Posts tagged EFTA

Perbedaan Antara Uni Eropa denga EFTA

BAB I

PENDAHULUAN 

Latar Belakang

Selama ini bayak terjadi salah penafsiran terkait dengan perbedaan antara Uni Eropa dengan European Free Trade Area (EFTA). Banyak yang beranggapan bahwa Uni Eropa sama dengan EFTA, anggapan ini didasarkan pada konsep pasar tunggal yang dimiliki oleh Uni Eropa sehingga setiap anggota Uni Eropa dapat digolongkan sebagai anggota EFTA.

Sebenarnya jika kita melihat jumlah anggota antara Uni Eropa dengan EFTA, kita dapat langsung mengetahui perbedaan nyata diantara keduanya. Uni Eropa memiliki anggota yang berjumlah 27 negara meliputi; Austria, Belgia, Bulgaria, Cyprus, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Irlandia, Italia, Latvia, Lithuania, Luksemburg, Malta, Belanda, Polandia, Portugal, Romania, Slowakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, dan Inggris. Sedangkan EFTA hanya beranggotakan 4 negara, yakni; Swiss, Liechtensetein, Norwegia dan Eslandia.

Keempat negara EFTA tersebut bukanlah anggota Uni Eropa, keempat negara tersebut juga tidak menerapkan pasar tunggal sebagaimana yang terdapat di Uni Eropa. EFTA hanyalah organisasi internasional yang mengatur tentang masalah pasar bebas, bukan pasar tunggal jadi tidak dapat disamakan dengan Uni Eropa. Namun bukan berarti EFTA tidak memiliki hubungan dengan Uni Eropa, organisasi ini dapat disebut sebagai kepanjangan tangan dari kepentingan Uni Eropa. Bahkan sebagian besar mantan anggota EFTA kini sudah diterima sebagai anggota EFTA seperti Portugal, Spanyol, Swedia, Denmark dan Austria.

Rumusan Masalah

Membahas measalah perbedaan antara Uni Eropa dengan EFTA memang bukan hal yang mudah karena dalam hal ini kita membutuhkan ketelitian dalam membedakan diantara keduanya. Namun dalam makalah ini, kami akan mencoba untuk mengupas pertanyaan “Apa saja perbedaan yang dimiliki oleh Uni Eropa dan European Free Trade Area (EFTA)?”

BAB II
PEMBAHASAN
 

Sekilas tentang Uni Eropa

Uni Eropa merupakan sebuah organisasi regional yang mengatur tentag masalah ekonomi dan politik di Eropa. Organisasi ini awalnya didirikan oleh 6 negara yakni Belanda, Luksemburg, Belgia, Jerman, Italia, dan Perancis. Awalnya pembentukan organisasi ini bertujuan untuk membentuk komunitas perdagangan khusus di bidang besi dan tambang.

Organisasi yang didirikan pada tahun 1958 ini ternyata semakin berkembang pesat dan menunjukkan perkembangan ekonomi yang sangat baik sehingga mengundang banyak negara untuk bergabung kedalam organisasi tersebut. Sebelum menjadi Uni Eropa, organisasi ini bernama European Steel and Coal Community, kemudian berubah menjadi European Economic Community (Masyarakat Ekonomi Eropa) dan akhirnya berubah menjadi Uni Eropa.

Jumlah anggota yang awalnya hanya 6 negara, kini berkembang menjadi 27 negara yaitu; Austria, Belgia, Bulgaria, Cyprus, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Irlandia, Italia, Latvia, Lithuania, Luksemburg, Malta, Belanda, Polandia, Portugal, Romania, Slowakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, dan Inggris.

Perkembangan pesat yang terjadi pada Uni Eropa ini disebabkan karena mereka menerapkan sistem ekonomi yang sangat baik. Diantaranya berupa penerapan pasar tunggal, konsep ini membuat pergerakan barang, jasa, manusia dan uang di Uni Eropa menjadi sangat bebas. Diantara sesama negara anggota Uni Eropa sudah tidak terdapat lagi batasan ataupun kedaulatan sehingga membuat mereka semakin mudah dalam bertransaksi ekonomi. Konsep inilah yang membuat Uni Eropa menjadi sangat maju dan modern.

Setiap negara yang ingin menjadi anggota Uni Eropa harus bersedia menerapkan aturan tersebut. Mereka tidak boleh memberikan batasan terhadap sesama negara anggota Uni Eropa. Pintu perdagangan harus dibuka selebar-lebarnya agar barang, jasa, manusia ataupun keuanga dari negara anggota Uni Eropa lainya dapat mengalir dengan cepat tanpa terhambat apapun.

Bagi negara yang sudah agak maju, konsep yang ditawarkan oleh Uni Eropa tersebut tentunya sangat menarik karena dapat meningkatkan perdagangan mereka dan membuat perekonomian mereka menjadi lebih maju. Akan tetapi, untuk negara yang masih dalam tahap berkembang ataupun terbelakang, konsep tersebut tentunya justru akan merugikan negeri sendiri karena dapat menyebabkan pengusaha lokal kalah dalam persaingan di pasar global yang terlalu bebas.

Sekilas tentang EFTA

Konsep pasar tunggal yang ditawarkan oleh Uni Eropa ini memang sangat neo liberalisme sehingga membuat banyak negara eropa yang masih berkembang menjadi berpikir ulang untuk bergabung kedalam Uni Eropa. Padahal negara berkembang tersebut sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk dapat menjadi semakin maju. Solusi untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan membentuk sebuah organisasi regional di eropa yang tidak menggunakan konsep pasar tunggal tetapi setingkat dibawahnya yaitu pasar bebas.

Beberapa negara berkembang di Uni Eropa yang terdiri dari 6 negara; Spanyol, Portugal, Swedia, Denmark, Swiss dan Austria bergabung dan membentuk suatu organisasi regional yang bernama European Free Trade Area (EFTA) pada tanggal 3 Mei 1960.  Keenam negara ini berkomitmen untuk membentuk sebuah area perdagangan bebas yang berfungsi untuk mengurangi hambatan perdagangan diantara sesama anggota.

Kinerja EFTA ini ternyata terbukti sangat efektif dalam memajukan perdagangan dan perekonomian di keenam negara tersebut. Semua anggota EFTA saat itu berubah dari negara berkembang menjadi negara maju. Mereka mendapat tawaran untuk bergabung dengan Uni Eropa. Hampir semuanya bergabung kedalam Uni Eropa dan melepaskan keanggotaan di EFTA. Hanya Swiss yang tetap tidak mau bergabung dengan Uni Eropa karena rakyatnya masih menyatakan tidak setuju untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Finlandia juga pernah bergabung kedalam organisasi regional ini pada tahun 1986 dan berhasil membuat kemajuan yang sangat pesat di bidang ekonomi, hingga akhirnya pada tahun 1995 Finlandia berhasil menjadi anggota Uni Eropa. Tidak lagi sekedar menerapkan konsep pasar bebas tetapi berkembag menjadi pasar tunggal yang mencakup seluruh anggota Uni Eropa. Saat ini di EFTA hanya tersisa 4 negara yang menjadi anggota yakni; Swiss, Liechtensetein, Norwegia dan Eslandia. Keempat negara tersebut saat ini juga sudah menjadi negara maju, bahkan Eslandia sudah akan diangkat menjadi anggota di Uni Eropa.

Perbedaan antara Uni Eropa dan EFTA

Setelah membaca secara sekilas antara Uni Eropa dan EFTA diatas, ada beberapa hal yang dapat kita tarik untuk dijadikan perbedaan antara Uni Eropa dan EFTA. Perbedaan yang paling menonjol adalah Uni Eropa menerapkan konsep pasar tunggal sedangkan EFTA menerapkan konsep pasar bebas. Selain itu, anggota Uni Eropa sebagian besar berasal dari negara maju sedangkan anggota EFTA berasal dari negara berkembang.

Namun Uni Eropa dan EFTA juga memiliki berbagai persamaan, diantaranya adalah keduanya merupakan organisasi regional di Eropa. Selain itu  EFTA memiliki hubungan yang baik dengan Uni Eropa. Dapat diibaratkan bahwa negara berkembang yang ingin masuk kedalam Uni Eropa harus masuk kedalam EFTA terlebih dahulu agar bisa beradaptasi dengan perekonomian Uni Eropa.

Mereka yang ingin menerapkan kebijakan pasar tunggal harus belajar untuk menerapkan pasar bebas terlebih dahulu agar tidak mengalami kesulitan dalam keanggotannya di Uni Eropa. Negara yang berhasil menerapkan konsep EFTA dan pasar bebasnya dengan baik maka dapat naik kelas ke tingkat Uni Eropa yang memiliki konsep lebih liberal lagi yakni berupa pasar tunggal.

PENUTUP 

Kesimpulan

  1. Perbedaan utama antara EFTA dengan Uni Eropa adalah konsep pasar yang digunakan, EFTA menggunakan konsep pasar bebas sedangkan Uni Eropa menerapkan konsep pasar tunggal.
  2. EFTA beranggotakan negara berkembang sedangkan Uni Eropa beranggotakan negara maju.
  3. EFTA dan Uni Eropa sama-sama merupakan organisasi regional Eropa.
  4. EFTA dapat dianggap sebagai area latihan bagi negara-negara Eropa yang ingin masuk kedalam Uni Eropa.

Comments (1) »

%d blogger menyukai ini: