Petungkriyono, “The Lungs of Us”

(Sebuah Model Pengembangan Desa Ekowisata Menjadi Go Internasional)

Oleh: Muh. Miftachun Niam dan Amelia Zailani Pertiwi

Latar Belakang

Dunia saat ini tengah mengalami Global Warming atau yang biasa disebut dengan istilah dengan Pemanasan Global. Pemanasan Global ini disebabkan oleh semakin meningkatnya jumlah karbon yang tidak diimbangi oleh kemampuan bumi untuk dapat menyerap dan mengubahnya menjadi Oksigen. Salah satu alternatif yang bisa digunakan untuk membantu menyerap karbon adalah dengan mempertahankan hutan. Hutan merupakan paru-paru dunia yang berfungsi untuk mempertahankan Oksigen Dunia dan mencegah terjadinya Pemanasan Global.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan hujan tropis terbesar di dunia (Whitmore and Sayer, 2002). Namun demikian kerusakan hutan tropis di Indonesia terus meningkat secara tajam. Perkiraan terbaru dari Departemen Kehutanan dan Perkebunan  kerusakan hutan primer yang disebabkan oleh penebangan dan perubahan fungsi mencapai 1.6 juta ha pertahun (Dephutbun, 2006).

Sebagian besar hutan di Jawa telah mengalami modifikasi, terutama sebagai   hutan tanaman atau hutan produksi yaitu seluas 1,949,000 ha dan sebagian terletak di Jawa Tengah yaitu seluas 579,186 ha (Perum Perhutani, 2003). Perubahan  struktur hutan dari hutan alam menjadi hutan tanaman diduga berdampak terhadap perubahan ekosistem yang pada akhirnya berdampak pada keragaman hayati flora maupun faunanya (Wagner, et al., 1998). Hutan alam , baik hutan primer maupun hutan sekunder, yang tersisa di Jawa Tengah tidak mencapai 10% dari luas total hutan dan hanya terdapat pada puncak gunung , kawasan lindung maupun daerah yang sulit dijangkau (Hartson, 2004). Dibanding dengan hutan tanaman, hutan alam mempunyai keragaman hayati yang lebih tinggi, sehingga informasi tentang peran hutan alam terhadap konservasi keragaman hayati masih perlu terus dikembangkan (Widhiono, 2003, 2004, 2005).

Hutan Petungkriyono termasuk dalam BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur memiliki luas 5189,507  ha, terdiri atas hutan Produksi Terbatas dengan Tanaman Pokok Pinus dan Hutan Alam Kayu Lain atau hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis (RPKH Pekalongan Timur, 2003). Petungkriyono berlokasi di lereng dari Ragajambangan di ketinggian 900 – 1600 m. dpl Kecamatan Petungkriyono memiliki luas 7.359 Ha yang terbagi menjadi 9 Kelurahan. Dari 7.359 Ha tersebut, 5.300 Ha atau 70 persen diantaranya masih berupa Hutan alami yang relatif terjaga dan di duga juga merupakan karakter hutan hujan tropis dan hutan primer (primary forest) yang tersisa di pulau Jawa, hutan di Petungkriyono memiliki kekayaan hayati yang bernilai tinggi, berupa flora dan faunanya.

Mengingat kondisi keragaman hayati yang terus menurun akibat kerusakan hutan (Diamond, 1999), maka kawasan hutan Petungkriyono yang masih merupakan hutan alam perlu dilestarikan. Namun demikian upaya konservasi keragaman hayati seringkali menghadapai hambatan terutama apabila dikonfrontasikan dengan kepentingan ekonomis. Konservasi keragaman hayati sangat bergantung pada nilai pentingnya, terutama nilai ekonomisnya bagi manusia (Vane-Wright, 2002). Oleh karena itu keberhasilan konservasi keragaman hayati harus ditunjang dengan upaya peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat umum.

Salah satu cara upaya konservasi keragaman hayati dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat umum adalah penerapan konsep ecotourism pada kawasan dengan keragaman hayati yang tinggi. Ecotourism adalah wisata yang berisi perjalanan ke wilayah dimana alamnya relatif masih bagus dan tidak terkontaminasi dengan tujuan khusus untuk studi, kesenangan, melihat dan memahami hewan dan tumbuhan liar serta kondisi budaya setempat. Pengembangan pariwisata dengan model ekowisata selain mampu memberikan keuntungan secara ekonomis juga mempunyai keuntungan lain antara lain sebagai basis konservasi kawasan hutan hujan tropis, investasi yang dibutuhkan sedikit dan mampu melibatkan masyarakat lokal. Apalagi jika Ekowisata tersebut dikembangkan melalui promosi yang menarik ke tingkat Internasional, Maka kawasan Ekowisata ini dapat menjadi tempat pariwisata tingkat Internasional. Keuntungan yang diperoleh pun dapat menjadi lebih banyak, tidak hanya sekedar menjadi paru-paru dunia tetapi juga menambah devisa negara dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Namun hal ini juga harus dimbangi dengan pengelolaan sarana dan prasarana yang baik agar ekowisata ini tetap terjaga dan tidak menjadi bumerang bagi kondisi kealamian Hutan Petungkriyono.

Berdasarkan pada pemikiran tersebut, kami tertarik untuk mengangkat Hutan Petungkriyono dan mempromosikannya melalui website dan webblog agar menjadi hutan yang dikenal secara Internasional dengan slogan ”Petungkriyono, The Lungs of Us” serta menjadikannya sebagai sebuah model pengembangan desa ekowisata agar dapat menjadi pelajaran bagi seluruh wilayah di Indonesia bahwa Hutan kita dapat menghasilkan keuntungan yang sangat besar hanya dengan perawatan dan manajemen yang baik tanpa harus merusak habitatnya.

Manfaat dan Tujuan

Manfaat dan Tujuan dari diadakannya kegiatan promosi dan pengelolaan ”Petungkriyono, The Lungs of Us” adalah:

  • Menjadikan Petungkriyono sebagai Model Pengembangan Desa Ekowisata menjadi Go Internasional
  • Memotivasi kawasan ekowisata yang serupa untuk dapat mengembangkan potensi daerahnya tanpa harus merusak kondisi alam sekitarnya
  • Meningkatkan Perekonomian masyarakat sekitar hutan Petungkriyono.
  • Membangkitkan kembali sektor pariwisata di Indonesia dan menambah devisa negara.
  • Mempromosikan Hutan Petungkriyono hingga tingkat Internasional secara efektif dan efisien,
  • Meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu yang didapat
  • Menambah pengalaman Mahasiswa bersosialisasi dengan masyarakat luas.

GAGASAN

Perum Perhutani, (2003) menyebutkan bahwa Sebagian besar hutan di Jawa telah mengalami modifikasi, terutama sebagai   hutan tanaman atau hutan produksi yaitu seluas 1,949,000 ha dan sebagian terletak di Jawa Tengah yaitu seluas 579,186 ha. Hutan alam , baik hutan primer maupun hutan sekunder, yang tersisa di Jawa Tengah tidak mencapai 10% dari luas total hutan dan hanya terdapat pada puncak gunung , kawasan lindung maupun daerah yang sulit dijangkau (Hartson, 2004). Antara tahun 1998 dan 2002, FAO memperkirakan terjadinya kerusakan hutan primer seluas 550.000 ha setiap tahunnya (Hurst, 2004). Perkiraan terbaru dari Departemen Kehutanan dan Perkebunan  kerusakan hutan primer yang disebabkan oleh penebangan dan perubahan fungsi mencapai 1.6 juta ha pertahun (Dephutbun, 2006). Perubahan  struktur hutan dari hutan alam menjadi hutan tanaman diduga berdampak terhadap perubahan ekosistem yang pada akhirnya berdampak pada keragaman hayati flora maupun faunanya (Wagner, et al., 1998).

Hutan Petungkriyono termasuk dalam BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur memiliki luas 5189,507  ha, terdiri atas hutan Produksi Terbatas dengan Tanaman Pokok Pinus dan Hutan Alam Kayu Lain atau hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis (RPKH Pekalongan Timur, 2003). Petungkriyono berlokasi di lereng dari Ragajambangan di ketinggian 900 – 1600 m. dpl Kecamatan Petungkriyono memiliki luas 7.359 Ha yang terbagi menjadi 9 Kelurahan. Dari 7.359 Ha tersebut, 5.300 Ha atau 70 persen diantaranya masih berupa Hutan alami yang relatif terjaga dan di duga juga merupakan karakter hutan hujan tropis dan hutan primer (primary forest) yang tersisa di pulau Jawa, hutan di Petungkriyono memiliki kekayaan hayati yang bernilai tinggi, berupa flora dan faunanya.

Luas masing-masing desa yang terdapat dalam kecamatan Petungkriyono sangat bervariasi antara 300 Ha hingga 1.450 Ha. Setiap desa terbagi menjadi 2 hingga 7 dusun. Setiap dusun terbagi lagi menjadi 4 hingga 17 RT. Hal ini tergantung dengan luas masing-masing Kelurahan. Kecamatan Petungkriyono juga memiliki total 175 Dasa Wisma. Kelurahan yang memiliki luas terbesar terletak pada Kelurahan Tlogohendro. Kelurahan ini memiliki luas 1.450 Ha dengan 7 Dusun, 17 RT dan 35 Dasa Wisma. Sebagaimana terdapat dalam tabel dibawah ini:

Tabel 2. Data Luas Wilayah Kecamatan Petungkriyono

No Nama Desa Luas ( Ha ) Dusun RW RT Dasa Wisma
1 Simego 963,000 5 5 13 22
2 Songgodadi 817,643 3 3 6 13
3 Curugmuncar 425,000 2 2 4 7
4 Gumelem 399,000 2 2 6 12
5 Tlogohendro 1.450,000 7 7 17 35
6 Yosorejo 1.145,500 5 5 12 25
7 Tlogopakis 951,180 7 7 14 31
8 Kasimpar 301,200 2 2 7 19
9 Kayupuring 906,000 6 6 11 20
Jumlah 7.358,523 39 39 90 175

Sumber: Kantor Kecamatan Petungkriyono

Gambar . Peta Kecamatan Petungkriyono

Keterangan: Peta kecil merupakan peta kabupaten Pekalongan, warna tebal menandakan lokasi kecamatan Petungkriyono.

Peta besar merupakan peta Kecamatan Petungkriyono

Hutan Petungkriyono sangat efektif apabila dijadikan sebagai salah satu tempat wisata hingga ke tingkat Internasional. Banyak potensi unggulan yang dimiliki oleh Hutan Petungkriyono seperti keindahan alam yang masih murni, hutan yang masih alami, dan keanekaragaman hayati. Hutan Petungkriyono dapat dijadikan sebagai media edukasi dan pengenalan masyarakat kepada Hutan agar dapat menumbuhkan rasa cinta lingkungan kepada masyarakat internasional. Apalagi saat ini Dunia tengah diguncang oleh permasalahan Global Warming sehingga mengangkat Hutan Petungkriyono sebagai paru-paru dunia atau dengan tema ”Petungkriyono, The Lungs of Us” dapat mengingatkan masyarakat dunia dan menggugah mereka untuk berkunjung ke Hutan Petungkriyono.

Untuk memperkenalkan dan mempromosikan Hutan Petungkriyono hingga ke tingkat Internasional secara efektif dan efisien, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melalui media web, baik berupa web blog maupun web site. Di tengah era globalisasi yang saat ini terjadi, media web ini merupakan sarana yang paling mudah untuk diakses oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Proses promosi pun dapat dilakukan dimana saja tanpa ada keterbatasan selama daerah tersebut masih terjangkau oleh jaringan internet.

Berdasarkan hipotesis diatas, kami mencoba membuat sebuah web blog dengan account petungkriyono.wordpress.com yang berisi tentang segala hal terkait hutan Petungkriyono. Halaman web blog, kami beri tampilan hutan lindung dan artikel yang kami tampilkan terdiri dari dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, hal ini bertujuan untuk menarik wisatawan regional dan Internasional. Setiap hari, kami selalu mempostingkan setidaknya satu tulisan. Penelitian dilakukan selama satu bulan dari tanggal 1 Januari 2010 hingga 1 Febuari 2010 dengan menggunakan tolok ukur jumlah statistik pengunjung yang mengunjungi web blog petungkriyono.wordpress.com serta jumlah komentar yang masuk dalam web blog ini. Dari usaha promosi melalui web blog yang dilaksanakan selama satu bulan dihasilkan sebagai berikut:

Tabel . Data Statistik Pengunjung webblog

No Minggu Pengunjung Komentar
1 Pertama 37 2
2 Kedua 88 2
3 Ketiga 186 6
4 Keempat 197 9
Total 508 19

Sumber: Stats Petungkriyono.wordpress.com

Total Jumlah Pengunjung yang mengunjungi halaman web blog petungkriyono.wordpress.com hingga minggu keempat mencapai 508. hal ini cukup baik mengingat web blog ini tergolong web blog baru sehingga belum begitu dikenal. Beberapa komentar yang sering muncul adalah tentang keunggulan apa saja yang terdapat dalam Hutan Petungkriyono dan bagaimana akses menuju Ekowisata tersebut.

Kemudian data yang berhasil diperoleh dari statistik web blog tersebut dibuktikan dengan kenyataan di lapangan melalui survey lapangan. Survei ini dilakukan di 2 pintu masuk menuju jalur utama Hutan Petungkriyono selama 3 hari dan berhasil mendapatkan 100 koresponden. Survei tersebut dilakukan menggunakan teknik wawancara. Adapun pertanyaan yang diajukan antara lain:

  1. Apa tujuan berpariwisata ke Hutan Petungkriyono ?
  2. Apa saja Keunggulan Hutan Petungkriyono?
  3. Obyek wisata apa yang ingin dikunjungi di hutan Petungkriyono ?
  4. Darimana anda mendapatkan informasi tentang Hutan Petungkriyono?
  5. Jika dari Internet, Web site apa saja ?
  6. Saran untuk pengembangan Hutan Petungkriyono ?

Dari keenam pertanyaan terkait hutan petungkriyono tersebut berhasil diperoleh jawaban bahwa sebagian besar (46 persen) pengunjung berwisata ke Hutan Petungkriyono untuk menikmati keindahan alamnya. Adapula yang berkunjung ke Hutan Petungkriyono dengan tujuan untuk berpetualang menjelajahi Hutan (29 persen). Menurut para wisatawan, keunggulan hutan petungkriyono adalah memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati seperti satwa langka yang sangat besar (68 persen) selain itu Hutan Petungkriyono juga menjadi daerah yang cukup menantang untuk dijelajahi (17 persen). Namun, sebagian besar responden ini (66 persen) justru tidak mengetahui tentang onjek wisata apa saja yang terdapat dalam hutan Petungkriyono ini, mereka hanya mengetahui bahwa Petungkriyono hanyalah sebuah hutan Ekowisata. Hanya ada 11 persen pengunjung yang telah memiliki rencana untuk mengunjungi curug muncar, sebuah tempat wisata di Hutan Petungkriyono.

Terkait sumber informasi, 37 persen koresponden mengaku memperoleh informasi dari teman atau saudara yang pernah berkunjung ke Petungkriyono, sedangkan 54 persen koresponden lainnya memperoleh informasi terkait hutan Petungkriyono dari internet. Saat ditanya nama web site yang memberi informasi tentang hutan petungkriyono, ada 68 persen yang menyebutkan account petungkriyono.wordpress.com sedangkan sisanya mengaku lupa. Para wisatawan (87 persen) berharap agar Pemerintah daerah maupun pemerintah pusat turut mempromosikan keunggulan Hutan Ekowisata Petungkriyono, sedangkan sisanya berharap agar Hutan Ekowisata Petungkriyono dilindungi oleh pemerintah.

Tabel. Hasil Survei

Tujuan Wisata Ke Hutan Petungkriyono?
Keindahan Alam Jelajah Hutan Jalan-jalan Tidak Jawab
46 % 29 % 14 % 11 %
Keunggulan Hutan Petungkriyono
Ragam hayati Jelajah Hutan Kondisi Alam Tidak Jawab
68 % 17 % 15 % 10 %
Obyek Wisata yang dituju
Tidak Jawab Curug Muncar Lain-lain
66 % 11 % 33 %
Sumber Informasi
Web Site (54%) Saudara Lain-lain

Petungkriyono.wordpress.com

(87 %)

Tidak Jawab 

 

(13 %)

37 % 8 %
Saran-saran
Peningkatan Promosi Konservasi Sarana
53 % 24 % 23 %

Berdasarkan hasil rangkaian kegiatan yang telah kami laksanakan, maka dapat kami gambarkan bahwa Hutan Petungkriyono memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan sebagai tempat pariwisata tingkat Internasional. Hanya saja untuk dapat mencapai ke tahap tersebut diperlukan langkah-langkah strategis seperti promosi pariwisata, pengembangan tata hutan, hingga persiapan sarana dan prasarana lainnya.

Hutan Petungkriyono perlu diselamatkan agar tetap alami dan tidak mengalami kerusakan yang lebih parah seperti beberapa hutan di kawasan yang lain Potensi besar yang dimiliki oleh Hutan Ekowisata Petungkriyono untuk menjadi tempat pariwiata tingkat internasional ini harus digali secara maksimal. Salah satunya adalah dengan mempromosikan melalui web site dan web blog. Media ini memiliki jangkauan yang sangat luas dan tidak terbatas. Selain itu, media ini juga memiliki tingkat efisiensi yang cukup besar serta dapat diakses oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun sehingga sangat efektif untuk digunakan dalam promosi Hutan Petungkriyono. Ada dua promosi yang harus digunakan dalam promosi ini , yakni promosi formal dan promosi informal.

Promosi Formal adalah Promosi yang dilaksanakan oleh website Lembaga Instansi Pemerintah. Promosi ini bertujuan untuk menyakinkan para calon wisatawan bahwa Ekowisata Petungkriyono ini merupakan ekowisata yang resmi dan dikelola oleh pemerintah sehingga setiap wisatawan baik regional maupun mancanegara akan mendapat perlindungan dari pemerintah baik berupa aspek keselamatan, kenyamanan maupun keamanan. Promosi Formal ini membutuhkan dukungan dari Pemerintah pusat, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Daerah.

Adapun Promosi Informal adalah Promosi yang dilaksanakan oleh website maupun web blog perorangan. Promosi ini bertujuan untuk membuat para calon menjadi tertarik untuk mengunjungi Hutan Ekowisata Petungkriyono. Promosi Informal ini tidak kalah pentingnya dengan Promosi Formal karena promosi informal pada umumnya menyediakan data-data yang lebih lengkap disertai dengan pengalaman-pengalaman yang pernah dialami didalam hutan Petungkriyono. Seringkali data yang disampaikan melalui Promosi Informal dianggap lebih jujur dan akurat daripada data Pemerintah.

Promosi Informal ini dapat digalakkan melalui berbagai lomba seperti Lomba berpetualang di Hutan Petungkriyono, Lomba Menulis di web Blog dengan tema ”Petungkriyono, The Lungs of Us”  dan Lomba menceritakan pengalaman di Hutan Petungkriyono yang menggunakan dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dengan tujuan agar promosi tersebut dapat diterima oleh semua jenis wisatawan baik wisatawan regional maupun wisatawan mancanegara.

Lomba Berpetualang di hutan Petungkriyono ini dilaksanakan dengan target peserta adalah para jurnalis dan wartawan dari berbagai media massa. Lomba ini secara tidak langsung merupakan sebagai bentuk kampanye mengajak masyarakat untuk berkunjung ke hutan Petungkriyono. Keterlibatan wartawan dan jurnalis dan wartawan dalam lomba ini merupakan salah satu strategi promosi ”Petungkriyono, The Lungs of Us” kepada media massa karena dengan melibatkan peran jurnalis dan wartawan secara langsung dalam petualangan ini, maka berita dan informasi yang muncul akan menjadi lebih beragam dan menarik karena telah terjadi pengalaman langsung dari para jurnalisdan wartawan tersebut.

Untuk lomba web dengan tema ”Petungkriyono, The Lungs of Us” ini terbuka untuk umum, web yang digunakan untuk lomba boleh berupa web pribadi, web instansi, web organisasi maupun web baru yang berasaldari domain gratis. Setiap web yang mengikuti lomba ini wajib mencantumkan tulisan-tulisan terkait dengan ”Petungkriyono, The Lungs of Us”. Penilaian dilaksanakan dengan mengetikkan ”Petungkriyono, The Lungs of Us” pada mesin pencari. Juara akan ditentukan oleh dua aspek, kemunculan pada mesin pencari dan banyaknya tulisan dalam web tersebut yang terkait dengan ”Petungkriyono, The Lungs of Us”. Dengan lomba ini diharapkan ekowisata Petungkriyono, The Lungs of Us semakin dikenal oleh dunia Internasional, semakin banyak web yang membahas tentang Petungkriyono, semakin mudah pula tema Petungkriyono ditemukan.

Adapun terkait lomba menulis tentang ”Petungkriyono, The Lungs of Us” dilaksanakan berdasarkan pembagian kelas tingkat SD, SMP, SMA, Mahasiswa hingga umum. Persyaratan umum dalam penulisan ini adalah tulisan harus berupa bahasa Indonesia dan Inggris. Tulisan dari para peserta lomba menulis ini kemudian dibukukan dalam berbagai tema seperti tema pengalaman, ilmiah, hingga cerita. Para peserta yang karyanya dimuat dalam buku-buku terkait ”Petungkriyono, The Lungs of Us” dengan berbagai tema inilah yang nantinya akan menjadi juara dalam lomba penulisan ini. Buku-buku yang dihasilkan dari lomba penulisan ini diharapkan dapat menjadi buku pokok dan referensi ilmiah sehingga memudahkan bagi kalangan akademisi yang ingin mengadakan pengamatan lebih lanjut terkait tentang hutan Petungkriyono. Selain itu, buku ini juga dapat dijual di daerah Ekowisata sebagai souvenir sehingga para wisatawan yang berkunjung ke Hutan Petungkriyono tidak hanya memiliki pengalaman menarik tetapi juga pengetahuan tentang Hutan Petungkriyono.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa promosi tentang hutan Petungkriyono ini harus diimbangi dengan perbaikan kondisi lapangan. Hal utama yang harus diperbaiki adalah perbaikan akses jalan menuju Hutan Petungkriyono, baik berupa infrastruktur jalan maupun alat transportasi penunjang lainnya. Selain itu, perbaikan lainnya adalah dengan melakukan perencanaan-perencanaan pengelolaan hutan Petungkriyono. Perencanaan-perencanaan tersebut antara lain dengan merencanakan pembangunan pos-pos penjaga hutan yang berfungsi sebagai pengawas, penjaga hutan dan pemberi bantuan baik informasi maupun medis kepada semua wisatawan yang membutuhkan. Misalnya adalah saat terjadi tanah longsor atau pohon tumbang, maka pos-pos penjaga bertugas untuk menginformasikannya kepada para wisatawan. Petugas jaga berwenang untuk menutup sementara hutan Petungkriyono apabila tengah terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatan para wisatawan.

Pos penjaga hutan ini terdiri dari tiga jenis, Pos Jungle Forest, Pos Penjaga Pintu, dan Pos Penjaga Hutan. Pos Jungle Forest merupakan Pos yang berfungsi sebagai tempat istirahat sementara para wisatawan. Pos ini diletakkan di tempat-tempat titik kelelahan. Disini perlu diperkirakan kemungkinan besar wisatawan akan kelelahan saat menjelajahi hutan, selain itu, Pos jungle Forest ini juga dapat menjadi titik patok penjelajahan Hutan sehingga para wisatawan dapat memperkirakan sejauh mana mereka berpetualang. Setidakna dibutuhkan 5 pos Jungle Forest dalam Hutan ini.

Pos Penjaga Pintu merupakan pos yang berfungsi sebagai penarik pajak pariwisata dan memberikan pengarahan tentang daerah-daerah yang sebaiknya dihindari serta hal-hal yang tidak boleh dilakukan agar tidak merusak hutan. Pos Penjaga Pintu juga bertugas untuk menyeleksi barang-barang yang dibawa keluar oleh para wisatawan, hal-hal yang dinilai merusak hutan seperti membunuh hewan-hewan langka yang terdapat dalam hutan dapat ditahan dan dipidanakan. Pos ini berwenang untukmenutup hutan petungkriyono apabila terjadi hal-hal yang membahayakan keselamatan wisatawan.

Pos Penjaga Hutan merupakan pos yang berfungsi sebagai pengontrol hutan dan menjadi pusat pertolongan pertama pada wisatawan. Setidaknya diperlukan 20 pos penjaga yang tersebar secara merata. Teknik yang dilakukan agar pos jaga ini tersebar secara merata dan berfungsi secara efektif adalah dengan memetakan Petungkriyono dan membagi kawasan ini menjadi 20 bagian. Perencanaan tata letak ini dilaksanakan dengan diawali pemetaan dan diikuti dengan terjun langsung ke lapangan. Di lapangan, mulai ditentukan beberapa tempat yang layak untuk dijadikan posko. Studi kelayakan ini didasarkan pada perkiraan kedekatan jarak pos dengan sumber daya primer (air, pangan dan obat-obatan) maupun sumber daya pendukung (listrik, akses menuju ke posko dan sebagainya).

Gambar . Peta beserta Perencanaan tata letak Pos Penjaga

Keterangan:

Tanda ’x’ menggambarkan posisi pos penjagaan hutan yang terletak di tengah hutan.

Tanda ’=’ menggambarkan  posisi pos penjagaan hutan yang terletak pada pintu masuk dan keluar.

Tanda ’y’ menggambarkan posisi rumah penduduk dan akses kebutuhan pokok.

Tanda ’v’ menggambarkan posisi Jungle Forest

Perencanaan lainnya adalah dengan membangun sebuah komunitas masyarakat Ekowisata Petungkriyono yang turut menjaga dan melestarikan hutan. Sehingga kondisi hutan Petungkriyono tetap terjaga dan alami, komunitas ini berbentuk lembaga yang dinaungi oleh pemerintah tingkat kecamatan dan berfungsi mengkampanyekan kelestarian hutan kepada internal penduduk. Komunitas ini mendapat pendanaan yang berasal dari pemasukan hasil Ekowisata serta mendapat pelatihan dari pemerintah kecamatan. Adapun terkait hal-hal yang menyangkut devisa, maka segala hal yang berkaitan dengan hutan Petungkriyono ini sepenuhnya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Pekalongan, Pemerintah Kecamatan Petungkriyono, dan Masyarakat penduduk Petungkriyono. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan semangat otonomi daerah dalam mengelola dan melestarikan hutan.

KESIMPULAN

Kawasan Hutan Petungkriyono memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dijadikan sebagai tempat Ekowisata tingkat Internasional. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan promosi yang kuat dan perbaikan sarana dan prasarana hutan. Promosi Hutan Petungkriyono dapat dilaksanakan dengan menggunakan website pemerintah dan berbagai lomba seperti lomba petualangan hutan petungkriyono yang diikuti oleh para jurnalis dan wartawan, lomba web Petungkriyono, hingga lomba menulis petungkriyono dalam bahasa Indonesia dan inggris. Kegiatan loma ini bisa diselenggarakan oleh siapapun, baik pemerintah, mahasiswa maupun sponsor, atau gabungan diantara ketiganya.

Perbaikan sarana dan prasarana hutan dapat dilakukan dengan membangun berbagai pos, seperti pos jaga hutan, pos pintu masuk dan pos jungle forest yang memiliki tugas dan fungsi sebagai pengontrol hutan, pengelola hutan, dan tempat istirahat. Pembangunan Pos-pos tersebut tidak memerlukan banyak biaya mengingat bentuknya yang hanya berupa pos kayu. Selain itu, juga pembentukan komunitas masyarakat Petungkriyono yang berfungsi untuk melestarikan hutan dan dalam implememntasinya diperlukan bantuan dari pemerintah daerah untuk mengelolanya. Sehingga dalam mewujudkan ”Petungkriyono, The Lungs of Us” ini dapat melibatkan semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah.

Solusi  diatas sangat mungkin untuk diterapkan mengingat hal-hal diatas sudah disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Selain itu, solusi diatas merupakan solusi yang efisien namun memiliki dampak yang sangat besar, tidak hanya bagi Ekowisata Petungkriyono, tetapi juga Ekowisata lainnya di seluruh Indonesia. Dengan demikian akan muncul cara pandang baru bahwa semakin kita merawat hutan semakin besar pula manfaat yang akan diperoleh.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia, 2006. Kondisi Hutan di Indonesia, Jakarta.

Harstson, G.S, 2004. Ecological Basis for Sustainable Development in Tropical Rain Forest. Annual Review in Ecology and Systematic, 26. 155-175

Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah, 2003. Rencana Pengelolaan dan Konservasi Hutan, Bagian Prencanaan Hutan, Salatiga.

Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur. 2003. Rencana Pengelolaan dan Konservasi Hutan 2003-2008, Bagian Prencanaan Hutan, Salatiga.

Vane-Wright, R.I, 2002. Identifying priorities for the Conservation of biodiversity. Blackwell  Science. London.

Wagner,R.G., Flynn, J., Gregory, R.,Metz,C.K. and Slovic, P. (1998). Acceptable practices in Ontario’s forest : differences between the public and forestry professionals. New Forester, 16, 139-154.

Whitmore, T.C. and Sayer, J.A. (2002). Tropical deforestation and species extintion. Chapman and Hall, London. 354 pp.

Widhiono, I, 2003. Impact of Forest Modification on Butterfly diversity along an Elevational Gradient at Slamet Lountain, Central Java, Indonesia. Cuvillier Verlag Gottingen

Widhiono, I. 2004. Dampak Modifikasi Hutan Terhadap Keragaman Kupu-Kupu di Gunung Slamet. Makalah Pada Seminar Nasional Konservasi Keragaman Hayati. Universitas Erlangga, Surabaya.

About these ads

7 Tanggapan so far »

  1. 1

    beoye berkata,

    aslkm, kak niam ^^
    salam kenal, saya Boy mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik..
    saya senang sekali membaca posting ini..
    kebetulan saya sedang mencari informasi mengenai ekowisata terkait skripsi yang sedang saya susun,, dan alhamdulillah saya bisa nyasar ke sini.. hehe
    kak niam, ada satu hal yang mengganjal pikiran saya, begini ; setelah model ekowisata diterapkan pada suatu lokasi katakanlah lokasi pariwisata, apakah umumnya retribusi untuk masuk ke wilayah tersebut cenderung dinaikan oleh pengelola lokasi pariwisata tersebut? Kemudian saya memerlukan data retribusi lokasi ekowisata tersebut untuk dianalisis, kira2 data tersebut bisa saya dapatkan di mana ya, kak? apakah saya harus datang langsung ke lokasi atau data tersebut juga tercatat di Kementrian Pariwisata dan Budaya?
    judul skripsi yang sedang saya susun “Analisis Dampak Ekonomi Terhadap Strategi Pengelolaan Ekowisata pada Tempat-Tempat Wisata di Indonesia”.
    kalau kak niam berkenan, boleh saya minta contact person nya kak niam, kalau kak niam bersedia (semoga bersedia,, amiinn.. hehe)
    mohon saran dari kak niam.
    makasih ya kak niam.
    wslkm.

    • 2

      kakniam berkata,

      sama2.. semoga membantu.. :D

    • 3

      kakniam berkata,

      kalau data retribusi, alangkah lebih baik jika kita langung terjun ke lapangan.. mengingat biasanya ada beberapa kendala jika kita hanya memperoleh data dari dinas terkait. beberapa kendala tersebut diantaranya adalah: (1) administrasi kurang tertib (2) terdapat penyelewengan di lapangan (3) seringkali ekowisata belum memiliki pos retribusi.

      • 4

        beoye berkata,

        kebetulan saya mau mencoba penelitian untuk melihat series retribusi pendapatan lokasi ekowisata seluruh indonesia, kalau saya turun ke lapangan untuk memastikan semua data itu, hoho,, tak sampe duit saya mas.. hehe
        kaarna itu saya bermaksud mencari data di kementrian budaya dan pariwisata. kira2 data nya ada di sana ga ya mas?

      • 5

        kakniam berkata,

        ooo… ekowisata seluruh indonesia?? apa tidak terlalu luas itu pembahasannya?? karena setahu saya, belum ada standarisasi ekowisata di Indonesia.. beberapa ekowisata (salah satunya Petungkriono) malah tidak menarik retribusi apapun.. ada lagi yang menarik retribusi tetapi atas nama pemerintah desa

      • 6

        beoye berkata,

        tapi saya akan berusaha dulu buat nyari di kementrian budpar, karna saya baca sudah ada undang2 mengenai retribusi..
        semoga saya sukses, ^^
        terimakasih informasi nya mas..

      • 7

        kakniam berkata,

        iya mas. semoga sukses selalu..


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: