pendapatan dari warung HIK secara sistematis akan berpengaruh pada berbagai sektor ekonomi lainnya.

Masalah pengangguran yang selama ini dapat diredam melalui berbagai sektor informal tersebut dapat kembali memanas sebagai hasil akumulasi berbagai masalah tersebut. Berdasarkan pada pemikiran itu, kami tertarik untuk mengangkat tema tentang kebersihan di warung HIK. Fokus utama kami adalah bagaimana cara menumbuhkan budaya hidup bersih di kalangan pedagang warung HIK? Serta menciptakan dan mengelola suatu pola standarisasi kebersihan HIK dengan sebuah program yang bernama “Waroeng HIK Maknyuss” agar dapat meningkatkan pendapatan warung HIK di Kota Surakarta.

Manfaat dan Tujuan

Manfaat dan tujuan dari diadakannya Program yang bernama ”Waroeng HIK Maknyuss” ini antara lain:

  1. Meningkatkan taraf hidup pedagang HIK di kota Surakarta.
  2. Menumbuhkan budaya cinta kebersihan di kalangan pedagang HIK pada khususnya, dan Pedagang Kaki Lima pada umumnya.
  3. Membentuk sebuah pola pikir baru bahwa semakin bersih warungnya, semakin laris pula dagangannya.
  4. Memotivasi Pedagang Kaki Lima di kota lain untuk menjaga kebersihan makanan dan lingkungan di sekitarnya.
  5. Meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam implementasi ilmu sosial.
  6. Menambah pengalaman Mahasiswa bersosialisasi dengan masyarakat luas.

GAGASAN

Dalam Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2008 disebutkan bahwa Pedagang Kaki Lima (PKL) adalah pedagang yag didalam usahanya mempergunakan sarana yang mudah dibongkar pasang/dipindahkan serta mempergunakan bagian jalan/trotoar, dan tempat-tempat untuk kepentingan umum yang bukan diperuntukkan tempat usaha atau tempat lain yang bukan miliknya.

Pada dasarnya tidak ada angka pasti yang menyebutkan berapa jumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di kota Surakarta. Hal ini disebabkan karena PKL cenderung menggunakan sumber daya lokal dan tidak memiliki ijin resmi sehingga sangat sulit untuk didata secara pasti. (Herlianto: 1986)

Namun, dalam observasi yang kami lakukan pada bulan Agustus hingga Desember 2010 tercatat bahwa jumlah PKL yang terdapat di Kota Surakarta berkisar antara 6.645 hingga 6.800 buah, angka ini sangat fluktuatif dan bergantung pada cuaca dan hari. Dari jumlah tersebut, 35,5% atau sekitar 2.416 diantaranya adalah PKL yang berdagang di bidang makanan siap saji (Prepared Food). 25,4% atau sekitar 1.728 lainnya adalah PKL yang bergerak di bidang jasa pelayanan (Services) seperti bengkel, tambal ban, tukang dan sejenisnya.

Adapun sisanya adalah PKL jenis makanan setengah jadi dan bahan mentah (Unprocessed and Semiprocessed Food) sebesar 20,1% dan PKL jenis non makanan (Non Foods) sebesar 20% (Data Primer: 2010)

Tabel 1. Perbandingan Jenis PKL di Kota Surakarta

PKL jenis makanan siap saji menjadi PKL yang paling banyak terdapat di kota Surakarta. PKL ini biasanya menyediakan makanan dan minuman yang telah dimasak dan langsung disajikan atau langsung dibawa pulang. Adapun dari segi fisik, PKL jenis ini biasanya berupa warung semi permanen, umumnya hanya berupa gerobak yang dilengkapi dengan meja dan bangku panjang, beratapkan terpal atau plastik yang tidak tembus air. (Widjajanti: 2000)

PKL tersebut masih terbagi lagi menjadi berbagai jenis, namun yang paling dominan adalah warung HIK (Hidangan Istimewa Kampung). Jumlah warung HIK di kota Surakarta mencapai 1.238 buah atau 51% dibandingkan PKL jenis makanan siap saji lainnya.Warung HIK ini menyediakan berbagai makanan dan minuman yang biasa menjadi konsumsi pokok masyarakat seperti nasi, lauk, dsn berbagai jenis minuman.

Usaha warung HIK ini sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi di Surakarta, dalam satu hari setiap warung HIK dapat memperoleh keuntungan bersih sebesar Rp.50.000 hingga Rp. 200.000. Keuntungan yang diperoleh tersebut sangat bervariatif antara warung HIK satu dengan lainnya. Untuk memudahkan klasifikasi, peneliti mengelompokkan tingkat penghasilan menjadi 3 bagian. Golongan yang paling banyak adalah tingkat penghasilan Rp. 50.000 hingga Rp. 100.000 sebesar 62%, Golongan paling sedikit adalah tingkat penghasilan diatas Rp. 200.000 yaitu sebanyak 8%. Sedangkan sisanya, penghasilan antara Rp. 100.000 hingga Rp. 200.000. (Data Primer: 2010)

Tabel 2. Tingkat Penghasilan Warung HIK per hari

Menurut perhitungan kasar, dalam satu hari warung HIK yang ada di kota Surakarta mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 123.800.000. Hasil sebesar itu menjadi penyangga bagi pertumbuhan ekonomi di kota Surakarta, pemerataan pendapatan yang sangat besar menjadikan ekonomi kota Surakarta cenderung stabil. Sektor ini menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah pengangguran di Surakarta.

Hanya saja jika kita melihat kondisi nyata warung HIK di kota Surakarta memang memprihatinkan, sebagian besar warung HIK yang ada di kota Surakarta masih kurang memperhatikan kondisi kebersihan makanan dan warungnya. Banyak makanan yang tidak tertutup dengan baik, tidak adanya lap atau pembersih lain yang dapat digunakan untuk menjaga kebersihan konsumen, kebersihan warung yang terabaikan, sampah yang dibiarkan menumpuk di sekitar warung HIK, sanitasi yang kurang baik dan berbagai masalah lainnya.

Kondisi ini tentu saja berpengaruh pada tingkat ketertarikan konsumen terhadap warung HIK tersebut. Warung HIK yang memiliki pendapatan diatas Rp. 200.000 per hari biasanya memiliki keunggulan di bidang kebersihan sehingga membuat konsumen menjadi tertarik dan termotivasi untuk menjadi pelanggan. (Rukayah: 2005). Motif konsumsi para pelanggan tersebut tidak hanya sekedar mencari harga murah, tetapi juga mencari kepuasan berupa kebersihan warung HIK. Kebersihan akhirnya berdampak pada nilai kenyamanan para konsumen.

Hipotesa awal kami menyebutkan bahwa tingkat kebersihan suatu warung HIK berpengaruh pada tingkat penghasilan yang diperoleh. Namun kebersihan seperti apakah yang dibutuhkan oleh konsumen terhadap warung HIK? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami mengadakan survei kepada masyarakat terkait dengan kondisi kebersihan warung HIK. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Convenience Sampling, dalam teknik ini yang dianggap sebagai anggota sampel adalah orang yang mudah ditemui, berada pada waktu yang tepat dan mudah dijangkau. Alasan lain dari penggunaan teknik ini adalah karena data responden yang tidak diketahui serta berubah-ubah (Sri Rahayu: 2005).

Dalam penentuan jumlah sampel, kami mengambil 100 responden. Setiap responden diminta untuk menyampaikan keluhan dan saran terkait kebersihan warung HIK, semua keluhan dan saran tersebut dikelompokkan dan dianalisis kedalam 10 kebutuhan terbanyak konsumen.

Tabel 3. Hasil survei responden HIK

Keterangan:

  1. Penelitian dilakukan pada 20 hingga 25 Desember 2010
  2. Hasil survei tidak ditujukan untuk semua warung HIK

Dari data survei diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar konsumen masih mengeluhkan rendahnya tingkat kebersihan makanan di warung HIK. Kami mencoba mengatasi permasalahan tersebut dengan melakukan penelitian partisipatoris yang melibatkan 5 warung HIK dengan penghasilan Rp. 50.000 hingga Rp. 100.000 per hari. Kondisi kebersihan kelima warung HIK tersebut masih kurang tertata, jumlah pengunjung dalam satu hari hanya berkisar antara 20 hingga 50 orang. Jumlah pelanggan setia nyaris tidak ada.

Penelitian dilaksanakan pada 20 Desember 2010 hingga 31 Januari 2011 berlokasi di Jl. Letjend Sutoyo, Mojosongo, Surakarta. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada banyaknya perguruan tinggi di sekitar jalan tersebut sehingga memiliki potensi konsumen yang sangat besar berupa mahasiswa. Namun potensi tersebut belum termanfaatkan dengan baik karena kendala kebersihan warung.

Dalam penelitian tersebut, kami bersama para pedagang HIK tersebut melakukan perubahan terkait dengan kebersihan warung HIK. Beberapa perubahan tersebut diantaranya meliputi:

  1. Penambahan sapu lidi dan dua tempat sampah di sudut warung HIK
  2. Perubahan tempat makanan, dari baki terbuka menjadi baki tertutup lengkap dengan nama makanan
  3. Penggantian lampu pijar menjadi lampu hemat energi
  4. Penyediaan lap, tisu, tusuk gigi, dan asbak
  5. Penggantian terpal lama menjadi terpal baru

Untuk mengubah sebuah warung HIK biasa menjadi warung HIK higienis diperlukan biaya Rp. 600.000, semua biaya tersebut ditanggung oleh peneliti. Para pedagang HIK yang terlibat dalam penelitian partisipatoris ini tidak dipungut biaya apapun, hanya saja mereka diharuskan untuk mengikuti peraturan yang telah ditentukan oleh peneliti. Pertama, para pedagang tersebut harus berpakaian rapi setiap kali berdagang. Kedua, para pedagang hanya diperbolehkan merokok diatas pukul 10 malam. Ketiga, selalu menjaga kebersihan makanan dan warung. Keempat, menyambut dengan ramah setiap pelanggan yang datang. Kelima, melakukan pembukuan keuangan sederhana setiap hari.

Pada tanggal 20 hingga 31 Desember 2010, kami melaksanakan kegiatan pra penelitian yakni berupa analisa masalah dan penghasilan warung HIK sebelum pelaksanaan penelitian. Adapun pada tanggal 1 hingga 31 Januari 2010, kami mulai melakukan penelitian dan mencatat dampak yang dihasilkan dari program penelitian partisipatoris ini.

Program ini ternyata memiliki dampak yang sangat baik bagi peningkatan penghasilan warung HIK. Sebelum pelaksanaan program, penghasilan kelima warung HIK tersebut hanya berkisar antara Rp. 50.000 hingga Rp.100.000. namun setelah mengikuti program ini selama sebulan, kelima warung HIK tersebut sudah beranjak ke tingkat Rp. 100.000 hingga Rp. 200.000.

Kelima warung HIK tersebut juga sudah memiliki pelanggan tetap yang sebagian besar merupakan kalangan mahasiswa dari perguruan tinggi di sekitar HIK tersebut. Para pelanggan tersebut tertarik karena terjadi perubahan yang menonjol dari segi penampilan. Warung terkesan lebih terang dan lebih bersih sehingga pelanggan sudah tidak ragu lagi untuk berkunjung ke warung tersebut.

Kendala utama dalam pelaksanaan program ini biasanya terdapat dalam awal pelaksanaan. Begitu warung HIK mengalami perubahan penampilan, jumlah pendapatan kelima warung HIK tersebut justru menurun. Diperkirakan sebagian besar pengunjung enggan berkunjung karena khawatir bahwa perubahan penampilan tersebut berpengaruh pada harga makanan. Grafik pada tabel 4. Menunjukkan bahwa pada minggu awal pelaksanaan program, tingkat pendapatan pada kelima warung HIK tersebut mengalami penurunan. Beberapa pedagang juga sempat putus asa dan hampir menghentikan program tersebut.

Pada minggu awal pelaksanaan program, keuntungan total yang diperoleh dari kelima warung HIK tersebut hanya sebesar Rp. 2.640.000. Namun pada minggu selanjutnya jumlah pendapatan ternyata justru naik secara pesat (lihat tabel 4). Para pengunjung sudah berani berkunjung dan menjadi pelanggan setelah merasakan kenyamanan dari warung HIK. Total keuntungan yang diperoleh selama satu bulan pelaksanaan program tersebut mencapai Rp. 20.890.000, padahal modal awal yang digunakan untuk perubahan kelima warung HIK tersebut hanya Rp. 3.000.000.

Tabel 4. Pendapatan warung HIK sebelum dan sesudah penelitian

Keterangan:

  1. Data diatas menggunakan satuan angka (dalam puluhan ribu)
  2. Pendapatan warung HIK dalam satu minggu

Penelitian diatas menunjukkan bahwa warung HIK yang dikelola dengan baik dan memperhatikan tingkat kebersihan akan berdampak baik pada tingkat pendapatan, lebih dari itu berdampak pula pada tingkat kesehatan. Hanya saja, perbaikan tersebut tidak dapat terjadi secara tiba-tiba. Masyarakat dan pedagang HIK tetap saja membutuhkan pembinaan terkait kebersihan makanan.

Pembinaan tersebut tidak hanya sekedar berupa himbauan moral saja, prinsip-prinsip cinta kebersihan harus diterjemahkan dalam aksi dan nyata. Himbauan moral saja tidak banyak berarti tanpa sebuah gerakan.

Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan membentuk sebuah asosiasi yang berfungsi untuk membina para pedagang warung HIK. Pembinaan tersebut meliputi semua aspek, mulai dari kebersihan makanan, kebersihan warung, pelayanan konsumen, hingga masalah keuangan.

Dalam hal ini, kami mencoba untuk mendirikan sebuah asosiasi yaang bernama “Waroeng HIK Maknyuss”. Nama tersebut dipilih karena sudah cukup familiar dengan kondisi masyarakat terutama penggemar kuliner sehingga mudah untuk diingat. Selain itu, kata “Maknyuss” biasa digambarkan untuk menyampaikan suatu kekaguman terhadap suatu kenikmatan, tidak hanya berupa makanan tetapi juga kenyamanan dan sejenisnya.

Adapun kata “Waroeng” digunakan sebagai identitas budaya yang membedakan antara warung HIK dengan berbagai jenis warung makanan siap saji lainnya. Asosiasi ini bertugas untuk memberikan pembinaan terhadap para pedagang warung HIK, diutamakan dalam hal kebersihan. Kegiatan yang dilakukan antara lain melakukan pembenahan warung HIK yang masih dalam kondisi kurang bersih dan cukup kumuh.

Para pedagang warung HIK yang ingin mendapatkan pembenahan diwajibkan untuk ikut menjadi anggota dan membayar iuran anggota. Besarnya iuran anggota ditentukan sesuai dengan tingkat kebutuhan masing-masing pedagang dengan jumlah antara Rp. 3.000 hingga Rp. 5.000 per hari. Dana hasil iuran tersebut nantinya akan digunakan untuk membeli berbagai perangkat yang terkait dengan kebersihan dan kenyamanan warung masing-masing.

Iuran tersebut bertujuan agar asosiasi ini tumbuh secara mandiri tanpa tergatung pada instansi apapun. Jika terdapat anggota yang sudah berhasil dalam mengembangkan warung HIK, maka tetap dikenai iuran anggota. Dana tersebut akan tersimpan sebagai dana cadangan dan digunakan untuk melaksanakan berbagai program kegiatan “Warung HIK Maknyus”.

Didalam asosiasi ini terdapat sejenis lembaga penjamin mutu kualitas HIK warung HIK. Lembaga ini bertugas untuk mematau secara rutin perkembangan warung HIK anggota, serta mencarikan solusi apabila terdapat permasalahan terkait kebersihan warung HIK. Bagi anggota asosiasi yang sudah memenuhi standar kebersihan dan kenyamanan warung HIK sesuai dengan ketentuan, akan mendapat sertifikat “Waroeng HIK Maknyuss” dan mendapat spanduk sertifikasi seperti tertera di gambar 1.

Gambar 1. Desain Spanduk “Waroeng HIK Maknyuss”

Sertifikasi tersebut bertujuan untuk memudahkan konsumen dalam mencari warung HIK yang bersih dan berkualitas, baik dari segi makanan, lingkungan maupun pelayanan. Jika hendak mencari HIK berkualitas dan terstandar, maka konsumen cukup mencari warung HIK yang bertuliskan “Waroeng HIK Maknyuss” saja. Dengan sertifikasi tersebut diharapkan agar para pedagang warung HIK saling bersaing dalam hal kebersihan dan kenyamanan warung. Persaingan sehat tersebut diharapkan dapat menjadi pemacu tumbuhnya makanan-makanan yang murah, sehat dan bergizi.

Sertifikasi ini dilakukan oleh pihak akademisi dan praktisi yang terkait dengan ilmu kesehatan dan ilmu kemasyarakatan. Para pedagang warung HIK bertugas sebagai pengamat dan pengawas jika terjadi pelanggaran atau ketidakpuasan di antara sesama warung HIK, mengingat asosiasi ini dibangun berlandaskan prinsip, “Dari HIK, Oleh HIK dan Untuk HIK”. Sertifikasi berlaku selama 6 bulan dengan dikontrol secara rutin.

Jika terwujud, keberadaan asosiasi ini sebenarnya sangat bermanfaat bagi pemerintah daerah karena mendukung pelestarian kebersihan dan keindahan kota. Asosiasi ini telah mencoba untuk membangun sebuah paradigma baru bahwa warung HIK yang bersih dan tertata lebih disukai konsumen daripada warung HIK yang kumuh dan tidak tertata dengan baik.

Sementara itu, jika pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan terkait dengan pedagang kaki lima atau warung HIK, maka cukup berunding dan melakukan sosialisasi dengan pengurus “Waroeng HIK Maknyuss”. Asosiasi ini dapat menjadi penghubung antara pemerintah daerah dengan pedagang warung HIK. Peran dan bantuan pemerintah daerah terhadap asosiasi ini sangat diperlukan agar terjadi kedekatan emosional antara pedagang warung HIK dan pemerintah daerah sehingga dapat mencegah terjadinya kesalahpahaman diantara keduanya.

Kedepan, tidak menutup kemungkinan jika konsep ini diterapkan pula di berbagai jenis pedagang kaki lima (PKL) lainnya. Mengingat semakin besarnya jumlah PKL yang ada di Indonesia saat ini, maka aksi penggusuran dan penertiban yang selama ini sering dilakukan di berbagai daerah sudah tidak relevan lagi untuk digunakan karena bersifat destruktif.

Langkah alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan membangun asosiasi penjamin standar kualitas sebagaimana diatas. Pembinaan tersebut menjadi wujud kegiatan yang positif dan solutif dalam menangani permasalahan ekonomi yang semakin kompleks saat ini. Solusi ini merupakan solusi yang konstruktif, murah dan mudah diaplikasikan diberbagai wilayah di Indonesia.

KESIMPULAN

Kota Surakarta merupakan salah satu kota yang memiliki jumlah PKL yang sangat besar. Jumlahnya mencapai 6.800 buah, dari jumlah tersebut, 1.238 diantaranya adalah warung HIK. HIK (Hidangan Istimewa Kampung) tergolong PKL kategori makanan siap saji yang menyediakan berbagai jenis makanan untuk masyarakat kalangan menengah kebawah. Namun dalam perkembangannya, HIK semakin berkembang dan mulai memasuki kalangan menengah keatas.

Sayangnya, kondisi sebagian besar warung HIK cukup memprihatinkan terutama dalam masalah kebersihan. Diperlukan perbaikan dan pembinaan terhadap pedagang HIK, kami mencoba untuk melakukan penelitian partisipatoris yang melibatkan 5 buah warung HIK. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa tingkat kebersihan ternyata sangat berpengaruh terhadap tingkat penghasilan.

Belajar dari permasalahan tersebut, kami berinisiatif untuk mengadakan sebuah Asosiasi yang bernama “Waroeng HIK Maknyuss”. Asosiasi ini bertugas untuk membina para pedagang warung HIK dalam hal menjaga kebersihan dan membudayakan hidup bersih. Konsep asosiasi ini menyerupai koperasi karena setiap anggota diwajibkan untuk membayarkan iuran anggota, hanya saja yang membedakan adalah asosiasi ini memiliki lembaga yang bertugas untuk melakukan standarisasi kebersihan dan kenyamanan sebuah warung HIK.

Standarisasi tersebut dilakukan oleh akademisi bidang kesehatan dan masyarakat serta diawasi oleh sesama pedagang warung HIK. Bagi warung yang telah lolos uji sertifikasi akan mendapat standar “Waroeng HIK Maknyuss” berlaku selama 6 bulan dan dikontrol secara intensif.

Hal tersebut dimaksudkan agar warung HIK dapat lebih tertata, lebih bersih dan jauh dari kesan kumuh yang selama ini sudah melekat. Kedepan, diharapkan asosiasi semacam ini tidak hanya berlaku pada warung HIK tetapi juga pada berbagai jenis PKL lainnya sehingga kehadiran PKL tidak lagi dianggap mengganggu keindahan kota dan sadar akan kebersihan.

DAFTAR PUSTAKA

Alisjahbana. 2005. Marjinalisasi Informal. Yogyakarta: LaksBang PRESSindo

Herlianto. 1986. Urbanisasi dan Pembangunan Kota. Bandung: Penerbit Alumni.

ILO. 2002. Restructuring the Social Security Scheme in Indonesia (Issues and Options). Jakarta: International Labour Office.

Rahayu, Sri. 2005. Aplikasi SPSS 12.00 Riset Pemasaran.Bandung: Alfabeta.

Rukayah, Siti. 2005. Simpang Lima Semarang Lapangan Kota dikepung ritel. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Surya, Octora Lintang. 2006. Kajian Karakterisitik Berlokasi Pedagang Kaki Lima di Kawasan Sekitar Fasilitas Kesehatan (Studi Kasus: Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang). Tugas Akhir tidak diterbitkan. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.

Usman, Sunyoto. 2006. Malioboro. Yogyakarta: PT Mitra Tata Persada.

Widjajanti Retno. 2000. Penataan Fisik Kegiatan Pedagang Kaki Lima pada Kawasan Komersial di Pusat Kota (Studi Kasus: Simpang Lima Semarang).

Yudanto, Noor. 1998. Dampak Krisis Moneter terhadap sektor riil.Jakarta: BI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: