Proses Penerimaan Turki dan Montenegro di Uni Eropa

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mengapa Turki tidak kunjung menjadi anggota Uni Eropa? Padahal Turki sudah mencalonkan diri untuk menjadi anggota sejak tahun 1987, namun hingga 20 tahun berlalu negara ini tidak kunjung diterima secara resmi menjadi anggota Uni Eropa. Benarkah Turki hanya akan menjadi calon abadi bagi Uni Eropa?

Pertanyaan ini begitu banyak diajukan oleh berbagai kalangan setiap kali melakukan pembahasan tentang masalah kontemporer di Uni Eropa. Hal ini memang wajar untuk dipertanyakan mengingat diantara sekian banyak negara yang melamar untuk menjadi anggota Uni Eropa hanya Turki yang prosesnya masih berlarut-larut dan diwarnai oleh beragam aksi politis

Beberapa pihak menyebutkan bahwa Turki tidak dapat masuk kedalam Uni Eropa karena merupakan negara yang mayoritas penduduknya muslim. Benarkah? Tidak juga, mari kita bandingkan dengan Kosovo dan Albania atau dengan Bosnia dan Herzegovina, negara yang juga mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Keempat negara yang baru merdeka ‘kemarin sore’ ini sudah mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Alasan agama sepertinya tidak dapat dijadikan sebagai alasan penyebab terhambatnya Turki masuk kedalam Uni Eropa. Beberapa pihak lain menyebutkan bahwa Turki tidak dapat masuk kedalam Uni Eropa karena secara geografis negara ini tergolong sebagai negara Asia. Pertanyaannya, jika memang Turki dianggap sebagai negara Asia, mengapa Uni Eropa masih membuka peluang untuk bernegosiasi? Mengapa Uni Eropa tidak menolak begitu saja seperti yang mereka lakukan saat Maroko melamar untuk masuk Uni Eropa?

Rumitnya proses yang dialami oleh Turki ini sangat berbeda dengan proses yang dialami oleh Montenegro. Negara yang baru merdeka pada tahun 2006 ini sudah mendapat tawaran untuk bergabung kedalam Uni Eropa. Proses yang dialami oleh Montenegro pun tebilang cukup singkat, hanya dalam waktu 3 tahun sudah ditetapkan menjadi calon kandidat Uni Eropa.

Padahal jika kita melihatdari segi GDP, Montenegro jauh tertinggal jika dibadingkan dengan Turki. Jumlah GDP Turki mencapai $ 1.040.275 juta,[1] sedangkan Montenegro hanya sebesar $ 6.944 juta. Sangat jauh jika kita memperbandingkan keduanya secara ekonomi. Selain itu pasar di Turki tentunya jauh lebih besar dari Montenegro. Turki dengan luasnya mencapai 783.562 Km2 dan jumlah penduduk mencapai 78.785.548 orang, sedangkan Montenegro luas wilayahnya hanya sebesar 13.812 Km2 dan jumlah penduduk sekitar 84.736 orang saja. Perbandingannya tidak mencapai 0,001 persen, jauh lebih besar Turki.

Rumusan Masalah

Kembali ke pertanyaan awal, lantas dengan segala potensi yang ada mengapa Turki tidak kunjung diterima di Uni Eropa? Mengapa Montenegro dapat dengan mudah diterima di Uni Eropa Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, kami mencoba untuk mengangkat tema “Proses Penerimaan Negara Anggota Baru di Uni Eropa” dengan studi kasus di negara Turki dan Montenegro.

BAB II
PEMBAHASAN
 

Keanggotaan di Uni Eropa

Satu hal yang perlu dipahami sebelum membahas tentang masalah keanggotaan di Uni Eropa adalah perihal supranasional. Banyak kalangan yang masih menganggap bahwa Uni Eropa merupakan organisasi supranasional yang berada diatas semua negara anggotanya. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar karena negara yang menjadi anggota di Uni Eropa masih memiliki kedaulatan sendiri. Uni Eropa bukanlah negara federal yang menganggap anggotanya sebagai negara bagian dan harus patuh sepenuhnya pada kebijakan pusat.

Setiap anggota Uni Eropa masih tetap memiliki kedaulatan dan segala aturan yang dibuat di Uni Eropa merupakan hasil kesepakatan bersama diantara sesama negara anggota. Konsep ini biasanya disebut sebagai “Pooling Souverignty” atau penggabungan kedaulatan.[2] Berbeda dengan organisasi internasional lainnya, Uni Eropa membuat kesepakatan bersama dan harus dipatuhi bersama pula. Bagi para pelanggar akan mendapat sanksi yang tegas bukan hanya sekedar sanksi moral saja seperti organisasi internasional lainnya.

Secara teori, syarat untuk dapat menjadi anggota Uni Eropa sebenarnya sangat mudah. Hanya ada tiga syarat yakni; Negara Demokratis, Menerapkan konsep pasar bebas, dan mampu serta bersedia menerapkan semua hukum yang ada di Uni Eropa.[3] Adapun terkait masalah geografis, apakah negara tersebut masuk kedalam wilayah eropa atau bukan, dinilai secara politis oleh lembaga di Uni Eropa. Jika negara tersebut memang layak untuk dianggap sebagai negara eropa maka akan dimasukkan kedalam kategori negara Eropa.

Namun pada prakteknya, sangat sulit untuk dapat menembus keanggotaan Uni Eropa. Mereka sangat selektif dalam memilih anggota, meskipun secara teori ketiga syarat tersebut sudah terpenuhi, akan tetapi jika secara politis tidak dapat diterima oleh Uni Eropa maka lamaran yang diajukan akan langsung ditolak. Sebagai contoh pada saat Uni Soviet runtuh, banyak negara bekas Uni Soviet yang menyatakan sikap untuk bergabung kedalam Uni Eropa namun sebagian besar ditolak. “Belarus terlalu otoriter, Moldova terlalu miskin, Ukraina terlalu besar, dan Rusia terlalu menakutkan bagi Uni Eropa.”[4]

Banyak alasan politis lain yang menjadi penghambat masuknya suatu negara kedalam Uni Eropa. Tetapi bukan berarti Uni Eropa selalu menghambat semua negara yang ingin menjadi anggotanya. Banyak pula negara yang diberikan tawaran untuk bergabung kedalam Uni Eropa, bahkan Kosovo yang notabene belum sepenuhnya dianggap sebagai negara merdeka sudah diberikan tawaran untuk bergabung kedalam Uni Eropa.[5]

Studi Kasus 1: Negara Turki

Dalam catatan sejarah, Turki memang selalu menunjukkan minat yang sangat besar untuk dapat bergabung dengan Uni Eropa. Besarnya minat ini ditunjukkan dengan bergabungnya Turki ke berbagai kegiatan yang ada di Eropa. Negara ini pernah menjadi anggota Council of Europe pada tahun 1949, kemudian menjadi associate member of European Union pada tahun 1963.[6]

Turki tidak hanya sekedar ‘ikut-ikutan’dalam kegiatan di Uni Eropa.  negara ini juga menjadi salah sau pendiri Organization for Economic Co-operation and Development[7] pada tahun 1961 dan juga Organization Security and Co-operation in Europe pada tahun 1971. Keaktifannya dalam berbagai kegiatan di Uni Eropa ini membuat Turki memberanikan diri untuk mengajukan lamaran menjadi anggota Uni Eropa pada tanggal 14 April 1987.

Sayang lamaran dari Turki ini tidak segera diterima oleh Uni Eropa karena ada beberapa perbedaan antara Turki dengan Uni Eropa terutama dalam hal masalah ekonomi sehingga Turki harus menyesuaikan diri terlebih dahulu. Namun Turki tidak patah semangat, bahkan semakin aktif menyesuaikan diri dan menarik simpati dari Uni Eropa. Turki menjadi anggota Western European Union pada tahun 1992, lalu aktif juga pada Western Union and Others Group (WEOG) di PBB. Usaha Turki ini ternyata membuahkan hasil dengan diundangnya Turki untuk menandatangani Customs Union Agreement pada tahun 1995.

Turki diundang pula pada Helsinki Summit of the European Council pada tanggal 12 Desember 1999 untuk membahas masalah kandidatnya sebagai anggota Uni Eropa. Pembahasan dilanjutkan kembali pada 3 Oktober 2005, namun berbagai pertemuan tersebut tidak kunjung membuahkan hasil.

Melihat perjuangan Turki untuk memasuki Uni Eropa tersebut, kita menjadi bertanya tentang kepentingan apa yang dimiliki oleh Turki hingga sedemikian semangat untuk masuk kedalam Uni Eropa. Meskipun berkali-kaki ditolak, namun berkali-kali pula Turki berusaha kembali.

Hasrat kuat Turki untuk dapat bergabung kedalam Uni Eropa didasari  karena masalah geopolitik. Jika Turki berhasil bergabung kedalam Uni Eropa, maka kekuatannya di tingkat regional akan menjadi semakin kuat karena memiliki kawasan ekonomi yang sangat luas[8] dan juga kekuatan militer yang sangat besar pula karena secara tidak langsung keanggotaannya di Uni Eropa akan memperkuat posisinya di NATO.[9] Posisi ini akan menjadi daya tawar Turki dalam menyelesaikan berbagai masalah yang ada di Timur Tengah dan sekitarnya.[10]

Sebenarnya, daya tawar yang dimiliki Turki tersebut dapat dimanfaatkan oleh Uni Eropa untuk turut serta dalam menyelesaikan konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah. Jika Turki menjadi anggota Uni Eropa, maka negara ini akan menjadi kepanjangan tangan Uni Eropa terutama dalam hal memperjuangkan kepentingannya di Timur Tengah.[11] Lantas dengan melihat potensi yang sedemikian besar, mengapa Uni Eropa tidak kunjung menerima Turki sebagai anggotanya?

Ada beberapa alasan yang membuat Uni Eropa masih enggan untuk menerima Turki. Pertama, Turki dianggap belum dapat menyesuaikan dengan peraturan yang ada di Uni Eropa. Dari 33 peraturan yang dimiliki oleh Uni Eropa, ada 11 peraturan yang belum dapat diterapkan di Turki.[12] Kondisi ini biasanya terjadi karena adanya perbedaan antara aturan nasional Turki dan Uni Eropa.

Kedua, Turki masih memiliki masalah politis dengan Uni Eropa yakni terkait dengan kasus Cyprus. Sebagaimana kita ketahui, pulau Cyprus yang terletak diatara Yunani dan Turki ini telah lama menjadi ajang perebutan diantara kedua negara. Keduanya saling mengklaim pulau tersebut, bahkan Turki secara sepihak mendirikan negara baru diatas pulau tersebut. Sikap Turki ini membuatnya banyak dikecam oleh negara anggota Uni Eropa.

Meskipun pada akhirnya diputuskan bahwa Cyprus dinyatakan sebagai negara merdeka yang bebas dari pengaruh Turki ataupun Yunani, namun kasus ini  tidak serta merta selesai begitu saja. Masih ada dendam lama yang ada didalam Yunani sehingga menghalangi Turki masuk ke Uni Eropa. Perdana Menteri Yunani, Kostas Karamanlis pada tahun 2006 sempat menyebutkan bahwa penerimaan Turki sebagai anggota baru hanya akan menimbulkan sesuatu yang disebut, “Full Compliance, Full Accession”[13] Turki sendiri masih tetap tidak mau mengalah dan menganggap bahwa Cyprus masih menjadi bagian dari Turki, bahkan hingga saat ini masyarakat Turki semakin banyak berdatangan ke Cyprus dan menguasai wilayah itu.

Dewan Komisi Uni Eropa mengkhawatirkan bahwa pemerimaan Turki sebagai anggota Uni Eropa aka menimbulkan perpecahan internal didalam oganisasi. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Presiden Komisi Uni Eropa, Jose Manuel Baroso yang mengatakan bahwa Turki belum siap untuk bergabung kedalam Uni Eropa, “Tomorrow nor after the day tomorrow.”[14] Namun peluang Turki untuk masuk ke Uni Eropa masih sangat terbuka.

Ketiga, masih banyak pertentangan pendapat diantara sesama anggota Uni Eropa terkait peluang masuknya Turki kedalam organisasi tersebut. Perdana Menteri Inggris, David Cameron sangat mendukung masuknya Turki kedalam Uni Eropa karena Turki telah memiliki banyak jasa terhadap Uni Eropa. ia mengatakan bahwa Uni Eropa tanpa Turki ibarat hati yang “not stronger but weaker, not more secure but less, not richer but poorer.[15]

Pendapat Cameron ini didukung pula oleh Perdana Menteri Spanyol Jose Luiz Rodriguez Zapatero yag juga sangat mendukung masuknya Turki kedalam Uni Eropa dan menegaskan bahwa “we must ‘open the door’ for Turkey to enter ‘the EU peace and cooperation project.” Dia juga menambahkan bahwa masuknya Turki kedalam Uni Eropa akan menguntungkan kedua pihak.[16]

Berbeda dengan Presiden Perancis, Nicholas Sarkozy yang cenderung menolak masuknya Turki karena menganggap Turki bukan Eropa tetapi lebih cenderung ke Asia. Turki hanya cocok untuk dijadikan sebagai partner Uni Eropa tetapi bukan sebagai anggota Uni Eropa.[17] Pendapat Sarkozy ini didukung pula oleh Angela Markel, Konselor Jerman yang mengatakan bahwa “Turkey could be in deep, deep trouble when it comes to its aspirations to join the European union.”[18] Permasalahan yang dimaksud oleh Merkel disini adalah konflik terkait masalah Cyprus antara Yunani dan Turki.

Dari sini sudah nampak jelas bahwa sulitnya Turki menembus penerimaan anggota baru di Uni Eropa lebih banyak disebabkan oleh alasan politis yang terjadi terkait masalah Cyprus. Seandainya Turki bisa menyesuaikan diri terhadap segala peraturan yang ada di Uni Eropa, belum tentu dapat menjadi jaminan bahwa Turki pasti akan diterima sebelum masalah Cyprus terselesaikan.

Studi Kasus 2: Negara Montenegro

Setelah membahas masalah proses penerimaan Turki yang terlalu berbelit-belit, kali ini kita akan mencoba untuk membahas masalah proses penerimaan Montenegro sebagai anggota Uni Eropa. Montenegro merupakan salah satu pecahan dari negara Yugoslavia, negara ini baru merdeka pada bulan Mei 2006.

Setelah Yugoslavia mengalami perpecahan, negara ini tidak lagsung merdeka. Sebelumnya negara ini bergabung dengan Serbia dengan nama Serbia and Montenegro. Barulah pada bulan Mei 2006 yang lalu diadakan referendum yang memilih antara tetap bergabung dengan Serbia atau berdiri sendiri. Ternyata sebagia besar rakyat Montenegro memutuskan untuk memerdekakan diri.

Meskipun negara ini baru merdeka, tetapi potensi perekonomian yang dimilikinya sangat besar, bahkan negara ini langsung dilirik oleh Uni Eropa dan diajak untuk bergabung kedalam organisasi tersebut. Tawaran tersebut dibuktikan dengan negosiasi yang dilakukan antara Uni Eropa dengan Montenegro pada tanggal 15 Maret 2007.[19] Salah satu poin penting dari hasil negosiasi tersebut adalah Montenegro harus membuat Stabilisation and Association Agreement[20] (SAA) dengan semua negara anggota Uni Eropa.

Pembuatan perjanjian ini bertujuan untuk memberikan jaminan kepada aggota Uni Eropa bahwa pemerintah Montenegro bekomitmen untuk memberikan stabilitas politik, ekonomi dan hak asai manusia di dalam negeri. Sehingga saat menjadi anggota Uni Eropa nantinya tidak akan muncul gejolak sebagaimaa yang pernah terjadi pada Yugoslavia tempo dulu. Dalam tempo singkat, pemerintah Montenegro berhasil membuat perjanjian dengan seluruh anggota Uni Eropa yang berjumlah 27 negara itu. Semua perjanjian SAA berhasil diselesaikan hingga tanggal 15 Oktober 2007.[21] Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Montenegro banyak dipercaya dan menujukkan keseriusan yang sangat tinggi sehingga dapat memperoleh perjanjian SAA dengan 27 negara dalam waktu yang cepat.

Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 15 Desember 2008, Montenegro secara resmi mengajukan proposal untuk menjadi anggota Uni Eropa.[22] Proposal tersebut dengan cepat dibahas Dewan Eropa dan Komisi Eropa, kemudian dirapatkan dengan seluruh anggota Uni Eropa. Hasilnya, pada tanggal 9 Desember 2009 Montenegro mendapat panggilan dari Uni Eropa untuk mengikuti tanya jawab dengan the Commission’s Questionnaire.[23]

Dalam tanya jawab tersebut, Montenegro mendapat masukan dari Uni Eropa untuk menyesuaikan aturan nasionalnya dengan aturan Uni Eropa terutama masalah hukum anti diskriminasi yang mencakup orientasi seksual dan identitas gender.[24] Selain itu dari 33 peraturan yang dimiliki oleh Uni Eropa, ada 11 peraturan yang harus disesuaikan.[25] Selebihnya tidak ada masalah.

Pada tanggal 17 Desember 2010, Montenegro resmi menjadi kandidat anggota Uni Eropa. Proses perekrutan yang tejadi di Montegero ini berlangsung dengan sangat cepat karena secara geografis Montenegro memang terletak di eropa sehingga tidak menimbulkan kontroversi antar anggota. Selain itu, Montenegro cenderung dekat dengan anggota Uni Eropa dan tidak memiliki masalah politik apapun sehingga proses perekrutannya dapat berlangsung dengan cepat tanpa dijegal oleh siapapun.

BAB III

PENUTUP 

Kesimpulan

Proses penerimaan negara anggota baru di Uni Eropa tidak bisa dinilai hanya dari segi ekonomi. Meskipun secara ekonomi potensi negara Turki jauh lebih besar diatas Montenegro, namun secara politik Turki memiliki banyak masalah dengan Uni Eropa sehingga proses masuknya Turki ke dalam Uni Eropa jauh lebih sulit dan rumit jika dibandingkan dengan Montenegro.

Masalah utama penyebab terhambatnya Turki untuk masuk kedalam Uni Eropa adalah terkait dengan masalah negara Cyprus yang menjadi konflik antara Turki dengan salah satu anggota Uni Eropa, Yunani. Turki dianggap telah mengokupasi negara tersebut, padahal Cyprus juga merupakan anggota Uni Eropa sehingga banyak anggota Uni Eropa yang menolak pencalonan Turki.

Adapun terkait dengan masalah sinkroniasi hukum antara Uni Eropa dengan Turki, dimana terdapat 11 hukum Turki yang belum sesuai dengan Uni Eropa tidak menjadi masalah penting karena Montenegro juga memiliki 11 hukum nasional yang belum sinkron dengan hukum Uni Eropa.

Saran

Tulisan ini masih memiliki kekurangan terutama dalam hal kajian masalah Cyprus. Dalam tulisan ini, pembahasan masalah Turki hanya terbatas pada Yunani saja tetapi belum mencakup peran Cyprus. Sehingga apabila ada penulis yang tertarik untuk mengamati masalah ini secara lebih mendalam, disarankan untuk fokus kedalam peran Cyprus terhadap masuknya Turki kedalam Uni Eropa.

Selain itu, kami juga memiliki keterbatasan dalam membahas masalah Mntenegro. Dalam tulisan ini kami belum membahas hambatan apa saja yang dialami oleh Montenegro dan bagaimaa hasil referendum yang dilakukan oleh Montenegro terhadap rakyatnya terkait masuknya negara tersebut ke Uni Eropa.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Ezel, Shaw, Stanford Jay; Kural Shaw. 1977. History of the Ottoman Empire and Modern Turkey. Cambridge University Press.

Öymen, Onur. 29 Juni 1999. My Country & NATO. NATO.

Mango, Andrew 2000. Ataturk. Cambridge University Press

Surat Kabar:

Anonim. 28 September 2006. Who is Losing Turkey. Economist.

Anonim. 27 Juli 2010. Cameron ‘anger’ at slow pace of Turkish EU Negotiations. BBC News.

Bhalla, Reva, Lauren Goodrich, Peter Zeihan. 19 Maret 2009.  Stratfor: Turkey and Russia on the Rise. Stratfor.

Cooper, Robert. 7 April 2002. Why we still need empires. The Guardian.

Ekman, Ivar. 11 Desember 2006. Top Swedish Official Backs Turkey for E., International Herald Tribune.

Friedman, George. 31 Juli 2007. Stratfor: The Geopolitics of Turkey. Stratfor.

Grabe, Heather. 29 April 2004. Ever Expanding Union?. Economist.

Panagopoulis. 18 Desember 2006. Karamanlis Hails EU’s ‘Historic’ Decision to Admit Bulgaria, Rumania. Greek News.

Zaman, Javno. 22 Juli 2007. Barroso says Turkey not ready for EU membership urges continued negotiations.  DPA, Reuters.

Lampiran 1. Tabel Sinkronisasi Peraturan Uni Eropa dan Turki

No.

Jenis Peraturan

Kondisi Sekarang[1]

1 Free Movement of Goods Dapat Menyesuaikan
2 Free of Movement for Workers Belum Menyesuaikan
3 Right Establishment For Companies and Freedom to Provide Services Belum Menyesuaikan
4 Free Movement of Capital Dapat Menyesuaikan
5 Public Procurement Belum Menyesuaikan
6 Company Law Belum Menyesuaikan
7 Intellectual Property Law Dapat Menyesuaikan
8 Competition Policy Dapat Menyesuaikan
9 Finacial Services Belum Menyesuaikan
10 Information Society and Media Dapat Menyesuaikan
11 Agricutural and Rural Development Belum Menyesuaikan
12 Food Safety, Veterinary and Phytosanitary Policy Dapat Menyesuaikan
13 Fisheries Dapat Menyesuaikan
14 Transport Policy Belum Menyesuaikan
15 Taxation Dapat Menyesuaikan
16 Energy Dapat Menyesuaikan
17 Economy and Monetary Policy Dapat Menyesuaikan
18 Statistics Dapat Menyesuaikan
19 Social Policy and Employment Belum Menyesuaikan[2]
20 Enterprise and Industrial Policy Dapat Menyesuaikan
21 Trans European Networks Dapat Menyesuaikan
22 Regional Policy and Coordination of Structural Instruments Dapat Menyesuaikan
23 Judicary and Fundamental Rights Belum Menyesuaikan
24 Justice, Freedom and Security Belum Menyesuaikan
25 Science and Research Dapat Menyesuaikan
26 Education and Culture Dapat Menyesuaikan
27 Environment Sulit Menyesuaikan
28 Consumer and Health Protection Dapat Menyesuaikan
29 Customs Union Dapat Menyesuaikan
30 External Relations Dapat Menyesuaikan
31 Foreign, Security, and Defence Policy Dapat Menyesuaikan
32 Financial Control Dapat Menyesuaikan
33 Financial and Budgetary Provisions Dapat Menyesuaikan
34 Institutions Tidak Ada Masalah
35 Others Issues Tidak Ada Masalah



[2] Dalam hal ini termasuk prinsip anti iskriminasi dan persamaan hak antara pria da wanita

 

Lampiran 2. Tabel Sinkronisasi Peraturan Uni Eropa dan Montenegro

No.

Jenis Peraturan

Kondisi Sekarang

1 Free Movement of Goods Belum Menyesuaikan
2 Free of Movement for Workers Dapat Menyesuaikan
3 Right Establishment For Companies and Freedom to Provide Services Dapat Menyesuaikan
4 Free Movement of Capital Dapat Menyesuaikan
5 Public Procurement Dapat Menyesuaikan
6 Company Law Dapat Menyesuaikan
7 Intellectual Property Law Belum Menyesuaikan
8 Competition Policy Dapat Menyesuaikan
9 Finacial Services Dapat Menyesuaikan
10 Information Society and Media Dapat Menyesuaikan
11 Agricutural and Rural Development Belum Menyesuaikan
12 Food Safety, Veterinary and Phytosanitary Policy Belum Menyesuaikan
13 Fisheries Belum Menyesuaikan
14 Transport Policy Dapat Menyesuaikan
15 Taxation Dapat Menyesuaikan
16 Energy Dapat Menyesuaikan
17 Economy and Monetary Policy Dapat Menyesuaikan
18 Statistics Belum Menyesuaikan
19 Social Policy and Employment Belum Menyesuaikan
20 Enterprise and Industrial Policy Dapat Menyesuaikan
21 Trans European Networks Dapat Menyesuaikan
22 Regional Policy and Coordination of  Structural Instruments Dapat Menyesuaikan
23 Judicary and Fundamental Rights Belum Menyesuaikan
24 Justice, Freedom and Security Belum Menyesuaikan
25 Science and Research Belum Menyesuaikan
26 Education and Culture Dapat Menyesuaikan
27 Environment Dapat Menyesuaikan
28 Consumer and Health Protection Dapat Menyesuaikan
29 Customs Union Dapat Menyesuaikan
30 External Relations Dapat Menyesuaikan
31 Foreign, Security, and Defence Policy Dapat Menyesuaikan
32 Financial Control Belum Menyesuaikan
33 Financial and Budgetary Provisions Dapat Menyesuaikan
34 Institutions Tidak Ada Masalah
35 Others Issues Tidak Ada Masalah

  


[2] Pendapat ini disampaikan oleh Robert Cooper dalam artikelnya di The Guardian dengan judul “Why we still need empires” pada tanggal 7 April 2002.

[3] Diambil dari ec.europa.eu, tanggal 30 Oktober 2010, diakses pada tanggal 7 Juni 2011.

[4] Heather Grabe dari Pusat Reformasi Eropa dalam artikelnya “Ever Expanding Union?” di Economist pada taggal 29 April 2004.

[5] Diambil dari reuters.com. Berita tanggal 23 April 2008, diakses pada 6 Juni 2011.

[6] European Information on Enlargementand Neihbours. Euractive.com. tanggal 23 September 2004. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011.

[7] Organisasi ini sebenarnya sudah mulai dirancang sejak tahun 1948, Turki menjadi salah satu dari 18 negara yang aktif dalam mendirikan organisasi ini.

[8] Stratfor: The Geopolitics of Turkey oleh George Friedman, pada 31 Juli 2007. Lihat juga tulisan Starour: Turkey and Russia on the Rise oleh Reva Bhalla, Lauren Goodrich, dan Peter Zeihan.

[9] Lihat tulisan Onur Oymen yang berjudul My Country and NATO. 26 Agustus 2008. Bandingkan dengan “Who is LosingTurkey?” Economist. 28 September 2006.

[10] Lihat buku Andrew Mango, 2008, Attaturk. Lihat juga Stanford Jay Shaw dan Kural Shaw, 1977, History of Ottoman Empire andModern Turkey, Cambridge University Press.

[11] Ivar Ekman, 11 Desember 2006, Top Swedish Official Backs Turkey for EU, International Herald Tribune. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011.

[12] Lihat Halaman Lampiran 1. Tabel Sinkronisasi antara Turki dan Uni Eropa.

[13] A. Panagopoulis, 18 Desember 2006, Karamanlis Hails EU’s ‘Historic’ Decision to Admit Bulgaria, Rumania, Greek News, diakses pada 2 Juni 2011.

[14] Barroso says Turkey not ready for EU membership urges continued negotiations, Javno Zaman, DPA, Reuters (Shouteast European Times), 22 Juli 2007

[15] Cameron ‘anger’ at slow pace of Turkish EU Negotiations, BBC News, 27 Juli 2010

[16] Harian La Mancloa, Spanish Government: Spain Supports Turkey’s candidature to the EU.

[19] Lihat http://ec.europa.eu/enlargement/montenegro/key_events_en.htm Artikel Enlargement Process – Montenegro Key Events dari website European Commission, diakses pada 2 Juni 2011.

[20] Stabilisation and Association Agreement (SAA) merupakan sebuah perjanjian yang berisi tentang jaminan kestabilan kondisi dalam negeri. Perjanjian ini biasanya dibuat oleh negara bekas pecahan Yugoslavia yang ingin bergabung dengan Uni Eropa. Jaminan yang diberikan meliputi masalah politik, ekonomi, perdagangan, dan hak asasi manusia

[21]  Lihat http://www.setimes.com/cocoon/setimes/xhtml/en_GB/features/setimes/features

/2006/12/28/ artikel Germany prepares to take over EU presidency dari web Southeast European Times, diakses pada tanggal 2 Juni 2011.

[22] Lihat: Lihat http://ec.europa.eu/enlargement/montenegro/key_events_en.htm Artikel Enlargement Process – Montenegro Key Events dari website European Commission.

[23] Lihat: http://www.b92.net/info/vesti/index.php?yyyy=2008&mm=11&dd=28&nav_category= 167&nav_id=331150, dalam artikel Ren: Kriminal Prepreka Crnoj Gori.

[24] Lihat: http://www.ilga-europe.org/home/news/for_media/media_releases/montenegro_ fulfils_eu_membership_requirement_and_protects_lgbt_people_from_discrimination.

[25] Lihat Lampiran 2. Tabel Sinkronisasi antara Uni Eropa dan Montenegro.

[27] Dalam hal ini termasuk prinsip anti iskriminasi dan persamaan hak antara pria da wanita

About these ads

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    @capricorn0angel said,

    Sangat bagus, terima kasih atas analisisnya.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: